Mohon tunggu...
Kentos Artoko
Kentos Artoko Mohon Tunggu... Peminat Masalah Politik, Ekonomi dan Politik

Peminat Masalah Politik, Ekonomi, Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Donatur Asing dalam KPAI-Lentera Anak Vs Djarum

8 September 2019   17:18 Diperbarui: 8 September 2019   17:23 0 0 0 Mohon Tunggu...
Donatur Asing dalam KPAI-Lentera Anak Vs Djarum
Audisi Bulutangkis Djarum (foto: Kompas.com)

Jagad pemberitaan nasional diramaikan oleh langkah PT Djarum yang  akan menghentikan  pencarian bibit muda berprestasi dalam bidang bulutangkis tahun depan. Pencarian bibit muda ini dikenal dengan Audisi Bulutangkis Djarum.

Langkah drastis Djarum ini dipicu oleh gerakan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Yayasan Lentera Anak  yang secara bergulir dan berkesinambungan melancarkan gerakan kontra audisi bulutangkis Djarum.

Alasan yang dikemukakan oleh KPAI dan Lentera Anak adalah, penggunaan logo Djarum Foundation yang senada warnanya dengan salah satu produk rokok keluaran PT Djarum dapat memicu keinginan anak untuk ikut merokok.

Penulis berpikir, ini adalah alasan yang sengaja dibuat dan terlampau mengada-ada, sebelum melontarkan alasan tersebut, apakah KPAI dan Lentera Anak sudah melakukan survei terlebih dahulu berapa banyak peserta yang terjaring dalam audisi bulutangkis Djarum kemudian menjadi perokok?

Pertanyaan berikutnya, apakah warna kostum audisi dan logo perusahaan dapat memengaruhi pikiran seseorang anak untuk kemudian mengambil keputusan merokok?

Jika jawaban keduanya, tidak, maka yang sebagai seseorang yang berupaya untuk bersikap dan berpikir kritis, maka pertanyaannya dapat dikembangkan menjadi mengapa KPAI dan Lentera Akan getol menyerang Djarum? Siapa dibelakang KPAI dan Lentera Anak?

Seperti diketahui bahwa sejak 1990-an terjadi  "pertempuran" seru antara industri farmasi dan produsen rokok. Industri  farmasi terus berupaya untuk melakukan inovasi dengan menggunakan daun tembakau untuk kepentingan berbagai pengobatan. Seperi diketahui bahwa tembakau mengandung  zat antioksidan tinggi, mampu mengurangi rasa sakit dan memberikan efek relaksasi yang tinggi bagi orang yang mengonsumsi.

Adalah Michael Bloomberg, taipan Amerika Serikat orang yang pertama mengetahui kandungan 'khusus' dalam daun tembakau yang hingga kini masih dirahasiakan dan berupaya untuk menguasai industri tembakau internasional.

Upaya "monopoli" oleh Bloomberg ini tentu mendapat resistensi dari industri rokok dan negara penghasil tembakau seperti Indonesia. Melihat tingginya resistensi tersebut, Bloomberg yang sangat dekat dengan hampir semua pejabat di Amerika Serikat, berupaya memainkan "trik"  dan  "kepentingannya"  dalam tataran politisi AS yang kemudian dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan dalih Tembakau Merusak Kesehatan.

Tujuannya jelas, merusak pasar dan konsumsi tembakau. Apabila pasar dan konsumsi tembakau sudah rusak, maka Bloomberg dapat melakukan penguasaan atas komoditas tersebut dengan seenaknya dan semaunya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2