Mohon tunggu...
Kiki DianLesmana
Kiki DianLesmana Mohon Tunggu... Student of Communication Science at Padjadjaran University

Love gender studies, media, badminton, and mental health

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Rezim Seksualitas dalam Film Orde Baru: Vulgarisasi dan Eksploitasi terhadap Tubuh Perempuan

20 November 2019   15:57 Diperbarui: 20 November 2019   17:27 0 0 2 Mohon Tunggu...
Rezim Seksualitas dalam Film Orde Baru: Vulgarisasi dan Eksploitasi terhadap Tubuh Perempuan
ilustrasi: kompas.com

Gadis panggilan, Bernafas Dalam Lumpur, Godaan, Wanita Dalam Gairah, Gairah Malam, Membakar Gairah, Kenikmatan Ranjang Semua Orang, Kenikmatan Semu, Maidah Perawan Buronan, Fatima Budak Nafsu, Cinta dan Nafsu, Ranjang Cinta, Cinta Dibalik Noda, Bukit Berdarah dan lain sebagainya.

Judul-judul diatas adalah kumpulan judul film di era orde baru. Begitu vulgar, sensual dan terlihat mengeksploitasi birahi. Judul-judul diataspun juga mudah sekali ditebak secara eksplisit dalam menunjukkan gambaran cerita dewasa yang akan dipenuhi dengan bumbu-bumbu seks dan adegan panas.

Bukan sesuatu hal yang tabu lagi bila kita membuka kembali lembaran orde baru yang diwarnai dunia hiburan yang keruh. Mengapa demikian, sejatinya bila kita menulusuri berbagai literatur pasti akan ada banyak literatur yang menyatakan bahwa pola kebijakan ekonomi di era baru ini adalah liberal yang berorientasi ke arah blok barat yakni pemerintah Soeharto membuka keran investasi selebar-lebarnya bagi ekonomi barat untuk memasuki ruang ekonomi bangsa kita yang kala itu sedang lesu karena dilanda inflansi.

Soeharto membutuhkan vitamin untuk membangun ekonomi Indonesia melalui utang serta dengan cara mengharmonisasi hubungan dengan blok barat pada berbagai sektor termasuk budaya dan hiburan salah satunya adalah melalui film. Dampak dari budaya barat ini sangat terasa sekali pada terciptanya budaya konsumerisme, westernisaasi, hedonisme dan sekularisme ala barat yang mulai mencekoki anak-anak bangsa.

Dalam film, melalui kebijakan ekonominya, Pemerintah Soeharto mengkomersialisasi film barat di Indonesia dengan memperlonggar sensor pada film-film tersebut karena film barat sendiri banyak mengandung unsur kekerasan dan seksualitas. Mulai dari situlah penonton di bioskop-bisokop Indonesia kembali hidup. Para sineas Indonesia tidak ketinggalan trend, mereka ikut pula memproduksi gaya film lokal yang serupa dengan film barat yakni dengan mengeksploitasi kekerasan dan seksualitas.

Film-film tersebut didominasi oleh cerita tokoh perempuan sebagai objek seksual yang lemah, pasrah dan marjinal. Tidak jarang ada juga film yang mengambil cerita tokoh perempuan sebagai sosok perempuan nakal yang haus seks, rendahan, dan kerap mengelabui lelaki dengan modus godaan tubuhnya. Lekukan tubuh perempuan menjadi objek paling memikat untuk menarik pangsa penonton khususnya penonton adam. 

Gaya film ini ternyata cukup ampuh dalam mengambil atensi penonton. Terbukti film yang banyak mengeksploitasi seksualitas cukup laku dipasaran. Sementara itu, film dengan wajah datar tanpa adanya bumbu seks kurang begitu diminati oleh penonton. Setiap film dengan berbagai genre apapun baik itu laga, drama, romance, keluarga, tidak epik dan sedap rasanya bila tidak dicampur dengan nuansa seksualitas.

Praktik dalam memproduksi gaya film panas ini terus terlestarikan sepanjang era orde baru. Bahkan pada era ahun 1990an hal ini lebih parah lagi, berbagai judul dengan nuansa seksual eksplisit kerap diproduksi. Judulnya mirip sekali dengan film porno yang menjual birahi sebagai konsumsi utama. Kualitas perfilman Indonesia yang seharusnya beradu kreativitas justru mati suri oleh seragamnya tema-tema perfilman yang hanya berkutat disekitaran tema seksualitas dan percintaan konvensional.

Padahal sejatinya banyak kalangan yang berpotensi merasakan dampak destruktif dari penayangan film yang mengeksploitasi konten seksualitas ini. Terutama bagi kalangan remaja dibawah umur yang belum cukup matang secara mental, stablitas emosi dan logika. Mereka akan mudah sekali terjerumus kedalam pergaulan bebas sebagai hasil dari tontonan realitas pewajaran seks dalam film. 

Eksploitasi pada berbagai film di era orde baru seolah sudah menjelma sebagai sebuah rezim yang mana setiap film terasa wajib untuk memasukan unsur seksualitas kedalam film tersebut. Di era tersebut, persepsi reaksioner telah tercipta, yang mana tidak akan laku apabila film tidak mengeksploitasi seks khususnya komodifikasi tubuh perempuan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x