Mohon tunggu...
Kadiman Kusmayanto
Kadiman Kusmayanto Mohon Tunggu...

I listen, I learn and I change. Mendengar itu buat saya adalah langkah awal dalam proses belajar yang saya tindaklanjuti dengan upaya melakukan perubahan untuk menggapai cita. Bukan hanya indra pendengaran yang diperlukan untuk menjadi pendengar. Diperlukan indra penglihatan, gerak tubuh bersahabat dan raut muka serta senyum hangat. Gaul !

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Gurindam-12 -- Tahun Baru 1431H di Pulau Penyengat

29 Desember 2009   02:16 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:44 1855 0 0 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_45004" align="alignleft" width="300" caption="Ilustrasi-admin (shutterstock)"][/caption] Dalam sebuah khotbah sholat Jum’at di sebuah mesjid, kawasan Jalan Setiabudi, Jakarta memberi uraian dan petuah seputar pelajaran hijrah dan penetapan awal tahun baru hijriah. Diungkapkan bahwa hijrah atau berpindah itu sebuah langkah besar dan berani yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya yaitu upaya berpindah -- geografis dan tatanan hidup dari satu tempat dan kondisi (existing comfort zone) ke yang baru (new comfort zone).  Dikatakan berani karena tempat dan kondisi yang baru walau diceritakan merupakan harapan akan hal-hal yang lebih baik tapi penuh ketidakpastian. Hijrah Rasul ini mengandung makna perubahan (change). Ditambahkan oleh sang pengkhotbah bahwa “Sesungguhnya hanya kerugian yang diperoleh bagi umat Islam jika merayakan malam Tahun Baru 1 Januari secara berlebihan, apalagi sambil melupakan perpindahan Tahun 1430H ke 1431H yang penetapannya dilakukan salah satunya agar makna dan pesan peristiwa hijrah Rasul senantiasa menjadi pelajaran dan suri tauladan bagi kaum muslim dan muslimah. Sepulang dari sholat Jum’at, saya menceritakan khotbah tersebut kepada istri sambil menyantap makan siang dengan menu home-made Sundanese food dan kami kemudian sepakat untuk menikmati the long weekend (karena libur Jumat, 1 Muharram 1431H) untuk ziarah, libur dan another honeymoon ke Pulau Pengenyat, Kepulauan Barelang (Batam-Rempang-Galang) dan Pulau Bintan. Reportase ini difokuskan pada ziarah ke Pulau Penyengat saja. Penyengat : Pusat Pemerintahan Kesultanan Riau Pulau Penyengat ditempuh dengan rute Jakarta-Batam naik pesawat terbang. Kemudian Batam ke Bintan naik kapal cepat umum sekitar 40 menit. Sedangkan Bintan ke Penyengat pergi-pulang menyewa sampan-motor kecil yang membutuhkan waktu hanya sekitar 15 menit plus sedikit olahraga jantung mengingat ukuran sampan yang relatif kecil (untuk 6 orang saja !), ombak yang agak besar mengingat sedang Musim Laut Utara, hujan plus usia kami suami-istri yang diatas 50 tahun untuk bepergiaan berduaan dan bawa-bawa koper. Kami tak lagi mampu menjadi turis a la back-packers. Di Penyengat kami beruntung dapat bersua dengan Bu Kades (NB. Penduduk asli Penyengat, masih muda, gadis, berjilbab dan lulusan STPDN Jatinangor Kabupaten Bandung). Bu Kades yang lebih populer dengan sapaan Bu Lurah mengenalkan kami pada beberapa tokoh masyarakat