Mohon tunggu...
Taryadi Sum
Taryadi Sum Mohon Tunggu... Taryadi Saja

Asal dari Sumedang, sekolah di Bandung, tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta. Sampai sekarang masih penggemar Tahu Sumedang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kopi Pangku di Pontianak, Sisi Buruk Budaya Minum Kopi

1 Januari 2013   14:07 Diperbarui: 24 Juni 2015   18:41 11634 0 1 Mohon Tunggu...

Kemarin pagi secara tak sengaja saya bertemu dengan kawan lama yang sekitar 17 tahun yang lalu sama-sama tinggal di Pontianak. Pembicaraan kamipun lebih banyak tentang masa lalu mengenai berbagai hal di Bumi Khatulistiwa tersebut, Karena sekitar setahun yang lalu saya berkesempatan ke sana, saya juga menginformasikan situasi terakhir kota tersebut.

“Warung Kopi Senang yang di Sungai Pinyuh masih ada?” kata sang kawan tersebut secara tiba-tiba. Saya otomatis tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan tersebut. Pasalnya saat itu warung kopi yang ditanyakan kawanku itu adalah sebuah warung kopi pangku yang cukup terkenal saat itu dan kami pernah terjebak di dalamnya. Kopi Pangku adalah istilah untuk warung kopi yang gadis-gadis pelayannya dapat dipangku dan diraba-raba semalu kita di keramaian umum.

Pada suatu malam kalau tidak salah tahun 1994, saya dan kawan tersebut bersama dua orang kawan lain mampir di warung kopi tersebut sebelum melanjutkan perjalanan kami ke Kabupaten SIntang. Sopir rental mobil kami mengarahkan masuk ke warung kopi itu karena menurutnya warung itu merupakan salah satu yang terkenal di kota kecil sekitar 20 km dari kota Pontianak tersebut.

Ketika kami baru akan masuk, dua orang tentara baru saja duduk dan tampak kepala botaknya dikecup perempuanmuda putih semampai pelayan warung tersebut. Saya pikir itu sambutan “istimewa” untuk langganan tetapnya sehingga mendapat penyambutan sehangat itu. Setelah memberikan kopinya, tentara yang satunya lagi meraih badan gadis itu ke dalam pangkuannya. Dengan meronta basa-basi, gadis itu tampak senyam-senyum sambil memegang mesra tangan tentara itu,

Sambil terbengong-bengong, saya dan kawan-kawan mengambil tempat duduk agak pojok agar tidak terlalu mengganggu jika kami sambil mengobrol. Tiba-tiba sepasang tangan berbalut sweater memeluk saya dari belakang dan menanyakan mau minum apa?. Sambil berusaha menyingkirkan tangan nakal itu saya memesan kopi hitam biasa saja. Sambil setengah menahan, ia sedikit mengecup telinga saya dan kemudian berlalu untuk mengambil kopi untuk kami.

Ketika ia datang lagi memberikan kopi buat kami, kini giliran kawan-kawan saya yang mendapat gerayangan nakal tersebut. Bahkan ketika teman kami ke kasir akan membayar untuk segera pergi, ia malah dipeluk dan diraba sampai ‘maaf’ selangkangannya oleh gadis yang berdiri di depan kasir. Kami memang tidak berlama-lama karena memang tujuannya hanya ngopi saja tanpa maksud lain seperti pengujung-pengunjung lai n yang sepertinya sengaja berlama-lama.

Ketika melanjutkan perjalanan, sopir kami tertawa lebar melihat kecanggungan kami masuk ke tempat tersebut. Saya dan ketiga kawan memang semuanya berasal dari luar Pontianak yang tidak tahu ada warung-warung demikian.Meskipun sudah mendengar cukup lama, tetapi merasakan masuk ke kopi pangku adalah baru pertama kalinya saat itu. Kami benar-benar dijebak dan dikerjai sang sopir. Entahlah bagaimana dengan  ketiga kawan tersebut, saya sendiri itu menjadi pertama dan terakhir masuk ke kedai remang-remang tapi terang-benderang tersebut.

Kawan saya masih tertawa-tawa ketika saya mengatakan kalau Warung Kopi Senang itu masih ada. Saya bisa memastikannya karenasaat ke Pontianak tahun lalu itu juga ada perjalanan yang melewati tempat tersebut dan melihat ada sebuah kedai kopi dengan nama demikian.

Ya, meskipun belum mengarah kepada prostitusi, warung kopi remang-remang itu merupakan sisi buruk yang tentunya membuat imej jelek bagi warung kopi yang benar-benar hanya menyediakan kopi saja…..

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x