Mohon tunggu...
Keluarga Bunga Gunung
Keluarga Bunga Gunung Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Dua Pecinta

Pasangan suami-istri yang tertarik menulis soal parenting, nyastra, dan sebagainya, sebagainya, sebagainya.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Cerita Ibu: Ini Pengalamanku dengan Baby Blues

3 Agustus 2022   09:00 Diperbarui: 3 Agustus 2022   09:05 298 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto Pasca Melahirkan (dokpri)

Sindrom Baby Blues adalah kondisi perubahan suasana hati yang dialami ibu pasca melahirkan. Aku sendiri merasa mengalami sindrom ini di 10 hari setelah melahirkan. Dan katanya, gak cuma Ibu saja, lho, yang bisa mengalami sindrom Baby Blues ini. Bapak juga bisa.

Dari yang aku kutip, gejala baby blues adalah

  • Sering menangis tanpa alasan
  • Mudah merasa lelah dan kesal
  • Perasaan menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung
  • Hingga tidak ingin memberi perhatian lebih pada anak

Apa yang kurasakan?

Di samping rasa bahagia memiliki anak pertama, ada perasaan-perasaan yang sangat berseberangan dengan itu.

Selama 10 hari setelah melahirkan, aku merasa ingin menangis terus-menerus. Tidak peduli itu sedang makan, sedang mandi, sedang berbincang santai dengan keluarga. Pokoknya pengen nangis, aja. Gak jelas juga alasannya apa.

Yang kedua, aku merasa lebih mudah lelah dan kesal. Kalau lelah, ya pasti. Badan belum sembuh betul pascaoperasi. Ditambah jadwal tidur yang berantakan. Kalau diingat-ingat, sebelum punya anak, tidurku pun berantakan. Tapi itu diisi dengan nonton netflix atau baca webtoon. Bukan nungguin bayi, hihihihi.  

Kalau kesal, ya pokoknya lebih gampang kesal dan tersinggung. Apalagi ketika ada anggota keluarga yang menuntut untuk tampil kuat dan terheran-heran dengan kondisiku yang terus-menerus ingin menangis. Sudah lelah fisik, lelah hati juga jadinya. Padahal biarkan kami ini berproses, ya gak sih? Biarkan kami mengelola dan memproses ini semua, gitu kan.

Lalu yang terparah, aku sempat tidak ingin mengurus anakku untuk beberapa saat. Rasanya campur aduk. Ada perasaan sedih ketika melihat anak menangis, jadi makin tambah pengen nangis terus. Ada rasa takut, takut salah ini itu. Apalagi kalau bayiku sudah menangis, langsung deh “kena mental”. Dan ada rasa jetlag juga. Ternyata 9 bulan hamil, gak bikin mental langsung siap ketika si anak bayi hadir depan mata.

Lalu bagaimana aku mengatasinya?

Setelah menyadari dan takut juga sindrom ini mengarah ke postpartum depression, aku mulai banyak cerita ke suamiku. Sebelum ini pun aku selalu cerita ke suami, tapi kali ini, lebih-lebih lagi. Lebih emosional dan lebih sering. Kadang suami juga ga punya jawaban dan ga bisa kasih solusi apa-apa. Tapi bercerita bikin hati lega, bikin diri sendiri menggali dan nemuin solusinya.

Selanjutnya, untuk mengatasi diri yang “kena mental” saat menghadapi bayi nangis adalah dengan pura-pura sudah pro aja. Iya, aku doktrin ke diriku sendiri kalau aku sudah biasa mengatasi bayi menangis, biasa ngurusin bayi. Padahal, mah.. boro.

Aku juga terus-terusan ngingetin diri sendiri bahwa menangis adalah cara berkomunikasi bayi, bukan untuk menghakimi, kok. Bukan juga untuk membuat kita merasa menjadi ibu yang gagal atau gak kompeten.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan