Mohon tunggu...
David Abdullah
David Abdullah Mohon Tunggu... Lainnya - —

Best in Opinion Kompasiana Awards 2021 | Kata, data, fakta

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Batik Nusantara Penjalin Solidaritas, dari Difabel untuk Difabel

4 Januari 2022   13:32 Diperbarui: 4 Januari 2022   13:36 1876
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Teguh sedang fokus menjahit masker batik yang menjadi salah satu andalan Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)

Kendati sempat beberapa kali keluar dari rumah batik tempat ia bekerja sekarang, kerinduannya untuk bertemu sahabatnya tidak bisa dibendung. Teguh memutuskan kembali bekerja di sana usai usaha pribadinya layu akibat hantaman Pandemi Covid-19.

Teguh mengaku lebih nyaman ketika berkumpul bersama temen-teman sesama difabel. Di sana, semua orang sudah seperti keluarganya sendiri. Apalagi, nuansa kekeluargaan itu juga didukung dengan sikap pengurusnya yang selalu mengayomi rekan-rekan penyandang disabilitas.

Akibat keterbatasan fisiknya, ia tak mendapatkan dukungan moral dari keluarganya sendiri. Namun, pria 30 tahun itu tetap menjalani hidupnya dengan begitu tabah. Dari sana kita tahu, nama Teguh memang selaras dengan sikapnya dalam menghadapi kehidupan.

Beruntung, selain memperoleh pekerjaan tetap, ia juga dipertemukan oleh jodohnya. Lusi, 29 tahun, yang juga pegawai senior di rumah batik itu, berhasil ia pinang. Sama seperti Teguh, perempuan asal Sidoarjo itu juga memiliki keterbatasan fisik. Keduanya seolah-olah ditakdirkan untuk saling melengkapi satu sama lain.

Teguh mengaku, hidupnya menjadi lebih bermakna setelah menikahi Lusi. Pernikahan itu memberinya semangat hidup lebih, terutama usai sepeninggal sang ibunda.

Ariyono Setiawan sedang memberikan instruksi kepada pekerja difabel di Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)
Ariyono Setiawan sedang memberikan instruksi kepada pekerja difabel di Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)

Jika bukan karena jasa Ariyono Setiawan, bisa jadi kisah hidup mereka tak akan seberuntung saat ini. Beliau lah tokoh di balik Rumah Batik Wistara yang manjadi gelanggang bagi kaum difabel dalam menantang kerasnya kehidupan.

Di jalan Tambak Medokan Ayu VI C, Kelurahan Medokan Ayu, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya, berdiri sebuah bangunan yang menjadi asrama sekaligus tempat bekerja bagi puluhan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Ada 10 ABK yang berhasil dirangkul oleh pria yang akrab dipanggil Aryo itu. Sebelumnya, ada 18 ABK yang sempat bekerja di sana. Akan tetapi, tatkala pagebluk menerjang, beberapa dari mereka harus undur diri dari UMKM dalam bidang batik tersebut.

Suasana ruang kerja Rumah Batik Wistara Surabaya kala dikunjungi penulis. | Dokumentasi pribadi penulis
Suasana ruang kerja Rumah Batik Wistara Surabaya kala dikunjungi penulis. | Dokumentasi pribadi penulis

Berbeda dengan produsen batik lainnya, industri batik rumahan ini memberdayakan para difabel dalam berkarya lebih dari satu dekade lamanya. Rumah Batik Wistara telah didirikan sejak tahun 2010 silam, dengan fokus utama pemberdayaan para penyandang disabilitas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun