Kesehatan

Miras di Kalangan Remaja

9 Agustus 2018   20:15 Diperbarui: 9 Agustus 2018   21:16 216 0 0

Miras, atau yang lebih dikenal sebagai minuman keras merupakan minuman yang dapat menimbulkan efek yang memabukkan siapa pun yang meminumnya. Minuman keras bisa dalam bentuk minuman keras murni dan bias berupa oplosan. Miras oplosan yaitu suatu minuman keras yang dicampur dengan bahan lain seperti obat nyamuk, minuman bersoda, atau minuman lainnya.

Minuman keras dapat menyebabkan berbagai dampak negatif. Faktanya, pada 10 April 2018 lalu, di Jawa Barat dan Jakarta 82 korban tewas akibat mengonsumsi miras oplosan. Minuman miras oplosan mengandung etanol yang tidak bisa ditentukan seberapa persen. Berdasarkan kandungan alkoholnya, minuman beralkohol yang beredar di Indonesia dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

Minuman beralkohol Golongan A : adalah minuman yang mengandung etil alkohol dengan kadar sampai 5 %.

Minuman beralkohol Golongan B : adalah minuman yang mengandung etil alkohol lebih dari 5% hingga 20 %.

Minuman beralkohol Golongan C : adalah minuman yang mengandung etil alkohol lebih dari 20% hingga 55%. ( Sumber: DokterSehat.com )

Minuman tersebut jelas membahayakan apabila dikonsumsi dalam jangka panjang karena mengakibatkan penyakit hati, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kanker, gangguan saraf dan otak, depresi, bahkan kematian.

Etanol yang terkandung dalam miras oplosan dapat member berbagai efek negatif, seperti kematian apabila mengkonsumsi bahan yang mengandung etanol dalam dosis tinggi, kejang, pingsan, koma, asidosis metabolic, depresi pernafasan, gagal nafas, aspirasi paru, edema paru, pneumonitis, paralisisotot, inkoordinasi otot, disorientasi, perdarahan pada saluran pencernaan, mual, muntah, nyeri perut, diare, pankreatitis, depresi system syaraf pusat (SSP), mengantuk, pusing, dapat menyebabkan perasaan senang yang berlebihan(eforia), dan berbagai efek membahayakan lainnya.( Sumber: DokterSehat.com )

Sedangkan kandungan methanol yang terdapat pada miras oplosan dapat mengakibatkan multiple organ failureĀ (kegagalan organ-organ) yang melalui Empatfase-fasetoksik :

Fase keempat adalah toksisitas pada mata, diikuti dengan kebutaan, kejang, gagal ginjal akut disertai mioglobulinuria (terdeteksinya protein seratotot/mioglobindalamurin) dan hematuria (darah di dalamurin), koma, dan bias berujung kematian.

Fase ketiga terjadi asidosismetabolik berat

Fase kedua adalah fase laten mengikuti depresi system saraf pusat

Fase pertama : terjadi penekanan system saraf pusat yang timbul dalam waktu 30 menit sampai 2 jam pertama. Gejala tersebut antara lain: meningkatkan kerja jantung, mual, muntah, vertigo, rasa kantuk, gastritis, diare, sakit punggung. ( Sumber: DokterSehat.com )

Untuk mencegah dari dampak mengkonsumsi minuman tersebut memang tidak mudah. Adanya aparat yang secara tegas memberantas miras ternyata belum memberikan efek jera sepenuhnya, baik bagi pengkonsumsi, pengedar, maupun penjual.Namun, hal itu juga bias dihindari melalui niat dari diri sendiri untuk tidak menyentuh apalagi mengkonsumsinya.

Lakukan kegiatan positif misalnya dengan berolahraga, membaca buku, dan hal lainnya sehingga tidak menimbulkan hasrat untuk mendekati minuman tersebut. Berikan motivasi serta bimbingan terutama pada generasi muda agar tidak atau berhenti mengkonsumsi minuman tersebut.Pentingnya pendidikkan untuk mengajarkan kepada kaum muda untuk menjauhi barang haram tersebut.

Ada pula beberapa cara untuk menangani orang yang keracunan akibat mirasoplosan:

Hemodialisis untuk membersihkan methanol dari dalam darah. Hemodialisis adalah proses pembersihan darah dari zat-zat beracun, melalui proses penyaringan di luar tubuh menggunakan mesindialisis.

Jika pasien sadar, segera tanyakan apakah ada riwayat minum alcohol sebelumnya, waktu minum, berapa banyak jumlah cairan alkohol yang diminum dan produk alcohol apa yang diminum. Hal ini dapat membantu penanganan menjadi lebih baik. Jika jawabannya adalah iya terdapat riwayat konsumsi alkohol. Segera bawa ke rumah sakit, di rumah sakit akan diberikan anti-dotum dari methanol yaitu etanol atau fomepizole.

Kedua bahan ini dapat menghambat alcohol dehidrogenase, sehingga mengurangi konversi metabolism methanol menjadi metabolittoksik (asam format). Pemberian anti dotumini semakin cepat semakin baik. Jika kondisi pasien sudah terlanjur melewati fase laten, umumnya pemberian etanol tidak terlalu berefek pada proses detoksifikasi karena telah terjadi proses perubahan formal dehid menjadi asam format.

Memberikan banyak minum untuk menghindari terjadi dehidrasi dan mengurangi kadar racun di dalam tubuh.

Pertolongan pertama adalah menjaga jalan nafas karena orang yang keracunan methanol dapat beresiko terjadi aspirasi kedalam paru-paru. Menjaga jalan nafas adalah menjamin bahwa jalan masuknya udara ke paru tidak terhambat sehingga kebutuhan oksigen kedalam tubuh terpenuhi. ( Sumber: DokterSehat.com ).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2