Mohon tunggu...
Katedrarajawen
Katedrarajawen Mohon Tunggu... Orang biasa yang ingin jadi luar biasa

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis"____________________________ Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menemun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu...[Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Diego Mendieta: Mengharap Bahagia, Derita yang Diterima

4 Desember 2012   14:11 Diperbarui: 24 Juni 2015   20:12 0 6 12 Mohon Tunggu...
Diego Mendieta: Mengharap Bahagia, Derita yang Diterima
13546311051677035554

[caption id="attachment_227533" align="aligncenter" width="600" caption="Diego Mendieta@Antaranews.com"][/caption]Duka akibat Timnas Indonesia tersingkir dari ajang Piala AFF masih terasa. Perang kata-kata para pendukung PSSI dan KPSI pun belum mereda.

Kini merebak berita nestapa atas kepergian seorang insan sepak bola akibat sakit yang dialaminya. Dimana terlebih dahulu harus hidup terlunta-lunta. Dialah Diego Mendieta.

Diego Antonio Mendieta Romero nama lengkapnya. Striker kelahiran Paraguay, 13 Juni
1980, mantan pemain Persis Solo, Selasa (4/12) dinihari telah pergi selamanya.

Diego Mendieta pemain bola profesional harus hidup sengsara. Gara-gara gaji empat bulan senilai seratus juta belum diterima sampai akhir hayatnya.

Yang lebih menyedihkan sampai nafas terakhir tanpa ditemani keluarga. Padahal Mendieta sangat ingin sekali pulang bertemu anak, istri, dan mama tercinta.

Mendieta pada akhirnya tidak menuntut gaji lagi tapi cukup tiket pesawat saja. Namun sayang apa keinginannya tidak menjadi nyata. Semua tutup mata.

Mendieta harus merana. Dalam sakit dan jauh dari keluarga. Masih sedikit beruntung ada kawan dan Pasoepati menggalang dana untuk biaya makan dan pengobatannya.

Mendieta oh Mendieta betapa malang dan menderita. Impiannya datang ke Indonesia berakhir duka. Bahkan teramat tidak seharusnya. Mengharap bahagia, derita yang diterima. Mendieta pasti tak menyangka.

Salah siapa?

Mencari siapa yang salah adalah sia-sia. Karena insan sepak bola di negeri terlalu keras kepala. Lebih sibuk menepuk dada.
Saya pun hanya bisa mengumbar kata-kata. Tak bisa berbuat apa-apa.

Sudah waktunya kita menundukkan kepala. Sisakan empati untuk berdoa. Selamat jalan Mendieta. Semoga berbahagia di alam sana.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x