Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Kompasianer

Peminat Sosio-Humaniora, Sastra, Filsafat, dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Kritik "Sastra", Jalannya Eksistensi Negara

13 Juli 2019   09:01 Diperbarui: 16 Juli 2019   21:40 97 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kritik "Sastra", Jalannya Eksistensi Negara
images-21-5d2de21a097f3604907a68c2.jpeg

Akhir-akhir ini saya seperti kehilangan roh menulis kritik sastra indah dan bermakna. Sebagai penggiat sastra, memang belum terakui, tetapi karya sastra yang telah saya sajikan menjadi bukti tersebut. Keformalan yang menjadi bias sumber dari khawatiran, ketidak pastian hidup menjadi cara bahwa; saya harus mencari sesuatu yang pasti dalam hidup ini.

Manusia hidup tidak lepas dari kebutuhan, mereka butuh setiap apa yang menjadi akomodasi hidupnya sendiri. Rupiah pada akhirnya yang harus mereka kejar, dan lain sebagainya yang dapat membuat secara pasti hidup mereka. Untuk itu, berpasrah pada nasib suatu bentuk kerja formal harus mereka jalani.

Seperti saya yang mengejar kepastian pendapatan pada hari kerja formal, setiap pagi dan sore harus berangkat dan pulang dari kantor. Namun inilah kepastian yang harus saya lakukan, tentu demi terus teraksesnya kebutuhan, dan terbangunnya perasaan yang tenang, mempunyai uang dijaman yang serba uang ini.

Meskipun kesibukan terus memanggil, saya dan karya sastra seperti tengah menjadi saudara yang saling merindukan. Sikap dalam perenungan, mencoba menyuarakan hal yang banyak tidak mereka pikirkan, terkadang dia "suara" memang sembunyi di dalam diri, saya harus menanggkapnya di hari ketika libur tiba seperti sabtu-minggu ini, yang menjadi ajang santai di rumah dengan sedikit eksplorasi perenungan yang terpanggil.  

Saya kira ini akan berjalan, kata puitis diganti dengan isu-isu realitas yang sebenarnya tidak berguna. Pada akhirnya, semua hanyalah nihilisme yang saling mempengaruhi tanpa saling mengilhami. 

Sastra hiburan, akhirnya merintis pemikiran, bukan dari karya sastra itu sendiri, tetapi dari dalam dirinya, yang menginginkan perubahan itu melewati rasa keingin tahu-an lewat pembacaan karya sastra.

Tentu sesuatu akan membuat saya pun resah dan sedikit bingung, mengapa diri saya akhir-akhir ini terbawa arus permainan manusia-manusia tidak bermakna itu yang mengatasnamakan eksistensi Negara? Yang tidak bermakna, mereka yang mengedepankan retorika berpolitik dari pada kerja nyata menyambung karya, tentang apa yang menjadi perenungan mereka terhadap warga Negara, bukan dirinya sendiri.

Banyak saat ini warga negara bingung, mereka bingung bukan karena retorika yang di mainkan para penguasa melalui sudut-sudut media yang tertulis, maupun tergambar rapi disana sudut televisi. Kebanyakan warga Negara bingung ketika masa depannya tidak lagi dapat di raba, dan di terawang sebagaimana adanya, seperti ingin memandang cerah diri sendiri.

Mungkin hanya cemas, setiap hari warga merasakan kecemasan yang sama. Bagaimana harga kebutuhan dasar dihari depan? Apakah anak-anak bisa sekolah tinggi ketika biaya sekolah semakin tidak terjangkau? Upah hasil kerja tiap tahun naik tetapi kecemasan selalu datang apakah barang dan jasa ikut naik?

Mereka warga negara cemas terhadap dampak inflasi dari perubahan pengupahan itu. Upah naik pasti dibarengi dengan kebutuhan hidup yang juga naik. Setiap pagi warga bertanya, apakah harga listrik akan naik lagi? Bagaimana dengan Bahan Bakar Minyak ? Hasil dari upah kerja pas-pasan, bisakah punya rumah impian untuk keluarga?

Dengan segudang pertanyaam setiap harinya, kebanyakan kini mereka warga negara terdiam di dalam lamunannya. Dimana peran negara yang mempunyai visi memakmurkan warga negara? Jika hidup bersama dengan berpijak di tanah air yang sama, dapat meringankan beban hidup karena dipikul bersama-sama, mengapa kemudahan itu tanpa kekhawatiran belum pernah terjadi?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN