Mohon tunggu...
KOMENTAR
Hukum

Putusan Pengadilan Tinggi DKI No. 318/PDT/2020 Diduga Terdapat Kejanggalan, Ketua MA Diminta Kedepankan Peradilan yang Bersih

5 Maret 2021   17:44 Diperbarui: 5 Maret 2021   18:01 183 2

Jakarta, Ketua Mahkamah Agung HM Syarifuddin SH MH diminta agar mengedepankan peradilan bersih, berintegritas, jujur dan bebas dari intervensi.

Terkait perkara putusan Pengadilan Tinggi DKI Nomor 318/PDT/2020/PT DKI jo putusan PN Jakarta Barat Nomor 898/Pdt.G/2018/PN.Jkt.Brt yang diduga terdapat kejanggalan. Saat pemeriksaan perkara tingkat Pengadilan Negeri.

Dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat dan majelis Hakim tingkat banding Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dinilai telah lalai dalam melakukan pertimbangan Hukum. Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Tinggi tidak memasukkan PT.Badra dan atau PT.Putra Mandiri Sentosa sebagai pihak, Dalam perkara wanprestasi antara Yumianto (tergugat) melawan Ang Kyad Padma Adhirama.

Pada persidangan tingkat pertama dinyatakan PT.Badra/PT PMS tidak terkait. Padahal, Dengan pemohon kasasi tentu saja ada kaitannya, bahkan bermasalah terkait dengan tanah-tanah yang dibeli pemohon kasasi Yumianto.

"Majelis Hakim tingkat banding menyatakan notaris dan PT.Badra tidak ada hubungan hukum langsung dengan termohon kasasi sehingga menjadi benar apabila tidak dijadikan pihak dalam gugatan. Pertimbangan tetsey tentu saja menyesatkan dan nyata-nyata telah  bertentangan dengan hukum, Karena menyebabkan subyek dan obyek penggugat tidak terang benderang, tak jelas bahkan gelap gulita,"ujar Yunianto.

Yunianto menilai gugatan termohon kasasi tersebut diduga kurang pihak. Salah satunya yakni, karena tidak memasukkan PT.Badra/PT PMS sebagai pihak dalam gugatan.

Hal tersebut menjadikan gugatan termohon kasasi tak lengkap atau kurang pihak. Padahal dalam gugatannya termohon kasasi merasa dirugikan akibat lahan miliknya diklaim oleh PT.Badra/PT PMS sebagai miliknya. Atas dasar hal tersebut, pemohon kasasi menyatakan majelis hakim telah salah menilai fakta hukum.

Dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut, Majelis Hakim tingkat pertama dan majelis Hakim tingkat banding diduga tidak cermat
dalam menerapkan hukum, sehingga seharusnya putusan patut untuk dinyatakan tidak dapat diterima atau NO. Lebih dari itu, pemohon kasasi tidak sependapat pula dengan pertimbangan majelis hakim banding yang menyatakan putusan Pengadilan Negeri  Jakarta Barat telah tepat dan benar. Akibatnya majelis hakim banding sama sekali tidak memberikan dasar atau alasan hukum untuk melakukan pengambilalihan pertimbangan hukum dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat yang seharusnya putusannya dibatalkan demi hukum.

Majelis hakim pada dua tingkatan telah mengabaikan hak dan kewajiban pemohon kasasi yang tertuang dalam akta perjanjian kerja sama. yang mengakibatkan pemohon kasasi dinyatakan telah melakukan wanprestasi terhadap termohon kasasi.  

Penilaian (judex factie) di tingkat pertama dan banding ini mengabaikan hak-hak pemohon kasasi menjadi abu-abu, karena tidak dipertimbangkan sama sekali dalil pemohon kasasi yang pada akhirnya menyebabkan tidak terpenuhinya pengadaan tanah seluas 10 hektare (ha). Padahal, itu semua terjadi disebabkan kesalahan termohon kasasi pula.

Pemohon kasasi menilai telah terjadi sikap memihak, berat sebelah, tidak adil dan tak berimbang hingga pada akhirnya memberikan pertimbangan tak adil juga bagi pemohon kasasi.

Restu Widiastuti juga menilai majelis peradilan tingkat pertama dan banding telah melakukan tindakan melampaui batas wewenangnya hingga melahirkan putusan yang salah dan bertentangan. Disebutkan dalam putusan bahwa akta notaris merupakan produk yang dibuat profesi lain yang diakui secara sah sesuai hukum. Dengan begitu majelis hakim seharusnya tidak bisa mengatakan akta tersebut batal demi hukum. Melainkan hanya bisa menyatakan akta cacat hukum. Itu berarti majelis hakim telah mengabulkan apa yang tidak diminta oleh termohon kasasi atau dalam hal ini penggugat.

Berdasarkan berbagai kekurangan di tingkat pertama dan banding tersebut, pemohon kasasi meminta Ketua MA dan majelis hakim agung selanjutnya agar memberikan pertimbangan hukum berlandaskan ketentuan hukum yang berlaku sehingga terjamin adanya kepastian hukum itu sendiri. Dengan begitu, sesuai keadilan, majelis hakim agung diminta agar mengabulkan permohonan kasasi seluruhnya dan membatalkan putusan PN Jakarta Barat serta putusan PT DKI Jakarta yang tentu saja dengan terlebih dahulu mengabulkan eksepsi pemohon kasasi dan menolak gugatan termohon kasasi.

Termohon kasasi Ang Kyad Padma Adhirama maupun penasihat hukumnya yang berusaha dimintai tanggapan atas permohonan kasasi Yumianto, belum berhasil. Begitu juga Humas PN Jakarta Barat maupun PT DKI Jakarta.  Namun kepaniteraan PN Jakarta Barat mengisyaratkan bahwa termohon kasasi telah mengajukan kontra memori kasasi.

Yumianto bekerja sama dengan terikat perjanjian dengan PT Pesona Sahabat Rumiri (PSR) untuk bebaskan lahan 10 ha di Desa Cikuda, Parung Panjang, Bogor. Dalam perjanjian Yumianto yang membeli secara langsung tanah tersebut dari pemiliknya/warga baru kemudian dibeli lagi oleh PT PSR.

Yumianto ternyata dapat membebaskan lahan 11 ha lebih dari yang disepakati. Dari yang 10 ha tersebut, sekitar 1,5 ha diantaranya ditolak PT PSR dengan alasan lahan tersebut milik PT  Badra/PT PMS. Padahal seluruh lahan tersebut (11 ha) telah dilakukan pelepasan hak dari warga dan dibayar lunas seluruhnya oleh Yumianto.

KEMBALI KE ARTIKEL