Mohon tunggu...
Karla Wulaniyati
Karla Wulaniyati Mohon Tunggu... Membaca dan menulis sebagai satu kecintaan

Let the beauty of what you love be what you do (Rumi)

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Tidak Bisa Mengedit Artikel Kosong

3 November 2019   14:52 Diperbarui: 3 November 2019   14:49 425 24 13 Mohon Tunggu...
Tidak Bisa Mengedit Artikel Kosong
computer-768696-480-5dbe850b097f36314830ef22.jpg

Bulan ini lewat lagi K-rewardnya. Sudah beberapa bulan saya tidak ada di list K-reward. Daftar alasan bisa saya berikan kalau ditanya kenapa sampai beberapa bulan tidak  dicolek oleh K-reward.

Alasan pastinya tidak banyak viewer karena sudah beberapa waktu ini tidak menayangkan artikel setiap hari, belum lagi kalau pun menulis artikel yang membaca tidak bejibun, yeuuh.

Ditengah kegalauan eh saya dapat kutipan keren, "You may not write well every day,  but you can always edit a bad page. You can't edit a blank page." (Jodi Picoult)

Memang tepatnya -- kalau untuk saya -- kutipannya berubah menjadi "Tidak mengapa jika tidak bisa menulis artikel/tulisan yang baik setiap saat/hari tetapi selalu bisa mengedit tulisan yang (dirasa masih) tidak baik. Tetapi bagaimanapun kita tidak bisa mengedit tulisan/lembaran kosong."

Kutipan itu memberikan makna bahwa (saya) harus selalu menulis walaupun tulisan yang dihasilkan belum baik-- tidak jarang memalukan-- yang penting menulis.

Di salah satu blog menulis saya membaca bahwa bagi seorang penulis harus mau meluangkan waktu setiap harinya untuk menulis, walau untuk hal ini saya masih sering gagal melaksanakannya.

Dijelaskan agar penulis harus berusaha menulis setiap hari setidaknya 15 atau 30 menit. Kegiatan ini akan membantu bagi para penulis -- terutama pemula -- menjadi lebih produktif dan kreatif.

Penulis sekelas Stephen King saja membiasakan diri dengan menulis selama tiga jam bahkan lebih setiap harinya.

Memang kunci melatih kepenulisan adalah menulis, tidak masalah bahwa tulisan yang dihasilkan belum mumpuni.

Lebih baik mengedit tulisan yang buruk daripada blank page walau setiap penulis (sepertinya) pernah mengalami tahapan blank page ini.

Tahapan blank page memang tidak menyenangkan, sudah habis beberapa waktu di depan laptop atau gawai tetapi kursor masih berkedip ditempat yang sama tidak berpindah.

Ada tips dari sebuah artikel yg ditulis oleh Dustin Wax di blog kepenulisan yang menyarankan hal yang bisa dilakukan saat menghadapi blank page. Saya tuliskan disisipi keterangan baik yang dijelaskan oleh Dustin yang sedikit dilengkapi berdasarkan pengalaman yang saya hadapi.

 1. Start in the middle.
Disarankan mulai saja dibagian yang merasa nyaman untuk menuliskannya. Tidak harus berurutan dari awal, pertengahan,  lalu akhir. Jika dipaksakan harus runut dari awal biasanya malah mandek dan kursor tidak berpindah.

Tidak jarang saya mendapatkan ide yang sebenarnya pertengahan tulisan, menurut Dustin mulai saja dari bagian yang ingin dituliskan dan saya suka melakukan itu.

 2. Write to someone you know.
Tidak sedikit orang menuliskan artikel ditujukan untuk seseorang, untuk itu jika sedang bertemu blank page kita bisa menuliskan seolah-olah tulisan kita ditujukan untuk seseorang.

Contohnya tulisan bisa dimulai dengan "Teruntuk Temanku, aku ingin menuliskan tentang perjalanan liburan yang baru saja dilakukan,  dst..." Jika tulisan sudah selesai kita bisa mengedit dengan menghapus sehingga tulisan bisa diperuntukkan untuk umum.

 3. Outline-expand-expand-done.
Menulis secara umum, lalu tambahkan walau harus bolak balik dari awal, pertengahan, atau akhir  jika merasa ada kata, kalimat, atau paragraf yang dirasakan kurang.

Fokuskan penyelesaian paragraf yang satu bisa berkesinambungan dengan yang selanjutnya hingga akhirnya bisa menyesaikan artikel yang dibuat.

 4. Write backward.
Ini tahapan menulis yang dibalik yaitu menulis bagian akhir dulu hingga sampai ke pendahuluan.

Misalnya diawal menulis kesimpulan (akhir tulisan) apa yang akan disampaikan, lalu menerangkan bagaimana agar kesimpulan itu didapatkan (pertengahan) hingga didapat logika awalnya dan akhirnya bisa dibuat pendahuluannya.

 5. Tell a story.
Menulis juga bisa dibuat seperti sebuah dongeng, misalkan dengan permulaan kata, "Pada suatu hari.... " hingga jika sudah selesai tulisan yang dibuat kata-kata dongengnya bisa diedit atau dihapus dan kita mendapatkan satu tulisan.

 6. Freewrite/free talk.
Menulis bebas. Apa yang sedang dipikirkan, diinginkan, dikerjakan, dikatakan tulis saja sampai merasa sudah selesai. Setelah itu bisa diedit, dihapus untuk yang tidak diperlukan. Maka kita akan mendapat satu tulisan yang bisa ditayangkan.

 7. Use a pen and paper.
Sekali-kali rubah pola menulis yang biasanya menggunakan laptop, gawai sesekali gunakan cara klasik dalam menulis -- ini menulis sesungguhnya -- dengan pulpen/alat tulis dan kertas.

Bisa dicari pulpen atau kertas yang menarik sehingga tidak jarang memicu kreativitas dalam menulis.

 8. Change location.
Mencari tempat yang bisa membantu dalam menulis dan menghasilkan sebuah tulisan/artikel.

Jika biasanya menulis di rumah saat mengalami blank page bisa mencoba dengan bermain ke tempat yang bisa merubah suasana dalam menulis.

 9. Read.
Buat saya membaca itu seperti mengisi wadah yang nantinya harus dituangkan. Saat saya tidak menulis maka biasanya saya membaca yang nanti lama-lama akan luber dan akhirnya harus dituangkan dengan menulis.

Jika saya tidak membaca amunisi juga sedikit maka semakin jarang menulis karena blank page akan lebih sering menghampiri.

10. Set short goals.
Buat tujuan yang tidak terlalu hebat. Misalkan bisakah membuat kalimat dalam 5 menit? Yang penting tujuan yang ringan dengan terus ditambah sehingga bisa  menghasilkan sebuah tulisan.

Tentu tiap orang memiliki cara sendiri saat melewati tahapan blank page ini. Jika proses menulis sudah bisa dilakukan tanpa hambatan maka tahapan blank page tentu akan terlewati.

Yang penting menulis walau belum baik karena tidak bisa mengedit artikel/tulisan/lembaran yang kosong.

Memang untuk seorang (yang merasa sebagai) penulis (pemula) tahapan untuk menjadi penulis yang mumpuni itu banyak. Tetapi jika memang menulis menjadi satu kecintaan maka kata menyerah bukan menjadi satu pilihan karena belajar menulis bagaimanapun adalah latihan sepanjang hidup.

Learning how to write is a life-long practice.

Karla Wulaniyati untuk Kompasiana
Karawang, Ahad 3 November 2019

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x