Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Gaji Pas-pasan? Keluar dan Carilah Nasib Baru

10 Mei 2019   19:51 Diperbarui: 10 Mei 2019   20:26 0 2 2 Mohon Tunggu...
Gaji Pas-pasan? Keluar dan Carilah Nasib Baru
sumber gambar: pixabay.com

"Berubahlah menjadi manusia digital yang penuh semangat, kreatif dan optimistis, bahwa peluang mengubah nasib hidup masih banyak"

Saya berpendapat masalah kerja di abad 21 ini sangatlah serius, tetapi kebanyakan gaji karyawan hanya bercanda saja. Bukan untuk tidak mensyukuri nasib, tetapi kalian juga harus paham.

Jika gaji terbilang kecil, untuk hidup saja pas-pasan, ketika kerja salah sedikit langsung dihatam omongan yang pedas oleh yang katanya, "bos", padahal sama-sama kerja, apakah Anda sebagai pekerja bawahan tetap mau bertahan dengan kondisi ini?

Saya kira tidak harus Anda bertahan, karena keadaan tidak akan pernah mengubah Anda. Bos, "karyawan atasan" yang semena-mena selamanya akan tetap semena-mena. Karena mereka berupaya menjaga nama baiknya sendiri, dengan tetap akan mengorbankan yang lain.

Seperti yang banyak dunia kerja katakan bahwa; bos tidak pernah salah. Benar adanya, kata-kata itu bukanlah kiasan. Dalam dunia kerja, posisi yang kuat akan selalu menang, meskipun dia bukan yang menggaji semua karyawan. Tetapi posisi dalam dunia kerja menentukan kekuatan secara personal itu sendiri.

Memang jika ditelisik dari kasta kelas pekerja yang katanya, bos, "karyawan atasan" ini lebih tinggi. Tetapi tidak berpikirkah bagaimana upaya bertahan bawahan untuk hidup dengan segala kebutuhannya? Sudahkah ia sadar bahwa gaji yang ia terima berbeda jauh bahkan dapat 10 hingga 15 X lipat?

Untuk biaya hidupnya saja, karyawan bawahan harus mengatur cara terbaik terus menekan kebutuhannya dengan sedikit hiburan, "untuk melupakan beban kerja". Bahkan kualitas makanan pun terus ditekan agar ia masih punya nilai uang lebih dari kerjanya.

Ditambah jika karyawan bawahan ini adalah buruh urban yang untuk pulang ke rumah saja membutuhkan biaya tidak sedikit, sudah pasti jarang pulang, dan kesehatan mentalnya akan dipertanyakan.

Bekerja dan mendapatkan uang memang kebutuhan, tetapi jika hanya upaya bertahan hidup saja yang didapat dari hasil kerjanya, belum lagi tekanan kerja yang harus diterimannya. Seharusnya "mudah" jika akan mempertimbangan mengambil keputusan keluar dan tidak tetap bekerja pada bidang yang sama.

Karena kita boleh saja berpikir realistis bahwa;" bekerja atau tidak bekerja pada bidang kerja yang gaji pas-pasan nasibnya akan sama saja". Masih akan lebih baik kita mencari kerja yang lain dengan yang sama pas-pasan tetapi beban kerja agak berkurang. Terlebih keadaan kejiwaan kita dapat lebih sehat disana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2