Mohon tunggu...
KKN 111 KEBOIRENG
KKN 111 KEBOIRENG Mohon Tunggu... Mahasiswa - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA (PERIODE 11 JULI-25 AGUSTUS 2023)

Pemberdayaan adalah soal nurani, bukan kalkulasi.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Berhenti Diam Saat Alami Pelecehan Seksual

18 Juni 2021   11:43 Diperbarui: 18 Juni 2021   13:39 368
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Masculine Entitlement (wewenang maskulin) itulah salah satu jawabannya.

Para peleceh merasa mempunyai wewenang maskulin, sehingga mereka menganggap bahwa pelecehan adalah sifat alamiah manusia dan sebagai wujud dari ketertarikan seksual yang sama sekali tidak berbahaya.

Adanya rasa wewenang maskulin yang dimiliki oleh para peleceh juga membentuk sikap mereka yang berkeinginan untuk mempermalukan, mengontrol, meneror atau menyerang targetnya (Laura S. Logan, Fear of Violence and Street Harassement: Accountability at The Intersections. Kansas State University, 2013).

Lalu, jika aku atau kamu sampai mengalami pelecehan, apa yang bisa kita lakukan?

Pertama dan yang paling utama, tarik napas dalam-dalam, tetap berkepala dingin, tenang, dan terkendali. Sebenarnya tidak ada respons atau cara yang benar-benar sempurna. Namun, tetap ada beberapa respons yang dapat kita lakukan. Yang terpenting kita harus merespons, karena kita melakukannya demi diri kita sendiri.

Ini dia beberapa langkah yang bisa kita lakukan jika ingin mengonfrontasi para pelaku pelecehan:

  • Bersikap Tegas

Tatap mata pelaku dengan tatapan yang menunjukan bahwa kita sangat tidak menyukai tindakannya. Lalu kecam tindakannya dengan suara yang jelas dan keras. Dikondisi semacam ini, keberanianlah yang sangat kita perlukan.

  • Katakan Apa yang Kita Rasakan

Beri tahu orang yang berani melecehkan kita agar berhenti melakukannya dan mintalah untuk bergerak menjauh dari kita, atau beri tahu mereka bahwa kita merasa tidak nyaman dengan prilaku mereka. Apapun yang kita katakan, tidak perlu menyesalinya karena itu adalah bentuk sayang kita kepada diri kita sendiri.

  • Jangan Pernah Terpancing

Setelah menetapkan batasan, jangan mau terpancing dan terlibat dalam dialog dengan orang tersebut. Karena mereka sama sekali tidak memiliki pola pikir bahwa mereka akan mau belajar, jadi lebih baik kita menghindar.

  • Libatkan Orang Lain

Kita selalu memiliki kesempatan untuk meminta bantuan dari orang-orang sekitar. Jika orang di sekitar kita tidak melihat apa yang terjadi, maka beri tahu mereka secara detail apa yang sudah dilakukan atau dikatakan oleh pelaku pelecehan. Selain itu, beri tahu juga tentang apa yang dipakai oleh pelaku pelecehan sehingga bystander (saksi) bisa mengenali mereka. Setelah itu kita bisa meminta mereka untuk tetap bersama kita sampai situasi membaik atau meminta bantuan mereka untuk menghubungi pihak yang bisa membantu kita (keluarga, satpam, polisi, dan lain-lain).

  • Dokumentasikan

Jika kita merasa cukup aman, jangan lupa untuk mendokumentasikan kejadian atau hal yang berkaitan dengan pelaku pelecehan. Pastikan kita merekam lokasi dan pelaku dengan jelas. Kita bisa menggunakan dokumentasi tersebut untuk mumutuskan jika ingin berbagi cerita secara daring atau melaporkannya ke pihak berwajib.

  • Langsung Pergi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun