Mohon tunggu...
Usman Kusmana
Usman Kusmana Mohon Tunggu... Seorang Lelaki Biasa Dan Pegiat Sosial Politik

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Berkunjung ke "Bedeng" Kompasiana

22 September 2012   05:56 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:01 121 3 5 Mohon Tunggu...

Hari Jum'at, 21/9/2012, Saya berkunjung ke "Bedeng" Kompasiana. Ya, Kang Pepih Nugraha sang perintis Kompasiana menyebutnya seperti itu. "Bedeng"...hehe.

Awalnya memang saya sarapan di kantin gedung wakil rakyat senayan, tapi saya tak menemukan satu pun wakil rakyat yang dipilih dari daerah pemilihan tempat saya tinggal yaitu Jabar XI (Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kab. Garut) . Beberapa nama Anggota DPR RI yang saya tanya ke resepsionis DPR untuk disambungkan dengan staf-staf khususnya tak ada yang menyahut. "Pada kosong pak " kata petugas itu. Semuanya mungkin sedang menikmati liburan hari kejepit setelah Hari Kamis ;libur pelaksanaan Pilgub DKI Jakarta.

Lalu, saya ajak 2 teman yang ikut mendampingi saya ke Jakarta, yaitu Kang Acep S Siliwangi ketua LSM Saperak (Sarikat Peduli Rakyat Kecil) dan seorang ajengan kampung yang daerah tempat tinggalnya sendiri disebutnya dengan  "teu acan merdeka", karena jalan yang masih berbatu selama bertahun-tahun dan belum tersentuh aspal. Tujuan saya menuju kantor Kompas. Saya ingin mampir ke Kompasiana. Sebagai warga Kompasiana yang baru beberapa saja memposting tulisan, jelek-jelek gini saya kan juga asset..hehe. So, wajar saya ingin sekali mampir ke Kompasiana, dalam benak saya, saya ingin menemui Kang Pepih, Mas Isjet, Mas Nurul, Mas Dieki Setiawan untuk sekedar bersilaturrahmi.

Saat masuk gedung Kompas, waktu sudah menunjukan angka 11.00, sebentar lagi shalat Jum'at. Saya langsung masuk dan menemui resepsionis. "Saya ingin menemui pak pepih Nugraha di KCM". Lalu sang resepsionis dengan ramahnya memberikan Id card pengunjung dan menunjukan kami untuk ke Lantai 5.

Saat keluar lift di lantai 5, saya sempet bingung buka pintunya. Ada petunjuk dorong, tapi saat di dorong koq susah bukanya. Beberapa kali saya lakukan itu. Sampai otak saya mikir ini ada sisi teknologi yang saya belum pahami, maklum dah lama balik kampung..heheh. Ternyata betul, di samping pintu sebelah kiri ada sesuatu yang berwarna hitam kotak, ketika kartu visitor saya di tempelkan kesana, pintu pun terbuka...haduuhhhh dasar urang kampung, pikirku...

Kami pun masuk ke ruang KCM, dan saya bertanya ke staff disana untuk bertemu Kang Pepih Nugraha. Bebeberapa saat kami menungu, ternyata kang Pepih muncul dari luar ruangan. Tegur sapa dan obrolan hangat pun mengalir dengan asyiknya. Beliau bertanya seputar aktifitas saya dalam beberapa hari ini di Jakarta. Kang Pepih ini bener-bener sosok wartawan senior yang itulah sejatinya karakter wartawan. Kelihatan sekali kematangannya sebagai seorang jurnalis. Di akhir obrolan di ruang tunggu KCM itu, saya bertanya " Kang, boleh gak saya ingin melihat dapur Kompasiana, melihat kerja para admin?" kata saya.

Saya pikir ruangan para admin Kompasiana itu di lantai yang sama, ternyata selama berjalan menuju lift, Kang Pepih bilang " Bedeng Kompasiana itu adanya di bagian lain, kita harus keluar dulu". Lalu kami pun diantar Kang pepih menuju ruang para admin Kompasiana. Keluar pintu utama Kompas, menyusuri lorong arah kanan, turun ke bawah, lalu naik tangga lagu. " Kami menyebutnya " Bedeng" " Kata kang pepih sambil tersenyum.

Ruang kerja para kru Kompasiana memang tidak seperti ruangan lainnya yang ada di lingkungan Kompas. Seperti ruangan bekas gudang, sehingga mungkin mereka menyebutnya dengan nama "bedeng" sebagai office sweet office nya ..hehehhe. "Tapi sementara" ungkap Kang Pepih.

Dan saat masuk ruangan "bedeng" Kompasiana itu, pas masuk ada Mas Isjet yang baru keliling dunia..eh Amerika, saat saya tanya mana oleh-olehnya mas? jawabannya malah ajakan ngomong cas..cis..cus..hahah. Lalu ada nama-nama yang memang saya kenal tadi, Mas Nurul, Mas Dieki..Cuman yang 2 perempuan berjilbab lain saya lupa kenalan...heheh ( Sayang seribu sayang, semua moment itu belum bisa ditampikan dengan fotonya)

Dalam bekakku, dari "bedeng" ini ternyata para mas dan akang, mbak  "Ngademin"  mengatur alur masuknya postingan dari warga Kompasiana. Saluut dan keep spirit yaa...

(Bersambung)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x