Taryadi Sum
Taryadi Sum profesional

Asal dari Sumedang, sekolah di Bandung, tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta. Sampai sekarang masih penggemar Tahu Sumedang

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

"Safety Induction", Seberapa Pentingkah?

12 Januari 2018   00:02 Diperbarui: 12 Januari 2018   00:17 1852 2 0

Ketika kita pertama kali berkunjung ke perusahaan yang berkantor di gedung pencakar langit, sering kali yang pertama kali dihadapi adalah safety induction. Seseorang akan mulai nyerocos bicara "kita sekarang berada di lantai sekian. Hari ini tidak ada drilling, jika alarm berbunyi anda jangan panik dan segera keluar ruangan melalui pintu samping sebelah kanan. Turunlah menggunakan tangga darurat karena lift akan dimatikan. Di bawah nanti kita harus berkumpul di sebelah lapangan parkir sebelah kiri.... dan seterusnya dan seterusnya".Tidak hanya bicara, dia juga biasanya disertai dengan sebuah gambar denah sederhana yang mudah dipahami.

Hal ini terlihat sepele dan boleh jadi ada yang menganggapnya lebay. Namun akan sangat berarti jika ketika kita bertamu ke tempat yang baru kemudian terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti gempa bumi atau kebakaran. Sebagai orang yang asing di tempat tersebut tentu kita akan bingung harus lari atau berlindung dimana.

Pada situasi seperti itu, mungkin saja tidak ada tempat bertanya karena setiap orang akan menyelamatkan diri masing-masing dan tak peduli orang lain. Dengan adanya induksi safety, kita sudah tahu kemana harus melangkah ketika situasi berbahaya itu terjadi.

Safety Induction adalah pengenalan dasar-dasar Keselamatan kerja dan Kesehatan Kerja (K3) kepada karyawan baru atau visitor (tamu) dan dilakukan oleh karyawan dengan jabatan setingkat supervisory (dari divisi OSHE / Safety) dan bisa juga bisa dilakukan oleh yang paham tentang K3 dengan level jabatan minimum seperti tersebut diatas (minimal Foreman, dan supervisor up).

Di perusahaan-perusahaan besar multinasional, hal ini tidak saja dilakukan gedung pencakar langit, tetapi di semua tempat, termasuk di lapangan yang memiliki potensi bahaya, safety induction ini diterapkan. Di beberapa perusahaan bahkan selain menerangkan kalua ada bahaya harus bagaimana, tetapi juga menjelaskan potensi-potensi bahaya kecil yang mungkin terjadi dan perilaku selamat seperti apa yang harus dilakukan.

Misalnya di sebuah instalasi pengolahan air limbah yang terdiri dari kolam-kolam, mereka akan mengatakan "di area ini, ada potensi serangan binatang berbisa yang berasal dari semak-semak, tindakan selamatnya adalah kalau memasuki area tersebut anda harus menggunakan pelindung diri yaitu sepatu karet dan pakaian yang cukup tebal".

Kita sering abai dengan hal-hal kecil itu. Beberapa perusaan tidak menyediakan alat-alat pelindung diri bagi pegawainya meski ada potensi bahaya ada saat bekerja. Tentu kita tak lupa dengan meledaknya pabrik petasan di Banten beberapa waktu yang lalu yang menyisakan pilu yang mendalam. Hanya karena pertimbangan biaya atau penghematan, keselamatan diabaikan. Satu kecelakaan sudah lebih dari cukup....

Salam