Mohon tunggu...
Khoiron Katsir
Khoiron Katsir Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta

Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Menengok Corona di Desa di Tengah Gencarnya Razia di Kota

26 Januari 2021   13:15 Diperbarui: 26 Januari 2021   13:52 277
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Namun, seiring berjalannya waktu, ada beberapa faktor yang kemudian membuat mereka mulai ragu pada corona. Selain itu, mereka tidak terbiasa dengan protokol kesehatan itu. Apalagi, jarang ada himbauan dan pengawasan dari aparat, relawan maupun pemerintah setempat. Sehingga, mereka tidak merasa terkekang dengan sekelumit himbauan dan aturan pemerintah pusat.

***

Sekira dua bulan setelah kasus covid-19 pertama dulu diumumkan oleh presiden, terjadilah beberapa peristiwa yg kemudian mengakibatkan orang Madura tambah ragu pada bahaya corona.

Diantaranya; terjadi di sebuah desa bernama Tamansareh dan Batuporo, Sampang.  Ada orang meninggal dinyatakan positif covid. Karena penasaran, setelah jenazah tersebut dimakamkan oleh para nakes, lalu para nakes itu pulang, kuburan tersebut digali kembali oleh keluarga almarhum. Alhasil, didapati pakaian dalam beserta popok jenazah itu masih melekat di tubuhnya. Kabar itu pun dengan cepat tersebar. Hal yang demikian jelas membuat warga Madura geram. Anda tau sendiri kan, gimana berislamnya masyarakat Madura?

Ada pula kasus lain, yakni seseorang yang memang sudah sakit menahun, sebutlah namanya Citra (bukan nama sebenarnya) asal Taddan Sampang. Karena harus berobat dibawalah ia ke RSUD Sampang. Sebagaimana prosedur umumnya, ia harus di tes SWAB dulu. Dan ternyata hasilnya positif.

Karantina hari pertama di rumah sakit pasien ini menelpon keluarganya, ia mengaku dibiarkan tanpa perawatan yg jelas. 

Keluarganya pun datang menjemputnya. Proses penjemputan berlangsung dramatis. Pihak keluarga terlihat marah. Bahkan, ada seorang ibu-ibu dari keluarga tersebut mencak-mencak di halaman rumah sakit sambil ngomel-ngomel. Tanpa menunggu lama, video amatir yg merekam penjemputan itu viral di medsos.

Fenomena seperti dua kejadian diatas kian hari kian bertambah. Bahkan, orang-orang yang memang sakit bertahun-tahun yang harus di Rapid dan /atau SWAB test dulu saat berobat ke rumah sakit, lalu hasilnya positif, pernah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat desa saya. Muncul banyak spekulasi tentang hal itu. Yang paling dominan jadi perbincangan adalah dugaan bahwa corona seolah menjadi ladang bisnis rumah sakit.

Sekalipun dugaan itu mungkin tidak benar dan kurang berdasar, desas-desusnya menyebar secara cepat dan massif. Dampaknya, orang biasa hingga tokoh masyarakatnya semakin tidak percaya pada bahaya virus corona.

Bahkan, Sekitar bulan April 2020 lalu pernah saya ikut pengajian yang digelar secara besar-besaran di kampung saya di Madura, secara terang-terangan penceramahnya menyatakan tidak percaya pada ganasnya virus corona. Maka, semakin hanyutlah masyarakat pada perasaan bebas dari corona.

Kendati demikian, sekalipun orang-orang di Madura sebagian besar tidak menjalankan gerakan 3M dan tidak mau #dirumahaja, mereka sangat menikmati hari-harinya. Rutinitas berjalan normal seperti biasa. Tidak ada perubahan signifikan sebagaimana di kota. Pasar dan toko-tokok tetap dibuka, kegiatan masjid juga tetap jalan. Tidak ada pembatasan shaf sholat. Salaman setelah Sholat. Tidak ada pembatasan jam malam.  Kesehatan mereka juga terlihat baik-baik saja. Tidak ada penyakit aneh yang muncul begitu saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun