Mohon tunggu...
Film Pilihan

Haruskah Film Adaptasi Mirip dengan Novelnya?

11 Maret 2019   15:16 Diperbarui: 12 Maret 2019   07:51 257
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Akhir Februari lalu, tak sedikit kaum milenial yang setia mengantre untuk menonton film 'Dilan 1991' di berbagai bioskop. Film yang diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq itu telah menjadi salah satu film terlaris di Indonesia dengan penjualan 3,1 juta dalam lima hari penayangan pertama. Sebelumnya, 'Dilan 1990' juga sudah menduduki posisi kedua film terlaris sepanjang masa dengan jumlah penonton lebih dari 5 juta di 2017, persis di bawah 'Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1' yang mendapatkan jumlah penonton sebanyak 6,8 juta pada 2016.

Apa yang menjadi kesuksesan film yang disutradarai Fajar Bustomi ini dilihat dari perspektif pembaca buku?

Jawabannya bisa beragam. Menariknya, beberapa hari silam hal ini jadi pembahasan kami di KumpulBaca. Pembahasan itu luas tentang film adaptasi novel, termasuk Dilan. Beberapa orang menilai kesuksesan Dilan tidak lepas dari keterwakilan gambar dalam film yang mirip dengan cerita di dalam novel Pidi Baiq. Hasilnya, penonton merasa film tersebut tidak mengkhianati novel yang ceritanya sudah lebih dahulu mereka sukai.

Tetapi ada juga film atau lebih tepatnya series seperti '13 Reasons Why' yang ternyata lebih bagus dari versi novelnya, menurut salah seorang di antara kami. Itu karena series tersebut menyediakan perspektif tambahan yang melengkapi bayangan pembaca buku itu.

Namun haruskan film adaptasi mirip dengan novelnya? 

Side A: Tidak Harus!

Perspekif ini umumnya muncul di kalangan penulis maupun pembuat film. Film punya bentuk yang berbeda dengan karya seni tulis. Bentuk yang berbeda itu akhirnya berdampak pada cara penyuguhan yang berbeda. Penonton film dibatasi durasi dan angle pengambilan gambar, bahkan juga teknologi. Itulah sebabnya banyak adegan yang terasa tidak seindah atau secanggih bayangan pembaca novel misalnya ketika membaca novel sci-fi seperti 'Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh'.

Novel Harry Potter,  misalnya, akan sangat sulit untuk diwujudkan seluruh isinya ke layar lebar mengingat ketebalan bukunya yang mencapai ribuan halaman. Selain karena detail yang diberikan JK Rowling sangat rinci, pembuat film juga akan kesulitan dengan durasi, biaya produksi dan pemasaran film apabila mengikuti seluruh alur film. Jika semuanya tak diperhatikan dengan seimbang, film akan sangat membosankan dan berpotensi gagal di pasaran. Bagaimana pun, film adalah sebuah industri. 

www.harrypottersacredtext.com
www.harrypottersacredtext.com
Selain itu, film bisa jadi menyuguhkan perspektif sutradara yang bisa sama atau berbeda sama sekali dengan sang penulis asli. Hasilnya, karya keduanya sangat bisa berbeda. Penulis 'Perahu Kertas', Dewi Dee Lestari, misalnya, mengakui bahwa dia memberikan izin pembuat film untuk menginterpretasikan karyanya sebagai film. Dee sebagai penulis menurut saya sangat legowo ketika karyanya diblejeti oleh pembuat film sehingga dia kadang puas tapi kadang juga kecewa dengan hasil interpretasi itu.

Sementara, buku memberikan setiap pembaca kebebasan mengimajinasikan adegan. Karena durasinya yang tidak terbatas, pembaca bisa melihat seluruh isi cerita, adegan atau percakapan dalam sebuah buku.

Oleh karena itu, penonton yang duduk di kursi penonton film adaptasi harus 'mengosongkan gelas' harapannya jika tak ingin merasa kecewa berlebihan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun