Agus Supriyatna
Agus Supriyatna karyawan swasta

Hanya orang sangat biasa saja. Tukang ngopi.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pertama Kali Kenal Mas Eep dan Emha Ainun Nadjib

14 Februari 2018   13:05 Diperbarui: 14 Februari 2018   20:14 821 2 1
Pertama Kali Kenal Mas Eep dan Emha Ainun Nadjib
ngopibareng.id

Nama saya, ah nama pasaran. Nama yang banyak dipakai orang. Agus, nama depan saya.  Di belakangnya ditambah Supriyatna. Jadilah Agus Supriyatna. Nama yang sunda banget, sesuai dengan suku bangsa saya. Saya, lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), walau hanya program ekstensi. Kata, orang ini program 'kelas dua'. Program 'hiburan'. Tapi tetap saya bangga.

Universitas Indonesia sendiri adalah universitas yang jadi mimpi saya. Saya ingin kuliah di UI, karena beberapa alasan. Salah satunya, karena Mas Eep Saefulloh Fatah. Kok bisa karena Mas Eep? Ya, saya suka lalu jatuh cinta, dan ingin kuliah di UI, diawali rasa suka saya pada Mas Eep. Tapi bukan suka seperti laki pada perempuan yah. Bukan. Saya masih laki-laki normal he he he.

Terus terang saya suka UI, setelah baca buku Mas Eep. Saya agak lupa judulnya. Tapi yang saya ingat, judulnya ada kata bangsa saya yang menyebalkan. Kalau tak salah.  Nanti saya cek di google. Yang saya inget, bukunya bersampul warna coklat, diterbitkan penerbit Rosda Karya. Isinya berisi ulasan.  Mas Eep soal politik Indonesia. Menarik. Cerdas. Juga menggelitik. Karena itu saya suka. Karena itu pula keinginan kuliah di UI datang begitu kuat. Dari buku, cinta saya pada UI bersemi.

Tentang ini, ada kisahnya tersendiri. Saya kenal Mas Eep,  karena saya punya teman anak UI. Maksudnya mahasiswa UI yang saya kenal tak sengaja. Saya agak lupa namanya. Ingat panggilannya saja. Nur, nama panggilanya. Dia kuliah di jurusan teknik. Tapi bukan teknik sipil. Teknik metalurgi. Mudah-mudahan tak salah. Maklum sudah tua he he he.

Saya kenal Nur, ketika numpang hidup di rumah kontrakan paman saya, setelah lulus dari STM di Cirebon. Soal saya sekolah di STM, nanti saya ceritakan belakangan. Ketika itu usai lulus STM, saya belum dapat kerja. Lamaran sudah banyak dikirim, tapi tak satu pun yang nyangkut. Padahal sering dipanggil wawancara. Tapi, ujungnya ditawarin jadi sales. Di suruh jual barang, tapi anehnya diminta beli barangnya dulu. Tawaran kerja yang aneh. Namun memang itu nyata.

Karena masih nganggur, untuk mengisi waktu luang, saya kerja serabutan. Kadang ikut paman, adik ibu saya kerja di proyek-proyek bangunan, entah proyek bangun kantor, pabrik atau perumahan. Jadi kuli bangunan, pekerjaan yang sudah saya jalani sejak masih SMP.

Paman saya ngontrak rumah di daerah kampung rambutan, Jakarta Timur. Rumah kontrakan paman saya dekat dengan Uhamka, universitas milik organisasi Muhamadiyah. Rumah kontrakan paman saya juga tak jauh dari rumah kontrakan kakak perempuan saya, yang juga ngontrak di sekitar daerah itu. Kakak saya sudah menikah. Dia ikut suaminya, kakak ipar saya. Jadi saya kadang numpang di rumah kontrakan paman, kadang di kakak saya.

Paman saya juga sudah menikah. Anaknya kembar. Di rumah kontrakannya, paman saya buka warung. Jual macam-macam barang, mulai  rokok, kopi, mie rebus dan lain-lain. Warung paman saya juga menyediakan kopi seduh dan mie rebus. Ia ngupah orang dari kampung untuk menunggui warungnya. Penunggunya, Jaka namanya. Ia masih kecil, seingat saya, baru lulus SD. Karena tak ada biaya melanjut sekolah, Jaka memilih cari duit. Kebetulan paman saya butuh penunggu warung. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jaka butuh kerjaan, paman saya butuh orang nunggu warung. Klop. Jadilah Jaka si penunggu warung.

Istri paman saya sendiri asli orang Jakarta. Maksudnya lahir dan besar di Jakarta. Mertua paman saya asalnya dari sebuah daerah di Jawa Timur. Mereka tinggal di daerah Sunter, Jakarta Utara. Saat anak kembarnya masih kecil, istri paman saya seringnya tinggal di Sunter, di rumah orang tuanya. Praktis rumah kontrakan sering kosong. Kalau tidak sedang dapat kerjaan di proyek, saya sering nemani Jaka nunggu warung,  Maklum pengangguran.

