Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Berderma Kata

20 April 2020   11:45 Diperbarui: 20 April 2020   11:57 59 5

Di salah satu group WA yang saya ikuti, ada seorang member bernama Vito. Saya suka banget sama dia. Dan percaya gak? Alasan saya suka sama dia, sepele banget. Karena Vito selalu merespon semua orang yang posting ke group. Vito sendiri jarang posting ke group. Tapi dia rajin sekali merespon postingan yang masuk ke group. Meskipun itu cuma postingan broadcast atau hasil forward dari group sebelah, dia tetep membalasnya.

Tiap ada yang posting topik motivasi, dia akan merespon, "Wah, postingan ini membuat gue semakin optimis menghadapi hidup. Thanks, Bro."

Kalo ada yang posting tentang sulap atau cerita lucu, dia akan nyaut, "Menghibur banget! Makasih, Bro."

Ketika ada yang ngirim tentang teknologi, dia akan membalas, "Luar biasa! Membuka wawasan sekali. Sering-sering posting kayak ginian, Bro."

Jika ada yang memposting tulisannya sendiri, Vito nyaut lagi, "Wah, tulisan lo mencerahkan sekali. Ditunggu tulisan berikutnya, Bro."

Pokoknya respon dari Vito sangat menyejukkan. Saya aja bacanya seneng banget. Apalagi orang yang direspon, kan? Iseng-iseng saya japri dia, "To, lo rajin banget merespon postingan orang? Kan dia ngirim konten itu bukan spesifik ke elo."

Gak butuh waktu lama dia langsung ngejawab, "Gue memang lagi berderma kata, Om Bud. Hehehe..."

"Maksudnya gimana, tuh, berderma kata?" tanya saya penasaran.

"Ada temen gue curhat. Katanya dia kesel karena sering posting ke group tapi gak ada yang merespon. Dia bilang member di group gak apresiatif. Gak ada etika."

"Sumpe lo? Ada orang mikirnya sampe begitu?" tanya saya takjub.

"Serius! Tadinya gue kira dia cuma curhat doang. Eh, gak taunya beneran marah. Marah besar!"

"Waduh!"

"Bahkan di beberapa group lain dia sampe left karena gak tahan merasa dicuekin kayak gitu."

"Oh, okay! Jadi gara-gara curhatan orang itu, lo selalu merespon setiap postingan orang lain?" tanya saya menegaskan.

"Tepat sekali! Lo harus tau, Om Bud. Bukan cuma temen gue doang tapi banyak orang yang sensitif kayak gitu. Makanya sejak itu gue selalu berderma kata. Apa ruginya, sih, ngebikin orang senang? Iya, kan?" kata Vito.

"Iya, gue setuju! Hebat lo, To. Kagum gue sama lo." kata saya setulusnya.

"Halah! Cuma berderma kata doang, apa yang harus dibikin kagum? Semua orang juga bisa melakukannya." kata Vito lagi.

Hebat banget, ya, temen saya ini. Dia bilang semua orang juga bisa melakukannya. Iya bener, sih! Tapi pertanyaannya, ada gak orang yang mau melakukannya? Kalo ada, berapa banyak? Kalo saya perhatiin di seluruh group WA yang saya ikuti, jarang banget orang mau berderma kata kayak Vito.

Dulu saya hanya bisa kagum pada orang yang mampu berderma harta dalam jumlah besar. Misalnya sahabat Rasullulah, Abu Bakar, yang mendermakan seluruh hartanya. Atau temen saya yang mewakafkan 1 hektar tanahnya untuk dibangun jadi pesantren di kampung halamannya. Tapi berderma kata? Gile! cara berderma yang murah banget, tuh. Berderma tanpa mengeluarkan uang dan tenaga.

Omongannya Vito membuat saya mencoba menelaah lebih dalam. Saya terus berpikir, kenapa saya bisa kagum sama orang yang berderma kata? Setelah merenung beberapa lama, saya mulai mendapatkan jawabannya.

Manusia jaman sekarang lebih banyak menghabiskan hidupnya di dunia digital. Dan di social media yang mendominasi adalah kata-kata. Kata-kata seperti apa? Di era digital ini yang paling banyak berseliweran adalah kata-kata negatif. Kita tau sejak pemilu kemaren, bangsa kita sudah terpecah-belah. Setiap hari pasukan buzzer terus berperang di social media. 

KEMBALI KE ARTIKEL