setempat termasuk penjaga Mesjid Sultan Riau, Makam Raja Haji Fisabilillah dan Makam Raja Ali Haji serta beberapa situs peninggalan sejarah masa kejayaan Kesultanan Riau. Raja Haji Fisabilillah yang hidup di perioda 1725 - 1784 yang juga dikenal sebagai Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau ke-empat telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya melawan penjajah, khususnya Belanda. Diuraikan bahwa saat kejayaan Kesultanan Riau yang pusat pemerintahannya di Penyengat itu membawahkan kawasan sekitar seperti Riau Daratan, Johor dan Singapura. Ditambahkan bahwa Raja Haji Fisabilillah adalah keturunan Bugis. Ini mudah kita percaya karena suku Bugis terkenal selain badiknya juga adalah pelaut-pelaut ulung. Dengan kapal Pinisi yang legendaris mereka melaut mengarungi lautan dan samudera. Penyengat ideal sebagai pusat pemerintahan karena kala itu kekuatan utama adalah kekuatan laut. Penyengat yang relatif kecil (luas kurang dari 100 HA) dikelilingi laut dalam dengan pinggiran yang terjal, hanya beberapa lokasi saja yang landai dan mudah didekati dari laut. Selain itu Riau Kepulauan dihuni oleh penduduk yang secara alami adalah orang laut dan mendapat fortifikasi dari pelaut unggul Bugis. Raja Ali Haji: Raja dan Pujangga Raja Haji Fisabilillah mewariskan tahta Kesultanan Riau pada putranya yang kemudian terkenal sebagai Raja Ali Haji yang hidup di perioda 1808 - 1873. Jika sang ayah lebih terkenal sebagai Raja yang membela tanah airnya dari serbuan kaum penjajah, Raja Ali Haji lebih dikenal sebagai Pemimpin yang banyak menuangkan pemikirannya dalam bentuk karya sastra. Dengan elegan dipadukannya syariah Islam dengan budaya Melayu plus kehidupan keluarga. Mahakarya-nya yang kita kenal adalah Gurindam Dua Belas yang menjadi cikal bakal tumbuhnya bahasa dan budaya Melayu bahkan menjadi pusat inspirasi dibekukannya Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional dalam Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Gurindam-12 menjadi karya sastra yang menjadi bagian dari kurrikulum sekolah baik untuk Sejarah maupun Kesusasteraan bukan hanya di Indonesia, juga di SIngapura, Malaya bahkan kita tak perlu terkejut jika Maladewa (Maldives) dan di negara-negara lain juga menjadi bahan telaahan. Gurindam-12 adalah sebauah mahakarya ! Dengan bermodalkan akses ke dunia maya, berkunjung ke perpustakaan dan cari serta beli di toko buku kita akan mudah temukan naskah Gurindam-12. Sebagai buah-tangan kami mendapatkan sebuah buku kecil berisi Gurindam Dua Belas gubahan Raja Ali Haji  hasil cetakan UNRI (Universitas Riau) Press, Pekanbaru, ISBN 979-8692-97-7, tahun 2003. Kami tidak berhasil melihat naskah asli Gurindam-12 ini walau sudah sempat menikmati baca cepat naskah-naskah dan buku-buku kuno peninggalan Kesultanan Riau yang tersimpan a la kadarnya di mesjid Sultan Riau, Penyengat. Dibawah ini sebagai cindera-hati dari suka cita kami merayakan Tahun Baru 1431H dan dari ziarah ke Penyengat saya salin-tangan naskah Gurindam-12 yang sumbernya adalah buku kecil terbitan UNRI Press yang tentunya dilindungi HaKI.

