Kompasiana News
Kompasiana News Editor

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Jadilah Peminjam Utang yang Baik untuk Teman

13 Februari 2019   11:28 Diperbarui: 21 April 2019   19:24 971 16 4
Jadilah Peminjam Utang yang Baik untuk Teman
Ilustrasi uang receh dan uang koin rupiah (Shutterstock)

Kadang, sedekat apapun kita dengan teman, jika sudah berurusan dengan uang pasti ada hal-hal yang kemudian serba-sensitif. Bisa saja dari lupa membayar ketika makan karena telah ditalangi hingga meminjam uang.

Bagi sebagian orang meminjamkan uang pada teman mungkin bukan masalah. Apalagi jika kondisi keuangan sedang sehat. 

Walau statusnya teman, intinya meminjamkan uang tetap tidak bisa sembarangan. Dan jika ingin meminjamkan  uang, pastikan kita tahu bagaimana temanmu akan membayar.

Atau jika ingin lebih jelas, kita bisa tanyakan alasannya meminjam: apakah benar kebutuhan mendesak atau sekadar memenuhi keinginan semata?

Bukan untuk curiga atau tidak tega, namun jika nominal yang dipinjam cukup besar kita bisa bagaimana mesti bersikap. Dengan kemungkinan terburuknya adalah menolak meminjamkan.

Sebab, memberi pinjaman kepada teman tidak akan menjadi masalah selama kedua pihak dapat saling menjaga kepercayaan. 

Bahkan dalam arti tertentu, menurut Pical Gadi, pinjam meminjam ini jadi semacam tanda akrabnya relasi antara dua sahabat tersebut. 

"Tidak mungkin memberi pinjaman uang kepada orang yang tidak dikenal baik, bukan?" lanjutnya

Sebagai contoh, Ariyani Na pernah merasa kesal ketika seorang teman meminjam uang dengan alasan harus membayar tukang yang sedang membetulkan rumahnya.

Tetapi sampai beberapa bulan kemudian, katanya, tidak ada niat dari teman tersebut mengembalikan.

"Padahal di status media sosialnya tergambar bahwa Ia banyak melakukan kegiatan yang saya kira seharusnya cukup untuk mengganti uang saya," lanjutnya.
 
Tujuan memberikan pinjaman tentu untuk menolong atau memberi jalan keluar bagi teman/kerabat yang sedang membutuhkan. Bahkan bagi Ariani Na sama sekali tidak menguntungkan, sebab yang dibantu adalah teman sendiri.

"Ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa menolong dan telah berbuat kebaikan," katanya.

Agar tujuan berbuat kebaikan tersebut tidak berubah menjadi hal buruk, lanjutnya, maka sebelum memberi pinjaman pastikan kita akan ikhlas bila orang tersebut tidak mengembalikan.

Tetapi ada yang perlu dicatat: karena berawal untuk membantu dan ikhlas bila tidak dikembalikan, maka besarnya pinjaman yang diberikan mesti sesuai dengan kemampuan.

Seperti halnya Ariyani Na, bagi Helmy Hannto meminjamkan uang kepada teman jika jumlahnya tidak seberapa tentu bukan masalah.

Hanya saja model dan jenis teman pun ada berbagai macam. Menurutnya proses pinjam-meminjam antar teman berbeda dengan transaksi kredit pada lembaga formal.

"Artinya, tidak ada konsekuensi penalti atau gugatan hukum. Skenario terburuk adalah putus hubungan teman," lanjutnya.

Apalagi ketika dalam kondisi di mana kita iba dengan kondisi teman tersebut dan hendak ikut membantu.

Namun, karena mudah meminjam uang kepada teman, kadang membuat sesorang menjadi lupa untuk menggantinya di kemudian hari. Dan yang perlu diingat para peminjam, yaitu mungkin pada satu waktu teman kita yang meminjamkan uang pada satu waktu membutuhkannya.

Jadi, dibutuhkan kedewasaan dan tanggung jawab besar dalam meminjam uang. Bukankah begitu?