Mohon tunggu...
KOMENTAR
Diary

Anak Desa dan Revolusi

7 Mei 2021   20:28 Diperbarui: 7 Mei 2021   20:33 43 0

Aku akan selalu mangamati kehidupan manusia, dari Sabang sampai meraoke.

Kepergian kakek saya mengalami duka yang paling dalam, 1 bulan lama nya saya masih terpuruk dengan kepergian kakek, mengingat kembali momen saya bersama kakek.

Membaca koran, bercerita, memancing, berenang, bertani, hingga saya diajak ke Kota "Palembang".saya selalu diajarkan untuk selalu taad kepada perintah Allah dan rasullah serta patuh kepada orang tua, sedari kecil sudah diajarkan.

Berjalannya waktu saya menyadari harus memulai kehidupan tanpa kakek, kepulangan kakek menyadari saya bahwa kehidupan didunia hanyalah sementara waktu, oleh karena itu terus memberikan kebermanfaat untuk ummat manusia.

Tiada hari yang spesial bagi saya, semua hari itu sama, memintak maaf dan berkumpul tanpa harus lebaran, namun tidak lebaran pun bisa, hanya saja lebaran adalah momen.

Kepulangan kakek membuat kerabat jauh jarang pulang, dan di rumah hanya tersisa orang tua dan adik-adik. Jujur aku merindukan momen berkumpul dengan seluruh keluarga, aku Rindu hal itu.

Aku hanya ingin menghirup secangkir teh bersama kakek dan seluruh keluarga, aku ingin makan bersama, ahh sudahlah biarkan kita sendiri menciptakan kebahagiaan.

Cerita kakek adalah hal yang selalu membuat ku membara dalam ingin berkenala menjelajahi Nusantara dan dunia.

Aku penasaran dengan Amerika, ada apa di Amerika yang membuat nama nya terkenal di penjuru dunia, aku penasaran di cina? Ada apa di cina, aku penasaran dengan Jepang?, ada di Jepang. Aku ingin menjelajahi nusantara dan dunia.

Berawal dari sebuah kesadaran kecil bahwa kehidupan yang sudah terlewati tidak akan pernah kembali, hingga jiwa akan selalu bergerak semaksimal keinginan raga memahami.

Waktu kecil Aku melihat, memperhatikan banyak sekali kawan-kawan yang tidak bisa sekolah, bukan karna tidak mau. Namun terhalang ekonomi.

Aku melihat dan memperhatikan banyak sekali orang-orang yang meninggal karena pembunuhan, terlebih lagi itu orang yang saya tahu.

Aku melihat dan memperhatikan banyak sekali rakyat yang melarat, menangis dan merintih kesakitan.

Aku merasakan, apa yang di rasakan. Ada sesuatu yang bekobar dalam dada, seperti api yang bergejolak, kemudian aku memutuskan untuk membuat perubahan, namun sekarang aku harus belajar memahami kehidupan.

Sekarang aku adalah seorang mahasiswa hukum di uin Raden Fattah Palembang. Aku kuliah bukan untuk bekerja, aku kuliah untuk perubahan.

Aku ingin membuat lembaga hukum yang bisa membantu rakyat banyak tanpa pamrih, yang nama nya tersandang nama kakek saya.

Aku ingin membuat rumah sakit khusus yang didalam nya terdapat harapan-harapan, kebahagiaan dan tampah pamrih.

Aku ingin membuat perusahaan yang besar sehingga bisa membantu rakyat banyak dalam mencari nafka.

Aku ingin membuat sekolah untuk rakyat seperti yang dibuat oleh tan malaka, yng didalam nya terdapat orang-orang intelektual dengan harapan besar dan memiliki kemajuan untuk negeri kita tercinta ini.

Aku ingin pendamping hidup yang menyayangi keluarga ku, dan aku dengan segalah kekurangan serta Mensuport, sudah cem itu saja keinginan ku.

Jika bergerak memilih arti? Kenapa memilih diam dan mati. Belajarlah memahami, merefleksi, dan merevolusi adalah jiwa seorang manusia yang pemberani.

Bukan anak ningrat tapi harus kuatkan tekad, bukan super hero tapi pantang tunduk pada ego. Hanya anak petani yang selalu ingin memahami dan mencoba menghayati dari setiap surat-surat tersembunyi


KEMBALI KE ARTIKEL