Nah, sekitar rumah kontrakan paman saya ini,  banyak kos-kosan mahasiwa yang kuliah di Uhamka. Beberapa mahasiswa rajin ngopi dan ngemie di warung paman saya. Dari situ ada interaksi. Beberapa mahasiswa saya kenal dekat. Bahkan saking dekatnya, saya  sering diajak main  kosannya yang letaknya tak jauh dari rumah kontrakan. Di kosan anak Uhamka itulah saya kenal dengan Nur.

Nur juga sering ngopi dan makan mi rebus di warung paman saya. Dari situ saya mulai akrab. Saya sering ngobrol dengannya. Sampai akhirnya saya tahu, Nur bukan mahasiswa Uhamka. Tapi mahasiswa UI. Padahal saat pertama kenal, saya kira dia juga mahasiswa Uhamka. Ternyata bukan.

Nur tinggal di rumah kakaknya yang jadi dosen di Uhamka.

Kalau sedang ngopi, Nur sering ngajak ngobrol soal politik. Ketika itu Pak Harto masih berkuasa. Tapi sudah diujung kejatuhannya. Waktu itu  pula demo sedang marak. Nur beberapa kali datang ke warung bawa buku. Tentu saya senang, karena dari SMP saya memang suka baca. Beberapa kali, saya pinjam buku yang di bawanya. Dia baik, tak pernah keberatan meminjamkan buku. Dari Nur pula saya tahu Mas Eep. Tentu lewat bukunya.

Dari Nur pula saya kenal Emha Ainun Nadjib. Nur sering cerita. Nur pula yang meminjamkan buku Emha milik kakaknya yang dosen itu. Suatu hari, saya diajak Nur nginap di kosannya, di Depok. Ternyata selain tinggal di rumah kakaknya, Nur  juga ngekos di Depok. Saya sempat diajak ke kampus UI. Ke kampus fakultas tempatnya  kuliah. Takjubnya bukan main, pertama kali liat kampus UI. Luas, dan besar. Pernah saya diajak nginap satu malam di kosannya.

Setelah tahu kampus UI, keinginan untuk kuliah di sana mulai membuncah. Saya bertekad, suatu hari nanti saya bisa kuliah di sana. Apalagi, setelah sering melihat aksi demo mahasiswa UI menjelang kejatuhan Pak Harto di televisi. Jaket kuning yang dipakai pendemo bikin keinginan kuliah di sana kian kuat. Gagah saja saya melihatnya.

Pak Harto pun jatuh. Beberapa hari setelah Pak Harto turun,  Nur pernah ajak saya, kalau tak salah ke daerah Kramat Jati. Di sana, banyak tentara. Maklum situasi masih tak karuan. Saya sempat naik tank tentara. Sayang belum zaman handphone, jadi tak bisa selfie.

Sampai akhirnya tiba waktu UMPTN. Saya pun ikut test. Tentu saja, UI jadi salah satu pilihan. Karena saya anak STM, saya masuk kategori anak eksasta. Tapi, kalau tak salah ketika itu lulusan STM bisa milih campuran tiga jurusan. Maksudnya, bisa pilih jurusan eksak, dan juga jurusan sosial. Seingat saya, untuk pilihan pertama, saya pilih teknik sipil UI. Pilihan kedua, ilmu politik UI. Ketiga ilmu pemerintahan UGM.  Pilihan ke ilmu politik UI,  terus terang saja banyak dipengaruhi oleh buku Mas Eep.

Sayang karena saya bukan anak pintar, tak satu pun pilihan jebol. Ketiganya tak diterima. Saya pun gagal jadi mahasiswa. Gagal jadi mahasiswa UI. Kecewa? Pasti sangat kecewa. Tapi mau apalagi, saya tak lolos. Nur, setelah tahu saya tak lolos, coba membantu. Katanya, saya bisa daftar di program D3 UI. Saya pun ikut sarannya daftar di Program D3 UI. Kalau tak salah saya daftar di program D3 komunikasi UI. Tapi lagi-lagi saya gagal, alias tak lolos tes. Dasar anak tak pintar memang.  Nur datang lagi untuk menghibur.

"Coba daftar saja ke program D3 UNPAD, mungkin diterima,"  katanya.

Setelah berembug dengan keluarga, saya diizinkan daftar ke UNPAD. Saya masih ingat, berangkat ke Jatinangor, Sumedang, tempat kampus UNPAD berada, bersama sepupu saya, yang juga berniat kuliah di sana. Singkat kata, kali ini saya beruntung. Saya lolos tes. Senang? Pastinya senang. Sedih? Ya, saya juga sedih karena harus berpisah dengan Nur, apalagi ketika itu Nur sebenar lagi di wisuda. Sedih karena akan berpisah dengan sahabat yang mengenalkan saya dengan Mas Eep dan Emha Ainun Nadjib.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2