Mohon tunggu...
Kristianto Naku
Kristianto Naku Mohon Tunggu... Penulis Daring

Penulis Daring dan Blogger. Aktif menulis di blog pribadi, jurnal ilmiah, majalah, surat kabar harian, dan menjadi editor majalah dan jurnal ilmiah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengekang Sapa dan Doyan Curiga di Media Sosial

15 Maret 2021   09:49 Diperbarui: 15 Maret 2021   09:57 82 9 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengekang Sapa dan Doyan Curiga di Media Sosial
Media sosial dan beragam panorama interaksi sosial. Foto: mediaindonesia.com.

Tidak semua orang mau menyapa. Jika mau menyapa selalu dipikir berulang-ulang. Selalu ada pikiran-pikiran demikian: "Apakah dia menyahut? Bagaimana jika dia cuman diem? Siapa yang mendengar atau membaca sapaanku? Siapa dia buat aku?" Pikiran kayak gini cukup rewel. Benar. Menyapa agak sulit tuk diterapkan hanya karena diborgol oleh sentimen pra-aksi kegiatan menyapa.

Budaya sapa adalah salah satu warisan yang dihidupi dari abad ke abad. Sebelum teknologi internet memengaruhi ruang gerak sosial, budaya sapa menjadi pengantar ilmu komunikasi yang relatif akrab di mata orang. Ketika saya menjumpai si A, hal pertama yang wajib saya lakukan adalah menyapa. Tindakan menyapa di sini bukan datang karena saya ingin berkenalan, tetapi lebih karena dia adalah kehadiran yang lain dari pribadi saya. Pada saat saya menyapa yang lain dari saya, pada saat yang sama, saya sebetulnya tengah menyapa diri sendiri.

Di media sosial, budaya cukup gamblang terlihat. Ketika saya meminta pertemanan dengan si A, saya berusaha menyertakan kalimat sapa. Kalimat sapa, sejatinya bermakna membuka percakapan, membuka ruang relasi, dan tentunya sebagai bagian dari budaya sopan santun. Hal ini, tentunya berlaku untuk semua jenis percakapan. Seharusnya, hemat saya, sapaan itu sendiri tidak boleh dikekang hanya karena gengsi.

Ada beberapa fenomena dimana gengsi mengurung niat seseorang untuk menyapa. Gengsi muncul -- meski saya tahu siapa lawan bicara saya -- karena prasangka. Di media sosial situasi demikian seringkali dialami dan membuat setiap pribadi kehilangan momen interaksi. Saya memang mau menyapa, tapi saya malu, saya gengsi, dan saya menganggap dia bukan siapa-siapa untuk saya. Ketika sapa dikekang, prasangka pun mengantri 'tuk dikelola.

Saya melemparkan permintaan pertemanan pada intinya agar bisa saling menyapa, berkenalan, dan bertukar ide atau gagasan. Di saat sekarang, menyapa langsung dengan salaman, interaksi verbal vis-a-vis tak mungkin dilakukan. Seandainya, ditemui langsung, keinginan untuk menyapa dan berkenalan tentunya ada. Karakter ini dibawa terus dalam pribadi seseorang dan saya yakin Anda juga mengalaminya.

Lalu, bagaimana jika sapaan Anda tak kunjung direspon dan diberi tanggapan balik? Pertama-tama, hal yang mungkin muncul dalam diri Anda atau saya adalah kecewa. Prasangka pun akan lahir dari sana. Setelah kecewa, lalu menaruh curiga kenapa sapaannya gak ditanggapi, saya kemudian mengevaluasi diri. Apakah karena saya sama sekali asing? Ataukah identitas saya justru malah mencurigakan?

Tapi, aneh sebetulnya. Ada beberapa fakta dimana popularitas justru malah membuat ruang gerak saling sapa ini membingungkan. Temen saya menyapa beberapa orang yang tak dikenal di media sosial. Saya tanya ke dia: "Apakah kamu kenal atau pernah menjumpai orang yang kamu sapa dan komen?" Sontag, ia menjawab: "Sama sekali, tidak!" Popularitas justru membuat teman saya 'tak sungkan memberi sapa, sementara orang-orang yang benar-benar ia kenal tak pernah mendapat notifikasi sapa.

Si artis A masak sambil live, semua warga dunia sosial media menyahut dan memberi apresiasi. "Sehat-sehat ya cantik! Hati-hati, jangan sampai kepeleset!" Unik. Tapi inilah realita sebetulnya dari ruang gerak budaya sapa di zaman sekarang. Di media sosial, saya berteman bukan untuk menyapa, tapi lebih ke menenun kecurigaan. Sementara, di bilik yang lain, orang yang tak dikenal sama sekali, justru banjir komentar dan sapa. Unik. Benar-benar unik.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x