Mohon tunggu...
Kalimat Aktif
Kalimat Aktif Mohon Tunggu... Pencari makna

Sederhana

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Ayolah Ginting! Raih Gelar Pertama Tahun Ini di Hong Kong

17 November 2019   00:45 Diperbarui: 17 November 2019   00:51 121 4 2 Mohon Tunggu...
Ayolah Ginting! Raih Gelar Pertama Tahun Ini di Hong Kong
Anthony Sinisuka Ginting Dan Jonathan Cristie pasca pertandingan semi final Hong Kong Open 2019. Foto: Akun Twitter @INABadminton

Anthony Sinisuka Ginting melaju ke babak final Yonex Sunrise Hong Kong Open 2019, setelah dengan susah payah memenangi laga "perang saudara" dengan kompatriotnya di Pelatnas Cipayung, Jonantan Cristie.

Ginting yang tampil lebih tenang di poin-poin kritis pada set ketiga akhirnya dapat memanfaatkan peluang match  poin dan menutup set ketiga dengan skor 21-18, sekaligus merebut tiket ke Final.
 Di partai Final, Ginting telah ditunggu pemain tunggal putra andalan tuan rumah, Lee Cheu Yiu yang lebih dahulu lolos pasca mengandaskan perlawanan tunggal putra India, Kidambi Srinkanth, dua set langsung dengan skor 21-9 dan 25-23.

Kali ini Ginting harus juara. Tak ada pilihan lain, pemain rangking 8 dunia itu tidak boleh menyiak-nyiakan kesempatan untuk meraih gelar pertamanya tahun ini. Cukuplah pengalaman pahit tiga laga final sebelumnya jadi pelajaran berharga buatnya.

Di Final ke-empat Ginting tahun ini, tak boleh lagi ada kekalahan. Fans bulutangkis Indonesia tak mau lagi kecewa. Ekspektasi penggemar harus dijawab dengan prestasi.

Semua fans pasti akan berujar "Ini saatnya, Ginting". Terlebih, karena calon lawannya adalah pemain yang kini bertengger di peringkat 28 dunia, sedangkan Ginting berada di posisi 8 dunia. Dengan perbandingan itu, diatas kertas Ginting memang lebih diunggulkan untuk memenangi laga ini dan meraih gelar juara.

Memang, perbedaan peringkat tak bisa dijadikan sebagai patokan utama, apalagi permainan Lee yang bertanding di rumah sendiri terbilang trenginas. Pemain andalan Hong Kong itu kini tengah on fire. Ia mampu memulangkan sejumlah pemain top dunia.

Dibabak kedua Lee memulangkan pemain Tiongkok peringkat 7 Dunia, Shi Yu Qi. Dibabak ketiga, giliran Axelsen, pemain Denmark peringkat 5 dunia yang dilibas. Hebatnya lagi, dari babak pertama hingga semi final, Lee selalu menang straight game alias dua game langsung.

Catatan itu malah berbanding terbalik   dengan yang ditorehkan Ginting--yang harus bermain rubber game dari babak pertama hingga semifinal. Dari segi stamina, Ginting lebih terkuras dibanding Lee.

Tentu ini menjadi catatan yang mesti diwaspadai oleh Ginting dan pelatih tunggal putra Indonesia, Hendri Saputra.

Tapi, permainan Ginting di turnamen ini tak kalah ciamaik. Itu terbukti saat ia mengalahkan Jojo di Semi Final, Ginting yang memenangi set pertama, sempat tertinggal jauh diawal set ketiga, dan kalah telak di set kedua. 

Namun dengan ketenangan, kegigihan dan semangat pantang menyerah membuat dia mampu berbalik unggul.

Sama halnya saat melawan Chou Tien Chien dilaga quarter final kemarin. Ginting yang kalah 8-21 diset pertama dan sudah tertinggal 11-17 diset kedua, mampu mengejar ketertinggalan dan akhirnya berbalik unggul, hingga dapat membalikan keadaan dan memenangi laga sengit dengan pemain peringkat 2 dunia itu.

Begitupula saat mengandaskan, NG Ka Long Angus di babak pertama. Pemain Vietnam yang kerap jadi batu sandungan untuk Ginting itu terlihat mati kutu menghadapi gaya bermain cepat Ginting di set ketiga. Ginting akhirnya menang dengan skor 21-16, 17-21 dan 21-11.

Ginting pemain dengan permaianan cepat. Selain itu, ia pemain yang gigih. Dia terus mengejar shutlecook meski tertinggal jauh. Semangat pantang menyerah dan tidak mau berhenti melawan seburuk apapun keadaan itulah yang membuat dia memenangi laga demi laga di turnamen ini.

Ginting bahkan jatuh bangun, berupaya mengembalikan shutlecook ke bidang permaian lawan. Tak jarang ia harus tersungkur atau istilahnya "mengepel lapangan" karena kegigihnya mengejar pengembalian lawan.

Setelah melihat semua itu, perjuangan tak kenal lelah. Hal itulah yang membuat para fans bulutangkis sangat optimis Ginting menaklukkan pemain Hong Kong yang tengah on fire itu.

Ekspektasi fans itu memang fans rasanga berlebihan. Malah harusnya menjadi penyemangat buat Ginting untuk meraih gelar.

Harapan itu juga menjadi wajar-wajar sajar, karena jika di final sebelumya, lawan ia hadapi memang lebih diunggulkan. Adalah pemain peringkat satu dunia asal Jepang, Kento Momota yang membuat Ginting harus berdiri di podium yang lebih rendah di turnamen Singapura Open Super 500 dan China Open super 1000. Di Australia Open, ia kalah dari Jonantan Christie.

Selain itu, data juga menujukkan bahwa pertemuan keduanya yang sama-sama telah berumur 23 di final Hong Kong open bukanlah pertemuan pertama kali mereka. Ini akan jadi pertemuan kedua, setelah sebelumnya, Ginting mengandaskan perlawanan Lee di turnamen ini di tahun 2015 silam.

Hal itu ditambah dengan pengalaman Ginting yang punya rekor lebih bagus dari Lee. Ginting sudah menorehkan prestasi dan setidaknya sudah pernah juara, dan tentu mental juaranya sudah ada. Masalahnya hanya pada konsistensi.

Sedangkan rekor Lee tahun ini bisa dibilang tidak bagus. Dibeberapa turnamen yang diikuti, ia kerap terhenti dibabak pertama. Bahkan sebelum Hong Kong Open 2019, ia tidak bisa satukalipun melaju hingga babak kedua. Pendeknya paling maksimal ia hanya sampai di babak kedua.

Rekor dan catatan diatas kertas yang lebih mengunggulkan Ginting, ditambah kegigihanya dalam bermain seharusnya membuat Ginting lebih percaya diri untuk memenangi laga ini sekaligus merebut gelar juara pertamanya tahun ini. (**)

VIDEO PILIHAN