Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Cerpen: Si Gadis dan Dua Dunia

16 April 2021   03:32 Diperbarui: 16 April 2021   03:32 228 4

Siang itu cukup terik. Banyak warga berjalan -- jalan di tengah kota. Seorang pengacara menembus keramaian itu, dan berhenti di toko bunga.

"Berapa lama aku tak kesini?" Tanya pengacara itu kepada nenek penjaga toko.

"Entahlah, saking lamanya rambutku sampai memutih." Kata si nenek.

Mereka berdua tertawa, lalu melanjutkan obrolan. Sementara si gadis, mendengarkan kedua orang itu berbincang sambil membersihkan rak bunga.

"Kau tampak segar. Apa kau sudah pulih?" Tanya si nenek.

"Tentu saja. Aku baru libur beberapa minggu, makan enak, dan tidur juga nyenyak. Apalagi sekarang ditemani seorang wanita cantik."

"Ah, sudah lama aku tak dirayu pria tampan."

"Tidak, Nek. Wanita yang kumaksud bukan Nenek. Tapi dia." Si pengacara menoleh ke si gadis, dan si gadis membalasnya dengan senyuman bingung.

"Nona, berkat kunjunganmu ke kerajaan kemarin, bunga -- bunga itu jadi lebih rapi dan nyaman dilihat."

"Terimakasih, Tuan."

"Sebenarnya kemarin aku ingin duduk dan minum teh bersama, tapi kau buru -- buru pulang."

"Ah, maaf. Waktu itu saya ada urusan. Jadi saya pulang lebih cepat."

"Oh, begitu. Baiklah. Kapan -- kapan datanglah lagi, mumpung anakku belum pindah ke utara."

Lalu si pengacara membeli satu ikat bunga.

"Toko ini ternyata bisa bertahan juga." Kata si pengacara.

"Begitulah, karena selalu ada pembeli yang singgah dan menggodaku." Kata si nenek.

"Jangan mulai, Nek. Tapi aku senang karena disinilah aku bisa mendapat bunga segar. Toko bunga lain banyak yang sudah tutup. Apalagi wabah itu belum hilang."

"Jadi wabah itu masih menyerang tanaman di kota ini?"

"Ya. Bunga -- bunga dan rumput banyak yang mati. Kambing dan sapi jadi kekurangan makanan. Lama -- lama mereka juga habis, dan kita manusia juga kena getahnya."

"Apa pihak kerajaan sudah minta tolong ke kerajaan lain?"

"Sayangnya belum. Karena saat aku dan kusirku hendak pergi minta tolong, kami dicegat Lemah Geni. Dan makhluk itu masih di hutan itu."

"Sayang sekali. Jadi bagaimana mengatasi wabah aneh itu?"

"Entahlah. Yang jelas kalau begini terus, kita dalam masalah besar."

Lalu si pengacara berpamitan, dan karena sudah malam, si nenek menutup toko itu. Sedangkan si gadis masuk ke dalam kamarnya.

"Dimana kau? Ada yang ingin kuceritakan."

Ia mencari sesuatu di lemari, di laci dan di kolong tidur. Tapi sesuatu itu tak ditemukannya. Lalu dari atas kamar, tiba -- tiba terjunlah sepetik bunga mawar. Ia menempel di punggung si gadis.

"Kena kau!" Kata mawar itu.

Si gadis terkejut sampai jatuh ke lantai.

"Mawar aneh! Bikin kaget saja!" Katanya sambil mengatur nafas.

"Darimana saja kau?"

"Tidak ada. Aku hanya berdiam di atas kamar ini. Aku bosan, jadi aku menunggumu datang dan mengagetkanmu."

"Kau sudah puas?"

"Emm.. belum. Tapi kebosananku berkurang banyak."

"Dasar."

Lalu si mawar duduk disamping si gadis.

"Katanya mau cerita."

"Ya. Tadi ada pengacara kesini membeli bunga. Dia bilang, di kota ini banyak bunga dan rumput mati. Lalu aku ingat duniamu. Jangan -- jangan ini ada hubungannya dengan mandrake itu."

"Ah, akhirnya kau sadar. Jadi memang benar, mandrake itu menghancurkan dunia kami. Dan karena dunia bunga terhubung dengan dunia nyata, jadi tanaman disini juga ikut mati."

"Terhubung?"

"Ya. Kalau tak percaya, ayo kita keluar."

"Kemana?"

"Sudah. Bawa aku keluar sekarang."

Si gadis itu mengikuti saran si bunga. Ia mengendap -- endap turun dari lantai atas, lalu keluar dari toko bunga itu bersama si mawar.

Malam itu cukup gelap. Tapi bulan terlihat mengintip di balik awan.

"Kita mau kemana?"

"Bawa aku ke tempat dimana tanaman itu mati."

Lalu si gadis membawa si mawar ke sebuah kebun. Di kebun itu banyak tumbuhan hijau, tapi banyak yang mati.

"Lihatlah batang tumbuhan itu."

Si gadis melihat batang tanaman yang mati. Baik batang dan tangkainya seperti habis dililit sesuatu, hingga mereka tampak menyusut.

"Itu ulah mandrake. Mereka melilit tanaman di dunia kami. Lalu tanaman disini juga ikut mati karena serangannya." Kata si mawar.

Si gadis memperhatikan ranting itu lebih dekat. Dia ingat bekas lilitan itu mirip dengan sulur mandrake yang menyerangnya di dunia bunga.

"Jadi benar begitu ya. Wabah yang menyerang tanaman di kota ini ternyata berasal dari ulah mandrake itu."

"Begitulah."

"Tapi bagaimana dunia bunga bisa terhubung dengan dunia ini?"

"Inilah yang menghubungkannya." Kata si mawar sambil menunjukkan sebuah lubang. Lubang itu berputar -- putar seperti pusar. Di dalamnya terlihat beberapa tanaman di dunia bunga.

"Lihatlah. Disana ada beberapa bunga yang mati, dan disini juga. Karena sebenarnya dunia kita bersisian." Kata si mawar.

"Jadi, kalau aku bisa mengalahkan mandrake itu, maka tanaman disini tidak akan diserang lagi?"

"Ya."

"Tapi bagaimana caranya?"

"Aku lihat kau mengetahui beberapa tanaman. Pelajarilah tanaman -- tanaman itu, dengan segala keunggulan dan kekurangannya. Kalau kau sudah menemukan tanaman yang pas untuk bertarung melawan mandrake, maka tata dan pimpinlah kami melawan mandrake."

"Tapi tanaman disini jumlahnya sedikit. Aku tahu beberapa jenis bunga, tapi kurasa tidak ada yang bisa mengalahkan mandrake itu."

"Makanya aku ajak kau kesini. Ayo kita masuk ke lubang itu, akan kutunjukkan sisi lain dari dunia kami."

"Kita mau kemana?"

"Ke dunia buah."

Lalu si mawar berlari dan melompat ke pusaran lubang tadi. Si gadis mengikutinya juga, dan mereka sampai di dunia buah, dimana dunia itu sangat gelap, agak pengap tapi ada beberapa benih buah yang terus menggeliat -- geliat tanpa henti, menunggu dipilih oleh si gadis untuk melawan melawan para mandrake.

Tamat

Cerita selanjutnya:
Si Gadis dan Bunga Mawar Ajaib

KEMBALI KE ARTIKEL