Mohon tunggu...
Laila Muyasaroh
Laila Muyasaroh Mohon Tunggu... Lainnya - Long-life learner

Sedang Belajar Follow this account @pharmasharing & @blan_id

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Interaksi Dunia Maya: Jangan Lupakan Etika!

25 September 2020   12:53 Diperbarui: 25 September 2020   16:38 138
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: liveatpc.com

Era digitalisasi telah mempengaruhi sosial budaya masyarakat. Saat ini, berbagai aktivitas dapat dilakukan secara digital. Munculnya beragam media sosial, toko online, dan lainnya telah mempengaruhi perilaku masyarakat. Dahulu, interaksi sosial hanya dilakukan secara face-to-face atau pertemuan langsung tanpa bantuan telepon pintar atau laptop. Namun saat ini, interaksi dapat dilakukan secara virtual baik dalam bentuk komunikasi pesan atau secara tatap muka virtual. Tak hanya itu, aktivitas jual beli juga telah berubah menjadi jual beli online.

Dahulu, jika kita ingin membeli sesuatu, kita harus datang ke toko tersebut. Namun saat ini, kita dapat melakukan transaksi jual beli hanya dengan bantuan telepon pintar atau laptop. Berbagai aktivitas ini, tentu tidak lepas dengan yang namanya interaksi sosial. Dalam interaksi sosial di dunia maya, kita juga harus memperhatikan etika.

Sering kali kita temui di dunia maya khususnya media sosial, beberapa diantara mereka ada yang berkomunikasi dengan tidak mengindahkan etika, seperti menghujat, menggunakan bahasa yang tidak sopan dan sebagainya. Oleh karena itu, kita harus mulai membiasakan diri untuk menerapkan etika dalam berinteraksi dalam dunia maya.

Interaksi dunia maya tetaplah harus memperhatikan etika. Dalam berkomunikasi melalui sosial media, khususnya whatsapp, instagram,twitter, facebook dsb kita harus menggunakan bahasa yang sopan. Terlebih lagi, untuk mahasiswa terhadap dosen, bawahan terhadap atasan, anak terhadap orang tua, sesama teman dan sebagainya.

Dalam komunikasi via chat tersebut, terkadang kita lupa untuk menggunakan bahasa yang sopan. Bahasa dalam chat sering kali menimbulkan pemahaman yang berbeda. Makna chat tersebut dapat diartikan berbeda oleh pembaca. Bisa jadi pengirim telah membuat bahasa chat dengan sebaik mungkin dan sesopan mungkin. Namun, ketika penerima chat dalam keadaan badmood, marah dsb, isi chat tersebut dapat dianggap tidak sopan atau diartikan lainnya. Untuk mengantisipasi hal itu, kita bisa menerapkan komunikasi dalam dunia nyata ke dunia maya. Saat kita mulai berkomunikasi via chat terlebih dahulu kita mengucapkan salam, atau jika sudah akrab kita bisa dengan memanggil namanya. Setelah itu, kita baru menyampaikan maksud kita menghubungi mereka.

Etika komunikasi mahasiswa terhadap dosen atau bisa jadi bawahan ke atasan sering kali kurang menerapkan etika yang baik. Sebaiknya saat mahasiswa akan menghubungi dosen, terlebih dahulu menerapkan format chat ini yaitu salam, mohon maaf karena telah mengganggu waktunya, memperkenalkan diri (nama, angkatan, asal dll), menyampaikan maksud/tujuan dan mengucapkan terima kasih. Tak hanya itu, mahasiswa juga harus memilih kalimat yang tepat dan sopan sehingga tidak menimbulkan makna atau penerimaan yang berbeda.

Di masa pandemi ini, berbagai pertemuan tatap muka telah banyak diganti menjadi pertemuan virtual. Dalam pertemuan virtual kita juga harus menerapkan etika dan tata krama. Saat kita harus menampilkan wajah dalam pertemuan virtual tersebut, alangkah lebih baiknya kita memilih lokasi yang sekiranya tidak banyak orang berlalu-lalang di sekitar kita.

Misalnya, jika kita di rumah, kita harus memastikan bahwa tidak ada orang lain dalam keluarga kita yang ikut terekam wajahnya atau aktivitasnya. Kita bisa memilih latar belakang video yang baik dan enak dipandang, contohnya saja tembok. Selain itu, jika kita mengalami kendala atau gangguan, kita bisa mengucapkan mohon maaf kepada peserta lain. Dalam pertemuan virtual ini, kita juga harus menggunakan pakaian yang sopan, duduk dengan sopan dsb.

Aktivitas jual beli online juga harus menerapkan etika. Penjual dan pembeli harus tetaplah menerapkan komunikasi berbahasa yang baik meski dalam bentuk pesan. Beberapa hari yang lalu saya melihat ada salah satu pembeli di toko online tertentu memberikan komentar yang tidak baik dan memberi penilaian yang tidak baik terhadap toko tersebut. Sebenarnya sah-sah saja kita memberikan komentar atau memberi penilaian yang kita inginkan. Namun, alangkah lebih baiknya jika kita memberikan komentar atau nilai tidak semau kita. Pemberian nilai harus tetap objektif. Memang, ada beberapa toko online yang melakukan tidak penipuan, namun sudah pasti tidak semuanya. Jika toko tersebut telah memiliki banyak review pembeli dengan baik, seharusnya bisa dipastikan toko itu memiliki reputasi yang baik dalam hal pelayanan dan bukan penipuan. Tetapi saat saya lihat komentar dari pembeli tersebut, pembeli tersebut memberikan penilaian bintang satu hanya karena status pengemasan belum berubah ke status pengiriman tidak berubah.

Perlu diingat, jika toko online berada di suatu marketplace, marketplace tersebut telah menerapkan aturan kapan maksimal barang harus dikemas, kapan maksimal seharusnya barang dikirim dsb. Jadi, seharusnya pembeli bisa bersabar. Toh, jika barang tidak sampai terkirim ke pembeli, toko tersebut tidak bisa mencairkan uang pembayaran dari pembeli.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun