Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Kompasianer

Peminat Sosio-Humaniora dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Good Looking Stigma Radikal: Bersyukur Tampang Pas-pasan

5 September 2020   12:42 Diperbarui: 6 September 2020   22:24 125 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Good Looking Stigma Radikal: Bersyukur Tampang Pas-pasan
ilustrasi: okezone.com

Sebagai contoh, setiap wacana yang ditampilkan dalam maraknya warga Negara Indonesia beberapa tahun lalu mau bergabung dengan ISIS. Salah satu pemicunya adalah pertimbangan kesejahteraan.

Tentu sebagai sebuah organisasi yang ingin menguasai ekonomi kususnya migas di Timur Tengah. ISIS atau Islamic State Irak Suriah tentu punya cara sendiri merekrut personil untuk memompa daya kekuatan mereka.

Tanpa dukungan uang, saya kira ISIS tidak akan dapat menjadi organisasi besar dunia. Bukankah ISIS akan terus kecil jika mereka tidak dapat mengakomodasi simpatisannya?

Semisal simpatisan dari warga Negara Indonesia jika tidak dibiayai perjalanannya, apakah mungkin dapat kesana? Ke tempat dimana saat itu menjadi basis dari organisasi ISIS yang ada di Irak dan Suriah melakukan peperangan?

"Kini orang hidup butuh biaya tidak terkecuali siapa pun itu orangnya. Bahkan "calon teroris" sekalipun juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu tanpa uang, calon teroris tidak akan pernah bisa menjadi teroris".

Tetapi narasi keyakinan saya juga percaya. Bisa saja personil calon teroris tersebut mau bergabung karena "isme" kuat dalam dirinya benar-benar sudah memuncak. Maka dari itu untuk memunculkan "isme", bukankah harus dilakukan doktrin yang massif dan pembawaan yang semenarik mungkin?

Bisa saja yang dimaksud mentri Agama (Menag) mengungkapkan  bawasannya paham radikal masuk dilingkungan ASN (Aparatur Sipil Negara) dan masyarakat melalui Good looking atau paras yang menarik.

Dimana paras yang menarik merupakan jembatan kemenarikan untuk mendoktrin paham radikalisme di media. Saya membaca arah good looking yang dipersepsikan Menag Fachrul Razi kesana.

Untuk itu perlu diketahui ungkapan cara masuk radikalisme yang di lontarkan Menag Fachrul Razi disampaikan lewat Youtabe Kemenpan RB, Rabu (2/9). Dalam acara betajug 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara'.

Saya kira memang menjadi alasan yang ganjil jika good looking dipersepsiakan oleh Menag sebagai strategi dasar paham radikalisme untuk menciptakan teror. Sebab para good looking di Indonesia nyatanya mereka mencari uang di media. Berlomba-lomba menjadi selebram atau jika di youtube berlomba mencari subscribe.

Dalam hal ini tidak peduli yang berlatar belakang hafiz maupun good looking konten Prank dan seru-seruan anak muda. Saya biasa menemukan dakwah-dakwah berlatar "agama" untuk tidak mencintai dunia di youtube. Tetapi di akhir dakwah itu sendiri minta di share, subscribe dan sebagainya. Apa lagi tujuannya jika bukan monetisasi youtube mencari penghasilan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN