Mohon tunggu...
David Abdullah
David Abdullah Mohon Tunggu... Football Enthusiast

“We do not pass to move the ball. We pass to move the opposition.” - Pep Guardiola

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Kisruh Konflik Kepentingan dan Optimistis ala Alfred Riedl

10 September 2020   23:50 Diperbarui: 11 September 2020   19:10 1381 44 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisruh Konflik Kepentingan dan Optimistis ala Alfred Riedl
Pelatih tim nasional Indonesia, Alfred Riedl (tiga kiri) saat memimpin latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Rabu (12/11/2014). (Foto: SUPER BALL/FERI SETIAWAN)

Mungkin Riedl telah gagal di dua partai final. Namun, ia tak pernah sekalipun gagal menumbuhkan optimistis sepak bola Indonesia.

Mengawali karier sebagai striker, Riedl menegaskan betapa tajam dirinya kala mengemas 58 gol dari 98 laga di klub senior pertamanya, FK Austria Wien.

Setelah menghabiskan lima musim di klub Austria, Riedl lantas hijrah ke Belgia dengan membela tiga klub yang berbeda, yakni Sint-Truiden, FC Antwerp, serta Standard Liege. Selain itu ia juga pernah bermain bersama FC Metz, Grazer AK, Wiener Sport-Club, dan yang terakhir VfB Modling.

Di Austria Wien, Riedl memberikan 2 kali gelar juara Bundesliga Austria di musim 1968-69 dan 1969-70 serta Piala Austria edisi 1970-71. Di Grazer AK, ia juga dapat merasakan manisnya raihan juara Piala Austria di musim 1980-81.

Selain trofi bersama klub, sejumlah gelar individual juga pernah dirasakan Alfred Riedl ketika menjadi top skor Bundesliga Austria musim 1971-72. Di Belgia Riedl menorehkannya bersama Standar Liege musim 1972-73 serta 1974-75.

Selama menjalani karier sebagai pemain, total ia mampu mencetak 210 gol dari 427 pertandingan dengan catatan konversi gol hampir mencapai 0,5 per laga. Rekor golnya jauh melampaui konversi 166 gol (499 laga) milik pemain Real Madrid, Gareth Bale, yang ia bukukan selama ini.

Produktivitas golnya sangat kontradiktif dengan prestasinya ketika menjabat sebagai pelatih, baik di level klub maupun timnas. Mulai dari Wiener Sport-Club, sampai timnas Indonesia 2016. Tidak satupun trofi juara yang berhasil Riedl persembahkan hingga akhir hayatnya.

Namun, komitmennya terhadap timnas Indonesia tak perlu diragukan. Pelatih berpaspor Austria itu bahkan rela sejenak meninggalkan istrinya yang sedang sakit demi melatih timnas Indonesia di Piala AFF 2016 lalu.

Kesetiaan Riedl di tengah konflik dualisme PSSI

Riedl bukan orang asing di kancah sepak bola Asia Tenggara. Bahkan ia sudah sangat berpengalaman karena selain pernah melatih timnas Garuda, Riedl juga pernah menangani Vietnam dan Laos.

Selama melatih tim-tim tersebut, Riedl telah merasakan ajang Piala AFF dalam enam edisi termasuk gelaran Piala AFF 2016. Lebih banyak dari pelatih manapun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN