kaekaha
kaekaha wiraswasta

...penikmat musik, traveling, fotografi, bola, buku cerita, humaniora dan kuliner berkuah kaldu ..... ingin sekali keliling Indonesia!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Meneladani Sosok Haji Leman, Putra Dayak Pendiri Barito Putera

11 Agustus 2018   00:22 Diperbarui: 12 Agustus 2018   00:45 2720 9 1
Meneladani Sosok Haji Leman, Putra Dayak Pendiri Barito Putera
Haji Leman dan Komitmen untuk Banua (Foto/Grafis : FB Barito Putera)

Bagi masyarakat Banjar dan Dayak, khususnya Sub Suku Dayak Bakumpai di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Utara serta Kalimantan Barat, tentu sangat familiar dengan salah satu tokoh besar banua yang dikenal sebagai pengusaha, politikus, pejabat publik serta filantropis yang akrab dipanggil dengan Haji Leman ini.

Pria yang mempunyai nama lengkap Haji Abdussamad Sulaiman ini adalah putra Dayak Bakumpai asli kelahiran “Ranah Bahalap” Kota Marabahan, Kabupaten Barito Kuala  21 April 1948, sekitar jam 05.00 WITA.

Konon nama Abdussamad di ambil oleh orang tuanya Haji Basirun dan Hj. Sa’diyah dari nama tokoh agama, datuk Abdussamad, cucu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang dikenal sebagai ulama termasyhur dari Kerajaan Banjar abad ke 18. Sedangkan nama Sulaiman diambil dari nama Nabi dan juga tokoh pengusaha di Bumi “Ranah Bahalap” Marabahan.

Lahir dan tumbuh berkembang di lingkungan pengusaha yang mandiri dan religius, kelak akan menempanya menjadi sosok pekerja keras,  seorang pengusaha besar berjiwa filantropis yang religius dan tawaduk kepada kedua orangtua, para ulama dan habaib.

Berawal dari sebuah “prinsip” yang layak kita teladani “tidak ada yang tidak bisa dikerjakan”  beliau mempunyai keyakinan bahwa dengan perjuangan sungguh-sungguh, doa dan bertawwakal kepada Allah SWT, maka apa yang beliau kehendaki Insha Allah akan terkabul dan terlaksana.

Grafis Kronika Usaha Hasnur Grup (Grafis : hasnurgroup.com)
Grafis Kronika Usaha Hasnur Grup (Grafis : hasnurgroup.com)
Kronika Usaha

Sejak lulus SD, jiwa entrepeneur Leman muda telah di asah oleh sang ayah yang juga seorang pengusaha angkutan sungai. Dengan modal Rp 300,- pemberian ayahnya, Leman memulai usaha beternak ayam di kolong rumah ayahnya. 

Sambil bersekolah di SMPN 1 Banjarmasin, usaha ternak ayamnya berhasil.  Naik ke kelas 2 SMP, Leman merasa perlu melakukan diversifikasi usaha dengan menambah usaha ternak itik. Setahun kemudian, Leman sudah bisa membeli sepeda motor merek Sundap dari hasil usaha ternak ayam dan itik tadi.

“Saya kala itu bangga sekali, sebab bisa memiliki sepeda motor sebagaimana teman-teman sekolah saya yang kebanyakan anak orang kaya. Saya bangga, karena sepeda motor itu saya beli dengan uang hasil kerja saya sendiri,” ujarnya.

Disaat mulai bisa menyelaraskan antara dunia sekolah dan usaha diusia yang baru menginjak 14 tahun, masalah besar tiba-tiba datang, Haji Basirun sang ayah sakit keras dan harus mendapatkan perawatan intensif beberapa lama di Surabaya.

