Mohon tunggu...
laela awalia
laela awalia Mohon Tunggu... Hoteliers - Perempuan biasa dari Lampung. Blogger amatir.

Perempuan yang suka jalan-jalan untuk kemudian diabadikan tidak hanya dengan foto, tetapi juga dengan tulisan. Bisa dihubungi di azkia_04@yahoo.com. Sila berkunjung ke blog pribadi di azkia-04.blogspot.com.

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Kenangan Ambyar di Kereta 9 Tahun Lalu

29 Februari 2020   12:01 Diperbarui: 29 Februari 2020   11:56 130
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Transportasi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Wirestock

Karena saya memang sudah niat mau pulang dan kalau mau balik ke kosan sudah malam naik angkutan umum (catatan: belum ada ojek online yang siap sedia antar kapanpun kemanapun), saya beli juga tuh tiket. Bisa kalian bayangkan bagaimana caranya naik kereta sambil berdiri sepanjang perjalanan dari Palembang ke Lampung? Haha.

Saya tidak sendirian kok. Ada banyak penumpang yang tidak dapat tempat duduk juga. Jadi, untung-untungan deh, selagi masih ada tempat duduk kosong dari stasiun satu ke stasiun lainnya, ya duduk aja. Nanti kalau 'pemilik' tempat duduknya sudah naik dan mendapati kursi kita, ya kita berdiri. Gitu saja. Gak sedikit juga yang gelar kardus di sepanjang lorong kereta. 

Saya yang tadi gak ancang-ancang cari kardus, cuma bisa nongkrong sambil nyandar di tiang atau pegangan kursi penumpang lain. Mungkin ada yang kasihan lihat saya, jadi dikasihlah saya sepotong kardus untuk duduk. Menikmati nasib yang sama selama perjalanan.

Belum lagi ketika ada petugas atau penumpang yang lewat, datang dan pergi sepanjang lorong. Mau tak mau, para penumpang kelas bawah ini harus bolak balik menggeser kenyamanannya yang sudah minim itu untuk jalan. Pada akhirnya, ada juga yang jadi tidur di bawah kolong kursi penumpang lain agar tidak terganggu dengan orang-orang yang lewat. Ini nyata lho, kawan! Saya mengalaminya, dan itu sungguh miris, menyedihkan, hiks!

Rupanya, drama tak dapat kursi ini belum berakhir sampai disitu. Kereta malam yang sedianya sampai di Lampung pada pagi hari sekitar pukul 07.00-an, baru bisa sampai di Lampung tengah hari. Perut sudah keroncongan, badan lelah karena semalam tidak duduk dengan tenang, ngantuk, dan segala macam perasaan campur menjadi satu. Untunglah, petugas kereta membagikan sebungkus roti sebagai pengganjal perut. Untungnya lagi, sekarang sudah tidak ada drama seperti itu.

PT. KAI memang jos! Banyak perbaikan yang sudah dilakukan hingga sekarang. Dari pemesanan tiket yang makin mudah, hingga pelayanan dan kondisi gerbong yang jauh lebih baik.

Dan kisah terakhir kereta ambyar saya adalah.. ehm, dengan mantan! Ini sih cerita melankolis pas masih muda dulu. Ya namanya anak muda dan labil ya. Ceritanya mirip-mirip sama adegan klise yang sering ada di sinetron atau film atau drama atau apapun jenisnya itu. Padahal saya juga gak terlalu suka dengan adegan itu tapi entahlah kenapa justru itu terjadi sama saya.

Jadi, sewaktu saya mau pulang ke Lampung naik kereta, saya diantar oleh mantan sampai ke gerbong! Dulu, peraturan pengantaran belum seketat sekarang. Kalau sekarang kan, pengantar hanya bisa sampai loket depan ya. Tidak bisa masuk sampai dalam kereta. Dulu mah beda, bebas. Mau nunggu di dalam kereta sampai mau jalan juga boleh.

Balik lagi ke cerita saya. Saat itu, kami baru jadian makanya masih anget-angetnya gombal. Mantan saya mengantar sampai ke gerbong. Saat kereta mau jalan, ia masih saja menunggu di luar. Menatap saya lewat jendela dan terus tersenyum. Sambil menelepon, dia bilang macam-macam, seperti,

"Aku nunggu kamu disini,"
"Hati-hati di jalan,"
"Kamu kabari ya kalau sudah sampai,"

Dan kata-kata yang hampir sama seperti adegan di sinetron. Lebaynya, saat kereta makin menjauh, ia masih saja melambaikan tangan dan berlari seperti ingin mengejar. Ironisnya, di kemudian hari, dia bukan jodoh saya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun