Mohon tunggu...
Kharisrama Trihatmoko
Kharisrama Trihatmoko Mohon Tunggu...

Support me to be a writer by finding my books at: www.salehajuliandi.com www.gramedia.com Thank you! :)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tes Seleksi Bekerja di Perusahaan Jepang

25 Juli 2016   21:29 Diperbarui: 25 Juli 2016   21:43 1926 1 0 Mohon Tunggu...

Kerja di Jepang? Mungkin bagi sebagian orang, hal ini adalah sesuatu banget. Saya sendiri kalau ditanya gimana perasaannya bekerja di sini, rasanya nano-nano. Kadang senang, kadang biasa saja, kadang bengong, kadang bosan, haha. Apalagi dengan semakin lama di sini, semakin tahu seluk beluk yang ada, sehingga perasaan pun sering berubah-ubah (baca: labil).

Rasanya gak asik kalo saya langsung membeberkan gimana caranya mendapatkan tawaran kerja di Jepang. Pakai intro sedikit dulu lah ya. Dulu saya gak berniat banget pengen pergi ke Jepang. Ketika masih awal-awal jadi maba ITB dulu, saya memang sempat mengikuti tes beasiswa Monbugakusho ke Jepang untuk kuliah S1. Tapi apa daya, saya gagal di tes tertulis. Dari situ, saya pun membesarkan hati dengan berkata ke diri sendiri, bahwa suatu saat nanti saya pasti ke Jepang (kayaknya sih kalo gak salah).

Dan kemudian saya pun larut dengan suka duka kuliah di ITB. Perlahan tapi pasti, mimpi untuk suatu saat ke Jepang pun bubar jalan. Justru negara-negara lain memikat hati saya. Misalnya, Turki. Dulu di akhir semester 3, saya pernah sempat hampir melarikan diri kuliah ke Turki karena merasa tidak cocok di jurusan saya. Lalu, US. Sempat juga email saya dibalas oleh penulis textbook kuliah di US sana (senang banget gak ketulungan). Kemudian, Denmark. Yang ini epic sekali, karena saya sampai melerakan uang 1,5 juta pergi begitu saja (lain kali aja ceritanya).

Dan, taraa. Di akhir semester 7 (atau awal semester 8), saya pun iseng memasukkan berkas CV saya ke beberapa lowongan kerja yang ada di ITB Career Center. Salah satunya adalah perusahaan Jepang yang kini merupakan tempat saya bekerja. Di pengumumannya tertulis bahwa para karyawan akan mengikuti training bahasa Jepang dan skill yang diperlukan sebelum bekerja. Hmm, boleh juga nih, saya pikir. Maka, saya pun mengupload berkas CV dan dokumen pendukungnya untuk mendaftar.

Akhirnya, setelah 2 bulan berselang (kalo ga salah), saya pun dipanggil untuk mengikuti tes seleksinya. Dan berikut ini adalah tahapan tes seleksi tersebut:

  • Tes tertulis
  • Seperti perusahaan umumnya, ada tertulis. Dulu saya pikir hanya psikotes atau TPA biasa. Tapi ternyata ketika disodorkan berkas soal, OMG, itu adalah tes kimia organik. Dan saya gak belajar sama sekali. Sedikit panik, tapi mau gimana lagi. Dengan mengandalkan kemampuan seadanya, saya pun mengerjakan tes tersebut. Soal tesnya dalam bahasa Inggris dan seputar hmm …
  • Tes wawancara
  • Ini jadi satu pasangan dengan tes tertulis sebelumnya. Setiap kandidat, diberikan jadwal tes wawancara untuk keesokan harinya. Wawancara diadakan dalam bahasa Inggris. Konten dalam wawancara ini biasa saja, ditanya tentang diri pribadi, keluarga, jurusan, dan tugas akhir. Saya merasa model wawancara seperti ini flat. Jadi tanpa sengaja, saya pun mengutarakan bidang yang menjadi minat saya, padahal tidak ditanyakan. Dan yang bikin saya kaget, karena si bos yang mewawancara merespon banget. Saya pun langsung diajukan untuk wawancara berikutnya dengan perusahaan klien. Kaget, tapi senang. Alhamdulillah aja.
  • Wawancara dengan perusahaan klien
  • Wawancara berikutnya diadakan keesokan harinya. Karena dengan perusahaan klien, jadi tempatnya sedikit beda. Kalo kemarin di kampus, sekarang agak mewah sedikit, di hotel. Sedikit oot, saya tuh untung-untungan banget. Karena saya dateng ke hotel berbintang tersebut dengan naik ojek, waktu agak mepet, dan gak terlalu mengecek penampilan saya, tapi rapi (haha ada tapinya).
  • Acara hari itu dibagi 3 sesi. Sesi pertama adalah presentasi perusahaan. Sesi kedua dan ketiga adalah wawancara. Di sesi pertama, kami mendengar company profile serta pengenalan produk perusahaan. Di akhir presentasi, karena pemikiran saya saat itu adalah momen untuk unjuk dan jual diri, maka saya pun mengajukan pertanyaan. Paling nggak sebelum wawancaranya dimulai, orang-orang klien itu sudah mencatat nama saya duluan.
  • Dan akhirnya, wawancara. Sedikit déjà vu dengan wawancara kerja yang pernah saya ikuti sebelumnya, saya mendapat giliran yang terakhir. Bahkan di sesi kedua, waktu saya adalah di saat maghrib lho. Sedih kan. Anyway, di sesi pertama, ada tiga orang yang mewawancara, sementara di sesi kedua, ada dua orang. Kedua sesi, tentu saja, dalam bahasa Inggris. Sesi pertama sepertinya untuk menganalisis personality kandidat, dan sesi kedua untuk menganalisis kompetensi. Karena untuk mengetahui watak alias karakter, jadi sesi pertama seperti obrolan santai. Saya ditanya mengenai diri, keluarga, alasan ingin bekerja di Jepang, rencana ke depan, pengalaman hidup, dan lainnya. Saya berusaha menjawabnya dengan santai, bahkan kadang diselingi tertawa. Pikir saya gak perlu malu, karena toh kalaupun gagal, saya tidak akan pernah bertemu orang-orang ini lagi. Dan sedikit pamer ke mereka, saya juga memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang. Dan kelihatannya mereka antusias sekali. Buntut-buntutnya, di akhir sesi, kami pun sedikit debat soal gaji, haha.
  • Di sesi kedua, saya agak cemas. Kenapa? Bukan karena pertanyaan apa yang bakal diajukan, tapi karena masalah timing. Saya merasa saat itu karena sudah hampir malam, kondisi pewawancara sudah tidak terlalu prima untuk mendengarkan saya. Jadi pikir saya, dengan jawaban yang sama, apa yang mereka tangkap sedikit banyak pasti akan berbeda jika saya wawancara di siang hari.
  • Alhasil, saya pun mengatur siasat. Alih-alih tanya jawab, saya berusaha membuat sesi itu seperti obrolan. Karena pasti akan boring, kalau isinya cuma pertanyaan dan jawaban. Dalam sesi itu, saya bercerita mengenai bidang studi, tugas akhir, rancang pabrik, minat saya, serta buku yang pernah saya tulis. Saya selalu berusaha meminimalisir jeda diam yang terjadi di antara kami. Kalau mereka diam, saya yang bercerita.
  • Selesai wawancara, kami pun diberitahu bahwa malam itu juga, kami akan dihubungi via handphone untuk mengetahui diterima atau tidak. Oh my goodness …
  • Pengumuman
  • ENG ING ENG. Sekitar jam 10 malam, hp saya pun dihubungi oleh nomor tidak dikenal. Dan ketika saya angkat, orangnya ngomong pakai bahasa Inggris! Oh my God, saya pun langsung ge-er. Dan akhirnya, saya pun diberitahu bahwa saya lulus dan diterima menjadi karyawan perusahaan tersebut, dan diminta datang besok ke kampus untuk menandatangani kontrak kerja. Alhamdulillah, ya Allah …

Itu dia sekelumit proses seleksi penerimaan yang saya ikuti untuk bekerja di perusahaan Jepang. Ada beberapa poin penting yang ingin saya catat di sini sebagai tips, lebih untuk diri saya sendiri:

  • Kenali keadaan
  • Ini poin yang paling saya dapatkan. Bahkan menurut saya, saya bisa lulus karena poin ini. Bukan cuma mengerti pertanyaan, tapi juga harus bisa menebak isi hati dan isi kepala orang yang mewawancara. Selain itu juga harus mengenali suasana dan timing saat itu jika memang perlu.
  • Gak perlu malu
  • Selama tiga kali wawancara, saya selalu berusaha pede maksimal saat menjawab. Selain untuk show myself, rasa pede juga dapat memperkuat bahasa Inggris yang digunakan. Orang Jepang katanya mudah terpesona dengan orang yang bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar,
  • Cari celahnya
  • Ini senjata terakhir yang sangat jitu. Pertama, harus mengenali kekuatan apa saja yang dimiliki. Lalu, selama wawancara, keluarkanlah di saat yang paling tepat dan rasakanlah efeknya. Misalnya, saya bercerita mengenai minat saya tanpa diminta yang kemudian membuat saya lanjut ke wawancara berikutnya. Saya sedikit berbahasa Jepang di sesi pertama yang membuat sesi tersebut berakhir dengan diskusi gaji. Saya bercerita mengenai juara lomba bahasa Jepang sewaktu SMA dan buku saya di jeda diam pada sesi kedua (kalau tidak salah). Akhirnya, saya pun lulus meskipun menjadi orang yang paling terakhir pulang saat itu.

Yah, bagaimanapun apa yang saya lakukan masih banyak kekurangannya. Tapi mungkin kekurangan itu juga dinilai, sejauh mana bisa ditolerir, dan apakah bisa menjadi landasan untuk berkembang dengan bekerja di Jepang (sok positif).

Semoga sharing kecil ini bisa membantu. Kata orang-orang yang selalu menasehati saya, just do it and let it flow …

VIDEO PILIHAN