--o0o--

GURINDAM DUA BELAS karya: Raja Ali Haji Satu Ini Gurindam pasal yang pertama: Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama. Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang yang ma'rifat Barang siapa mengenal Allah, Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah. Barang siapa mengenal diri, Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri. Barang siapa mengenal dunia, Tahulah ia barang yang teperdaya. Barang siapa mengenal akhirat, Tahulah ia dunia mudarat. Dua Ini Gurindam pasal yang kedua: Barang siapa mengenal yang tersebut, Tahulah ia makna takut. Barang siapa meninggalkan sembahyang, Seperti rumah tiada bertiang. Barang siapa meninggalkan puasa, Tidaklah mendapat dua termasa. Barang siapa meninggalkan zakat, Tiadalah hartanya beroleh berkat. Barang siapa meninggalkan haji, Tiadalah ia menyempurnakan janji. Tiga Ini Gurindam pasal yang ketiga: Apabila terpelihara mata, Sedikitlah cita-cita. Apabila terpelihara kuping, Khabar yang jahat tiadaiah damping. Apabila terpelihara lidah, Niscaya dapat daripadanya paedah. Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan, Daripada segala berat dan ringan. Apabila perut terlalu penuh, Keluarlah fi'il yang tiada senonoh. Anggota tengah hendaklah ingat, Di situlah banyak orang yang hilang semangat Hendaklah peliharakan kaki, Daripada berjaian yang membawa rugi. Empat Ini Gurindam pasal yang keempat: Hati itu kerajaan di daiam tubuh, Jikalau zalim segala anggotapun rubuh. Apabila dengki sudah bertanah, Datanglah daripadanya beberapa anak panah. Mengumpat dan memuji hendaklah pikir, Di situlah banyak orang yang tergelincir. Pekerjaan marah jangan dibela, Nanti hilang akal di kepala. Jika sedikitpun berbuat bohong, Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung. Tanda orang yang amat celaka, Aib dirinya tiada ia sangka. Bakhil jangan diberi singgah, Itulah perampok yang amat gagah. Barang siapa yang sudah besar, Janganlah kelakuannya membuat kasar. Barang siapa perkataan kotor, Mulutnya itu umpama ketor. Di mana tahu salah diri, Jika tidak orang lain yang berperi. Lima Ini Gurindam pasal yang kelima: Jika hendak mengenai orang berbangsa, Lihat kepada budi dan bahasa, Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, Sangat memeliharakan yang sia-sia. Jika hendak mengenal orang mulia, Lihatlah kepada kelakuan dia. Jika hendak mengenal orang yang berilmu, Bertanya dan belajar tiadalah jemu. Jika hendak mengenal orang yang berakal, Di dalam dunia mengambil bekal. Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai. Enam Ini Gurindam pasal yang keenam: Cahari olehmu akan sahabat, Yang boleh dijadikan obat. Cahari olehmu akan guru, Yang boleh tahukan tiap seteru. Cahari olehmu akan isteri, Yang boleh dimenyerahkan diri. Cahari olehmu akan kawan, Pilih segala orang yang setiawan. Cahari olehmu akan ‘abdi, Yang ada baik sedikit budi, Tujuh Ini Gurindam pasal yang ketujuh: Apabila banyak berkata-kata, Di situlah jalan masuk dusta. Apabila banyak berlebih-lebihan suka, Itulah landa hampirkan duka. Apabila kita kurang siasat, Itulah tanda pekerjaan hendak sesat. Apabila anak tidak dilatih, Jika besar bapanya letih. Apabila banyak mencela orang, Itulah tanda dirinya kurang. Apabila orang yang banyak tidur, Sia-sia sahajalah umur. Apabila mendengar akan khabar, Menerimanya itu hendaklah sabar. Apabila menengar akan aduan, Membicarakannya itu hendaklah cemburuan. Apabila perkataan yang lemah-lembut, Lekaslah segala orang mengikut. Apabila perkataan yang amat kasar, Lekaslah orang sekalian gusar. Apabila pekerjaan yang amat benar, Tidak boleh orang berbuat honar. Delapan Ini Gurindam pasal yang kedelapan: Barang siapa khianat akan dirinya, Apalagi kepada lainnya. Kepada dirinya ia aniaya, Orang itu jangan engkau percaya. Lidah yang suka membenarkan dirinya, Daripada yang lain dapat kesalahannya. Daripada memuji diri hendaklah sabar, Biar dan pada orang datangnya khabar. Orang yang suka menampakkan jasa, Setengah daripada syirik mengaku kuasa. Kejahatan diri sembunyikan, Kebaikan diri diamkan. Keaiban orang jangan dibuka, Keaiban diri hendaklah sangka. Sembilan Ini Gurindam pasal yang kesembilan: Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan, Bukannya manusia yaituiah syaitan. Kejahatan seorang perempuan tua, Itulah iblis punya penggawa. Kepada segaia hamba-hamba raja, Di situlah syaitan tempatnya manja. Kebanyakan orang yang muda-muda, Di situlah syaitan tempat bergoda. Perkumpulan laki-laki dengan perempuan, Di situlah syaitan punya jamuan. Adapun orang tua yang hemat, Syaitan tak suka membuat sahabat Jika orang muda kuat berguru, Dengan syaitan jadi berseteru. Sepuluh Ini Gurindam pasal yang kesepuluh: Dengan bapa jangan durhaka, Supaya Allah tidak murka. Dengan ibu hendaklah hormat, Supaya badan dapat selamat. Dengan anak janganlah lalai, Supaya boleh naik ke tengah balai. Dengan kawan hendaklah adil, Supaya tangannya jadi kapil. Sebelas Ini Gurindam pasal yang kesebelas: Hendaklah berjasa, Kepada yang sebangsa. Hendaklah jadi kepala, Buang perangai yang cela. Hendaklah memegang amanat, Buanglah khianat. Hendak marah, Dahulukan hujjah. Hendak dimalui, Jangan memalui. Hendak ramai, Murahkan perangai. Duabelas Ini Gurindam pasal yang kedua belas: Raja mufakat dengan menteri, Seperti kebun berpagarkan duri. Betul hati kepada raja, Tanda jadi sebarang kerja. Hukum ‘adil atas rakyat, Tanda raja beroleh ‘inayat. Kasihkan orang yang berilmu, Tanda rahmat atas dirimu. Hormat akan orang yang pandai, Tanda mengenal kasa dan cindai. Ingatkan dirinya mati, Itulah asal berbuat bakti. Akhirat itu terlalu nyata, Kepada hati yang tidak buta. Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.

--o0o--

Notabene: Jika ada pembaca yang mengambil sebagai atau seluruh dari naskah Gurindam-12 dari reportase ini, mohon sebutkan bahwa sumbernya adalah buku kecil hasil cetakan UNRI Press,ISBN 979-8692-97-7, 2003.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x