Mohon tunggu...
Frengky Keban
Frengky Keban Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Penulis Jalanan.... Putra Solor-NTT Tinggal Di Sumba Facebook : Frengky Keban IG. :keban_engky

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Cerita di Balik Terbakarnya Situs Rumah Adat Manola

17 November 2018   22:49 Diperbarui: 18 November 2018   02:16 1396
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bahkan kalau pun membangun rumah sementara, tidak harus jauh dari bekas rumah yang terbakar. Walaupun terkesan tidak manusiawi namun hukum adat bagi penganut kepercayaan marapu menjadi tonggak utama menjalankan roda kehidupan masyarakat yang mestinya dijalankan tanpa harus dipertanyakan.

"Ini yang jadi pertimbangan kami untuk secepatnya membuat rapat rato seperti yang adik saksikan hari ini. Setidaknya bisa membantu keluarga bapak Bulu Bora ini walaupun hanya sementara. Korban lain bisa nginap dirumah lainnya karena mereka bukan pembesar. Mereka malah punya rumah besar sendiri yang berada tidak jauh dari rumah mereka. Paling tidak untuk sekarang kita buatkan dulu rumah sementara dan sudah saya komunikasikan dengan para donatur yang mau membantu", jelasnya.

Hukum adat yang terbilang tegas dan mengikat membuat masyarakat di kampung itu mau tidak mau harus taat dan menjalankannya. Tidak sampai disitu, ketaataan yang demikian pun terbawa terus dalam penyelesaian kebakaran seperti ini.

Iya bagi kebanyakan kita saat kebakaran tentu secepatnya kita membangun kembali rumah yang terbakar. Tapi tidak bagi mereka. Setidaknya butuh 2 tahun untuk memulihkan kembali wajah kampungnya dan butuh biaya yang tidak sedikit. Apalagi dalam setiap prosesnya harus dilalui dalam proses adat.

"Butuh dua tahun untuk kembalikan semuanya dalam proses adat yang kami sebut ritual Urata," jelasnya.

Dokpri
Dokpri
Hanya Baju di Badan.

Duka itu pun belum lepas sepenuhnya. Masih ada kesedihan yang tersimpan dalam diri dan tak tampak nyata di hadapan orang yang hadir.

Begitulah sekelumit gambaran wajah korban pertama Bulu Bora, salah satu pemangku adat di kampung tersebut. Dirinya mencoba mengingat cerita siang itu dan mencoba bertutur dengan bahasa indonesia yang terbata-bata yang dimulai dengan ketidaktahuan dirinya kapan persis rumahnya terbakar.

"Saya tidak berada di rumah saat itu. Saya ada di rumah tetangga saat kejadian. Saya tahunya pas orang teriak rumah terbakar," katanya.

Dengan usia yang sudah tua, wajar jika kemudian dirinya tidak bisa lagi mampu menyelamatkan semua yang dimiliki. Api yang cepat membesar katanya menyulitkan evakuasi sehingga dirinya merelakan semua raib dimakan sih jago merah termasuk benda pusaka kampung seperti tombak dan kris.

"Semua habis juga padi yang kami punya. Tidak ada yang tersisa hanya baju dibadan," katanya, sambil menunjukkan bajunya sudah terlihat lusuh itu.

Bukan hanya bulu bora yang merasakan perih akibat pristiwa naas ini, Alex Bili Malo pun demikian. Sebagai salah satu korban dirinya mengakui pristiwa ini membuatnya sangat terpukul. Betapa tidak kejadian tersebut terjadi saat dirinya tidak sedang di rumah melainkan berada di kebun. Dirinya baru mengetahui saat dirinya ditelpon kerabatnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun