Mohon tunggu...
Katedrarajawen
Katedrarajawen Mohon Tunggu... Penulis - Anak Kehidupan

Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis. ________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik ... dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menenun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu [Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Nikita Mirzani dan Empati

5 September 2019   07:17 Diperbarui: 5 September 2019   07:22 144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Nikita Mirzani (33), bintang film dan model yang sedang viral  karena melabrak Elza Syarief dalam  sebuah acara gelar wicara di televisi belum lama ini. 

Niki, begitu ia akrab disapa.  Sosok yang suka blak-blakan dan temperamen. Mudah terpancing emosi. Tidak heran banyak yang tak menyukai. 

Apa yang dipertontonkan Niki di televisi banyak dikritisi. Memang tak layak diapresiasi. Sangat tidak beretika. Jauh dari tata krama. 

Niki adalah publik figur, yang mana tindakannya dapat memengaruhi banyak orang. Semestinya bisa menjaga emosi. Tidak memertontonkan perilaku buruk itu untuk dikonsumsi umum. 

Ada benarnya.

Mungkin ada yang berpikir Niki layak masuk penjara akibat ulahnya ini. Apalagi Elza sudah melaporkan ke polisi. 

Selain ada yang tak suka, tentu ada juga yang suka. Apalagi yang sudah jadi penggemar. Salah atau benar selalu membela. Sampai ke ujung dunia.

Apa yang dilakukan Niki masih dianggap wajar sebagai seorang ibu yang membela anaknya. Alasan, selalu ada untuk membenarkan apa yang salah.

Di antara suka dan tak suka. Ada yang lebih penting adalah empati. Dalam hal ini tidak untuk membenarkan apa yang salah. Tetapi memahami kesalahan yang terjadi. Merasakan diri berada di posisi orang itu.

Saya pribadi bisa merasakan kemarahan di luar kendali. Bila ada yang menyinggung atau merendahkan orangtua saya. Terutama itu.

Saya sampai punya prinsip. Orang boleh menghina atau merendahkan saya serendah-rendahnya. Namun jangan pernah ke ibu saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun