Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Isu Kiamat dan Hal yang Perlu Dipertanyakan

16 Maret 2019   01:37 Diperbarui: 16 Maret 2019   02:36 46 1 1
Isu Kiamat dan Hal yang Perlu Dipertanyakan
sumber gambar: Tribunnews.com

Akan ada yang tidak tertulis dari waktu. Setidaknya itu yang diyakini banyak orang dalam balutan Manifesto Politik maupun Dogma-Dogma Agama. Dalam catuan daya politik, sebagian percaya bahwa" Ratu Adil akan datang".

Tidak bukan, ia datang untuk menyelamatkan keyakinan akan kepercayaan mereka pada keadilan yang akan dibuat para penyelenggara Negara melalui Ideologi Politik.

Itulah yang menjadi pengharapan banyak orang yang tentunya yakin terhadap ide-ide politik itu sendiri. Setidaknya masalah keyakinan dan kepercayaan ini dapat disamakan antara Manifesto Politik dan Dogma Agama.

Satu, tentang pengharapan kebaikan, terciptanya keadilan bagi kehidupan. Lalu kedua, akan hal yang semua percaya karena keyakinan-nya yaitu datangnya hari Kiamat. Walaupun kiamat hal yang tidak diingini setiap makhluk; karna hancurnya dunia dan tentunya kehidupan.

Seandainya lari adalah suatu solusi yang menjawab, mungkinkah lari itu bisa jika keadaan telah terkepung tembok-tembok? Sebagai contoh, jika tata kelola sistem negara tidak adil, jika kita masih sebagai warga negara, dapatkah kita tidak ikut dalam sistem tersebut? Seperti Kapitalisme yang menjalar sebagai sistem ekonomi dunia. Untuk menjadi negara tidak terisolir oleh perdagangan, suatu Negara dunia harus-lah mengikuti sistem itu.

Tetapi baru-baru ini kegajilan dari terdergadasinya keyakinan mencuat. Bukan datang dari semesta politik. Tentu kita tahu keyakinan politik yang melibatkan krumunan lebih banyak, berpadu dengan keuntungan nyata pada setiap orang berpengaruh akan sulit dibuat ganjil; jika itu menguntungkan.

Karna dalam Demokrasi, organisasi melibatkan krumunan adalah komuditas politik yang diperdagangan untuk kepentingan ekonomi.

Cukup mengelitikan nalar, baru-baru ini justru keganjilan muncul dari manusia pengikut Dogma Agama akan kepercayan-nya pada hari Kiamat. Semua orang tahu, Kiamat adalah ekspresi paling buruk yang tidak pernah manusia ingini dalam jagad kehidupan ini. Untuk itu, jika hari itu datang, tetapi sampai saat ini belum kunjung datang.

Dogma Agama menyatakan salah satu syarat percaya pada agama adalah percaya hari Kiamat. Bersumber dari dogma-dogma agama barat, Kiamat berarti hancurnya dunia. Seperti penggambaran pada FIlm Kiamat tahun 2012 lalu,  ber-imajinasi-pun sangat mengerikan!

Tidak ada yang selamat dalam narasi Kiamat. Tentu seharusnya pengikut keyakinan pada Agama percaya pada narasi tersebut. Jika pada kenyataannya dunia akan hancur, isi bumi-pun hancur. Tidak peduli akan kabur ke-suatu daerah mana. Masih di dunia berarti tidak akan selamat juga.

Bukankah narasi Kiamat tersebut Gunung-Gunung akan dihancurkan? Laut-laut ditumpahkan, Bumi-Bumi digoncangkan? Untuk itu penyimpulan pada terdegradasinya keyakinan telah terlihat terang. Jika telah yakin, dan itu bagian dari keyakinan mengapa harus lari? Seperti disebutkan pada banyak Agama, tidak ada yang tahu kapan Kiamat itu datang.

Bukankah lari merupakan upaya pecundang dalam kenyataan terhadap keyakinan. Terlihat seperti baru-baru ini terjadi di Ponorogo. Membuat lucu adalah mengungsi masih di wilayah Regional yang sama, yaitu daerah Malang! Warga desa lari karna ditakuti isu-isu Kiamat, lalu mereka menjual aset-aset dan tata kehidupan yang telah berlangsung lama di desa tersebut.

Dalam hal ini, saya tidak mau menyebut mereka bodoh, hanya saja mereka tidak menilik kembali keyakinan mereka terhadap apa yang diyakini lebih banyak orang tentang Kiamat itu sendiri. Tentu mereka sendiri-lah yang rugi atas nama kekeliruannya akan keyakinan mereka.

Rumah yang dijual tentu berserta aset-aset yang lain karena keterburu-buruannya harganya menjadi murah. Pertanyaannya adalah siapa pula dalang dibalik saling mempengengaruhi puluhan warga tersebut? Wajib dipertanyakan!

Saya berspekulasi bahwa ada motif lain dalam mempengaruhi untuk meninggalkan desa dengan narasi Kiamat akan datang. Ditambah dengan penjualan aset-aset mereka yang memilih untuk lari. Jelas, ada upaya mengelabuhi atas nama ekonomi. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa faktor ekonomi menjadi alasan kesimpulan saya;

Pertama adalah, harga murah dalam pembelian asset warga desa tersebut. Jelas, pembeli akan diuntungakan.  Kedua, adanya potensi sumber daya ekonomi yang akan dihasilkan dari desa tersebut. Maka dari itu, perlunya ditilik kembali, siapa yang membeli rumah dan aset-aset warga? Apakah ada delik upaya kuasa akan ekonomi atau proyek industerialisasi diwaktu berikutnya?

Untuk itu perlunya adanya pihak-pihak terakit mengembalikan mental dalam keyakinan mereka yang telah terdegradasi atas nama Kiamat sudah dekat. Supaya kekeliruan mereka dapat diperbaiki, terpenting adalah penyelamatan terhadap aset yang mereka punya, agar mereka kedepannya tidak menjadi manusia tanpa desa juga tanpa rumah. Hidup dalam pelarian yang sungguh absurd tidak mampu realistis menghadapi kenyataan.