Mohon tunggu...
Kaha Anwar
Kaha Anwar Mohon Tunggu...

MJS Press

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Ibu Pedagang Asongan Bus Malam

4 Februari 2012   18:24 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:03 0 0 0 Mohon Tunggu...

Jam digital yang terpajang di pojok bagian depan bus menunjukkan pukul 21.45 WIB. Aku cocokkan dengan jam di HP, ternyata sudah pukul 22.00 WIB. Selisih sedikit, hanya yang tepat dengan waktu sesungguhnya tak pernah kutahu dan tidak patokan yang pasti kecuali: ini hari telah gelap.

Bus berhenti di traffic light (bang ijo). Ibu kira-kira umur 35-an ke atas, manaiki tangga bus. Di tanganya menjinjing baskom berisi jajanan. Ya pedagang asongan malam. Dagangannya tak banyak, sisa jajanan tadi siang atau sore yang belum laku terjual. Aku lihat jajanan tinggal tahu sebesar dadu pemain kopyok amatiran: kecil tapi tidak terlalu kecil, arem-arem, pepaya yang warnanya hampir pucat dan beberapa botol minuman.

Pandangannya mengarah dan menyisir bangku penumpang: mencari sisa penumpang bus malam yang tinggal beberapa orang. Sedikit dan memang sedikit penumpang bus malam ini. Matanya agak sayu melihat incaran yang tinggal sedikit tersebut.

Lampu ruangan dinyalakan pak sopir, mungkin ada rasa kasihan yang timbul di hati bapak yang kondangnya kalau “ngaso mampir” tersebut. Ibu pedagang asongan melangkah pelan-pelan sambil menawarkan dagangannya. Waktu terus mengalir menuju “lingsir wengi”, semoga ada yang beli.

“Arem-arem, Mas? Apa tahu?”, tawarnya. Penumpang depanku membeli pepaya seharga seribuan itu. lumayan mengurangi beban jinjingan.

“Masnya mau mundut apa?”, tawarnya padaku. Aku hanya menggelengkan kepala. Kepalaku masih pusing. Aku belum menguasai keadaan sebab baru saja naik bus. Perlu adaptasi dan konsentrasi untuk mempersiapkan uang karcis. Memang begitu yang aku lakukan setiap naik bus: menguasai keadaan terlebih dahulu baru melakukan aktivitas lainnya.

“Bu, tahunya ada?”, aku memanggil ibu pedagang asongan. Bukan karena kasihan, bukan pula dermawan tetapi memang perutku lagi kelaparan. Seharian perut kempes ini belum terisi karbohidrat.

“Beli berapa, Mas?”, tanyanya halus. Aku ambil satu sekalian air minum. Dehidrasi mulai menjalar di sekujur tubuh. Meski busnya AC tetapi tak mampu mengurangi rasa haus yang aku rassakan. Saat kecil, pikirku kalau tempat dingin tak akan membuat haus, sehingga setiap kali puasa datang aku senang “ngadem” di jeding sumur samping rumah. Slulupan istilah kerennya.

Bus terus melaju dengan cepatnya. Bus yang aku naiki seolah tak mengenal rem, yang ada pancal gas. Pancal dan pancal. Gelap, jalan ramai dan berkelok tidak menyurutkan sopir untuk sedikit mengurangi kecepatan. Seakan sopir ini hafal kapan banting kiri, kapan banting kanan. “sopir edan”, pikirku. Memang begitu kenyataannya, malam bagaikan ajang pelampiasan, uji nyali, uji ketangkasan para sopir-sopir bus malam. Meski satu tim, satu perusahan tetap saja saling bekejaran.

Ibu pedagang asongan berjalan ke belakang, meski jalan bus bagaikan tong setan tetapi ibu ini kelihatan menguasai keadaan sebagaimana sang sopir yang menguasai jalan. Tak ada lagi penumpang di belakang, kemudian duduk tepat di belakangku.

Yu..Yu..wah, pentolku Sampeyan duduki!”, suara kondektur yang agak meninggi, tepat di sisi kananku.

Ora yo Mas, Sampeyan naruhnya di bangku belakang. Kalau aku duduki, sudah terasa panas!”, kilah ibu ini. Sang kondektur tidak menanggapi, mungkin benar kata ibu ini. Ataukah memang sengaja mengada-ada sang kondektur berkata demikian.

“Dunia malam, isinya cuma guyonan, selorohan, dienggo tombo adem”, pikirku. Kondektur dan ibu pedagang asongan ini duduk berdampingan di belakangku waktu malam dengan cahaya lampu bus yang terangnya hanya jangkuan bangku penumpang.

Pikiranku melayang, menerawang dengan segala terawang yang sepatutnya tak menggelayuti alam pikranku yang awam dengan dunia malam. Tidak terjadi apa-apa, tak ada apa-apa yang terjadi antara ibu dan kondektur. Malah sebaliknya mereka ngobrol masalah keluarganya, tentang pekerjaannya. Suka-duka dunia mereka, singkatnya.

Ternyata pikiranku memang kotor, sekotor comberan yang melintang di pinggiran pasar. Terlalu dini dan mudahnya mengambil kesimpulan. Cakrawala pikirku ternyata hanya selebar bentangan kain selimut: begitu sempit dan cukup menghangatkan badanku. Padahal aku mendengar ada kata-kata “jalmo tan kinoyo opo”, manusia tidak bisa disimpulkan hanya melalui tampilan, dunia kerjanya. Itu semua hanya tampilan luar yang mungkin saja tidak dapat menggambarkan kedalaman batinnya sang manusia. “ngono yo ngono nanging ojo ngono”, tidak sedikit pun terlintas di pikiranku. Aku terlalu cepat memakasakan “ngono”ku untuk “ngono” ibu dan kondektur.

Seharusnya aku memperlambat cara pengambilan konklusi, tidak perlu terburu-buru. “nikmatilah setiap momen yang terbentang dihadapmu, jangan terjebak “kebat kliwat”. Kenyataannya, aku terlalu cepat mengambil kesimpulan sehingga “kliwat”, terlewati hikmah-hikmah yang bisa aku petik di perjalananku.

Ibu pedagang asongan adalah manusia yang tabah, sabar dan telaten. Bagaimana tidak? Malam-malam, waktunya manusia melabuhkan diri di empuknya dipan sambil bercengkerama dengan keluarganya, beliau masih setia menjajakan dagangannya. Entah cibiran, prasangka kotor seperti prasangkaku ditelannya. Tak peduli dan mengapa harus peduli dengan kata-kata yang tidak bermakna. Apakah yang berprasangka, sepertiku ini, mempunyai kepedulian terhadapnya? Tidak sama sekali, kecuali hanya meladeni prasangka diri.

Anak-anaknya, mungkin saja, kini tengah berebah dengan mata yang tak mengatup-ngatup sebab menunggu ibunya yang tidak kunjung datang. Merindukan dekapan hangat sang ibu yang kini masih setia menjajakan tahu dan pepaya. Suaminya mencoba menenangkan anak-anak, tetapi tidak bisa. Perasaannya juga harap-harap cemas menanti istri tercinta. Sesekali sang suami keluar ke pelataran, dilihatnya ujung jalan: siapa tahu istrinya datang menenteng baskom. Namun, kenyataannya tidak. Istrinya masih di dalam bus yang berjalan cepat dengan bahaya yang mungkin tidak pernah diharapkannya.

Akhirnya aku bertanya pada diriku sendiri, bertanya kepada rasa sok suci, bertanya pada kepandianku yang ternyata gegabah mengambil kesimpulan: beranikah kamu melakoni seperti ibu pedagang asongan? Beranikah kamu mengacuhkan segala harap nikmat dunia yang selama ini engkau tanam? Bukankah keluyuranmu di Kota Pelajar hanya ingin berharap hidup enak saja? pekerjaan yang terhormat dengan segala fasilatas lengkap: mobil mewah, tunjungan gaji yang mungkin masih kau selingi dengan korupsi? Semua orang berani membayangkan hal-hal seperti itu, tetapi sedikit yang berani melakoni dunia yang dalam kaca mata manusia adalah nista.

Aku tertunduk, kepala kusandarkan pada bangku kursi depanku: aku ngantuk dan tertidur. “Ah kamu memang tak pernah serius dalam menangkap makna dari guru-guru sejati!”.

kaha.anwar@gmail.com

KONTEN MENARIK LAINNYA
x