Haji Leman (Foto : infoduniaraya.blogspot.com)
Haji Leman (Foto : infoduniaraya.blogspot.com)
Karena terlalu lama meminta ijin untuk tidak sekolah, akhirnya Leman muda memutuskan berhenti sekolah demi bisa mengurus ayahnya yang sakit selama kurang lebih sekitar satu tahun, sampai beliau sembuh. Praktis, diusia 15 tahun Leman muda sudah harus putus sekolah. Meskipun terasa berat, tapi pantang bagi Leman muda untuk putus asa. Sepeti abahnya, Leman muda mengharamkan “putus asa dari rahmat Allah”

Sejak tahun 1963, Kala H Basirun semakin tua dan sakit-sakitan, Leman remaja memutuskan melanjutkan usaha angkutan sungai ayahnya dengan modal utama berupa petuah sang abah, “Kalau mau memulai usaha, harus punya keyakinan. Yakni yakin berhasil, yakin kepada Allah yang Maha Pemurah. Harus tabah dan ulet. Jangan berpikir sulit, jangan berpikir kalau ini kalau itu. Jangan takut rugi. Kerjakan dulu!”  plus aset riil berupa 2 buah kapal kecil dan 5 buah tongkang.

Hakkul yakin, Bismillah…! Diusia Leman yang masih teramat muda, usaha angkutan sungainya dengan bendera CV. Sari Bungas berkembang, bahkan akhirnya merambah angkutan barang antarpulau rute Banjarmasin-Semarang dan tahun 1966 menambah rute Banjarmasin-Surabaya.

Hutan pohon galam (Melaleuca leucadendron) (Foto : kalimantanberita.com)
Hutan pohon galam (Melaleuca leucadendron) (Foto : kalimantanberita.com)
Dari sini, naluri bisnisnya mulai terasah, di Surabaya Leman membuka pangkalan kayu galam (Melaleuca leucadendron) yaitu kayu/pohon endemic rawa-rawa yang biasanya dipakai untuk scaffolding  untuk membangun bangunan bertingkat. Ini jelas terobosan baru, sebab saat itu tak ada orang yang berdagang kayu galam sampai keluar dari Kalimantan.

Sejak itu, Leman memulai usaha sendiri, lepas dari usaha ayahnya. Dari ayah angkatnya, Mahar Mahir, Kepala Bank Kalteng yang berkantor di Banjarmasin. Mantan pejuang kemerdekaan ini menyuruh Leman untuk menemui Hopman, pemegang hak operasional 4 buah kapal milik Gereja Kalteng Evangelis.

Dari pertemuan ini, Hopman setuju Leman mengoperasikan kapal-kapal kayu yang sudah lama tambat di dermaga depan gereja di Jl Jenderal Sudirman Banjarmasin itu. Sayang 2 kapal dari total 4 kapal yang ada sudah tidak bisa lagi digunakan.

Akhirnya dengan dua kapal yang ada, usaha mulai dijalankan. Dua kapal itu digunakan untuk menarik kapal layar dari Pelabuhan Trisakti ke muara Sungai Barito, atau sebaliknya. “Kala itu kapal layar jenis phinisi (Bugis) atau perahu Golek (Madura) belum menggunakan mesin. Jadi usaha ini hasilnya lumayan,” kenang Haji Leman.

Haji Leman dan Isteri (Foto: hasnurgroup.com)
Haji Leman dan Isteri (Foto: hasnurgroup.com)
Sejak itulah, Leman remaja yang kelak dikenal sebagai pengusaha besar banua dengan panggilan akrab Haji Leman, mendirikan CV. Hasnur pada 1968 sebuah brand usaha yang diambil dari akronim namanya sendiri Haji Abdussamad Sulaiman (HAS) dan istri tercintanya Hj Nurhayati (NUR).

Brand nama Hasnur sejatinya bukan semata penggabungan dua akronim nama pemiliknya, tapi lebih dari itu! Nama Hasnur merupakan sebuah kristalisasi dari cinta. Cinta sepasang anak manusia yang kelak akan dikenal orang mengejawantah dalam bentuk yang lebih universal.

Salah satu buktinya, nama Hasnur juga disematkan kepada dua dari tujuh buah hati beliau, yaitu H. Hasnuryadi Sulaiman, SE  CEO Barito Putera yang juga salah satu pengurus PSSI pusat dan Hj Hasnuryani Sulaiman, Direktur Keuangan Hasnur Group,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3