Mohon tunggu...
Kamila Hasna
Kamila Hasna Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah

Seorang mahasiswa yang memulai mencari kesibukan dengan menulis disebuah blog

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kisah di Balik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya

27 November 2021   10:18 Diperbarui: 27 November 2021   10:34 416
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

17 Agustus merupakan tanggal yang paling sakral bagi bangsa Indonesia, tanggal di mana bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Bertahun-tahun sudah di zaman penjajahan Nusantara dikuasai oleh bangsa-bangsa asing. Mereka datang dari tempat yang begitu jauh, karena menyadari betapa pentingnya dan berharganya Nusantara.

Dari sejak kedatangan Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris Belanda lagi hingga Jepang semuanya pernah berusaha untuk menguasai Indonesia. Beberapa diantaranya bahkan pernah berkuasa dalam waktu yang sangat lama dan peninggalannya masih dapat dijumpai sampai sekarang. Salah satunya Istana Bogor, yang dulunya adalah tempat kediaman dari para gubernur jenderal Hindia Belanda. Karena ketidakmampuannya dalam mengikuti perkembangan di bidang teknologi dan tidak adanya semangat persatuan. Kerajaan-kerajaan di nusantara tidak mampu melawan penjajah yang jauh lebih unggul dalam banyak hal.

Sejak saat itu para pendahulu kita bermimpi untuk akhirnya bisa menjadi bangsa yang merdeka di tanahnya sendiri. Melalui perjuangan yang panjang dan sulit. Tokoh-tokoh nasional yang berasal daei berbagai kalangan. Akhirnya bisa memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia. Tidak sedikit diantara kita yang saat tanggal 17 Agustus pernah merayakan hari kemerdekaan Indonesia dengan cara mengikuti upacara bendera. Saat bendera merah putih dikibarkan kita semua pasti menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya". Tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa selain merayakan hari kemerdekaan Indonesia, sebenarnya kita juga mengenang hari kematian dari salah satu pahlawan nasional yang bernama W.R. Soepratman, yang merupakan tokoh dibalik lagu kebangsaan Indonesia Raya ini menghembuskan nafas terakhirnya di Surabaya di tanggal 17 Agustus 1938.

Di masa tersebut tentu saja kata "merdeka" masih jauh dari bangsa ini. Perjuangan W.R. Soepratman bisa dibilang unik, hal tersebut akan jauh lebih unik lagi jika kita mempelajari latar belakang dari keluarganya. W.R. Soepratman lahir di keluarga pasukan KNIL. Ayahnya bahkan berdinas sebagai sersan dalam kesatuan tentara kerajaan Hindia Belanda, yang dibentuk tahun 1814. KNIL adalah pasukan yang ditugaskan untuk menjaga keamanan wilayah jajahan Belanda di Hindia Timur yang dikenal sebagai salah satu wilayah jajahan yang paling bernilai. Sampai-sampai wilayah ini memperoleh julukan "Zamrud khatulistiwa".

Awalnya komposisi pasukan KNIL banyak didominasi serdadu yang berasal dari Eropa. Tetapi karena jumlah personel yang terus menerus berkurang, serta adanya penyakit tropis yang memakan banyak korban. Belanda terpaksa memikirkan ulang solusinya, demi menyelesaikan masalah ini Belanda memutuskan untuk menutup kekurangan personil dengan merekrur serdadu pribumi di wilayah jajahannya.

Akhirnya corak baru terbentuj di tubuh KNIL, dimana bangsa Eropa bertugas sebagai perwiranya dan masyarakat pribumi bertugas sebagai serdadunya. Didalam catatan sejarah pasukan KNIL banyak ditugaskan untuk memadamkan pemberontakan di Nusantara. Termasuk Perang Diponegoro di Jawa, Perang Padri di Sumatra, dan perang-perang lainnya.

Dengan latar belakang keluarga yang berdinas di militer KNIL tentu mengejutkan. W.R. Soepratman bisa berjuang dan menjadi salah satu dari pahlawan nasional. Fakta bahwa W.R Soepratman beejuang dengab menggunakan biola, instrumen musik yang berasal dari barat. Sebenarnya juga mengherankan, kenyataan ini mungkin mengingatkan kita pada Raden Saleh, seniman yang juga pernah melakukan hal yang sama. Dengan menggambarkan kenyataan dari perlawanan Diponegoro terhadap Belanda.

Persamaan keduanya mereka adalah seniman yang tidak anti dengan kemajuan tekhnologi, melainkan memanfaatkannya demi menyuarakan suaranya. Mereka yang bekerja dalam bidang seni menyadari hal yang sangat penting yaitu bagaimana cara menggabungkan berbagai perbedaan, demi menciptakan "keharmonisan". Dalam bidang seni lukis, pelukis harus mampu mengekspresikan imajinasinya dengan menggabungkan berbagai macam perpaduan warna, yang kemudian dituangkan dalam bentuk lukisan. Di bidang musik, musikus harus mampu menggabungkan berbagai nada yang berbeda, demi menciptakan musik yang indah.

Saat itu dimasa W.R. Soepratman masih hidup, pemerintah kolonial memerintahkan masyarakat menyanyikan   lagu kebangsaan "Wihelmus" yang intinya menceritakan perjuangan Belanda demi memperoleh kemerdekaannya dengan melawan penjajahan Spanyol. Karenanya lagu Indonesia Raya dianggap sebagai bentuk ketidaksetiaan dan perlawanan terhadap kolonial yang masih berkuasa diatas negara Indonesia.

Melalui perjuangannya, W.R. Soepratman seakan berkata bahwa: "aku akan berjuang untuk bangsa ini dengan biolaku". W.R. Soepratman memang sudah tiada, namun ia mewariskan harta yang sangat berharga yang sampai hari ini masih bisa kita nikmati bersama. Sebuah lagu yang sangat indah, lagu kebangsaan Indonesia yang kita kenal dengan "Indonesia Raya". Sebuah karya yang menggambarkan pesan, cita-cita, kesetiaan, harapan, dan doa. Dari lubuk hatinya yang terdalam mengenai kecintaannya terhadap Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun