Mohon tunggu...
Umar Werfete
Umar Werfete Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

A fan of Wonderful World who loves travel and photography

Selanjutnya

Tutup

Lyfe

"La Vita E' Bella" ("Life is Beautiful")

28 Februari 2012   19:50 Diperbarui: 25 Juni 2015   08:46 1306
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pagi ini ketika saya membaca sebuah artikel di salah satu majalahyang memaparkan sebuah buku tentang inteligensi orang yahudi, saya lalu menemukan kalimat “ La Vita e’ Bella” yang ternyata adalah sebuah film yang dirilis tahun 1997. Dengan cepat saya mencari film tersebut di beberapa situs online untuk ditonton, dan akhirnya saya menemukannya. Film ini menceritakan kisah seorang Yahudi Italia, Guido Orefice yang diperankan oleh  Roberto Benigni, dimana fllm ini juga terinspirasi dari kisah hidupnya ketika berada dalam kamp Nazi pada perang dunia kedua.

Film ini terlihat memiliki dua plot, plot pertama menceritakan sebuah kisah romantis yang aneh bin ajaib yang dipoles dengan komedi klasik ala Charlie Chaplin.  Kisah ini berawal dari Guido, anak muda Yahudi Italia yang pergi ke Arrezo, sebuah kota yang terletak di Tuscany, sekitara 80 kilometer arah selatan Florence- Italy,  Benigni (Guido) berniat membuka toko buku lalu dia berekerja sambilan sebagai pelayan  di hotel milik pamannya.

Karakter Guido dimaninkan oleh Benigni sebagai seorang yang lucu, konyol tetapi cerdas dan memiliki kharisma. Kekonyolan dan kecerdikannya mampu memikat hati Dora (Nicolette Braschi) , seorang ibu guru yang menurutnya cantik seperti matahari yang terbit di pagi hari.  Dora adalah sosok gadis  kaya aristokrat  dan  berdarah  bukan yahudi. Ibu Dora mengnginkan anak itu menikah dengan seorang  anak muda dari keluarga aristokrat juga, pegawai pemerintah yang kelihatan sedikit sombong  pada pesta pertunangannya. Tetapi ternayata hati Dora lebih memilih Guido sehingga selama pesta pertunangan berlangsung, Dora kelihatan menghandari tunangannya.

Guido lalu menikahi Dora dan memiliki seorang putra yang cerdas, Giosue Giorgio Cantarini), semenjak mereka menikah Dora harus berpisah dengan Ibunya , Marisa Paredes, mereka diasingkan kerena Dora menikah dengan Guido dimana status sosial Guido tidak setera. Setalah anak mereka berusia empat tahun, Ibu Dora baru datang dan menemui cucunya dan memulai islah.

Sayangnya, pada akhir plot pertama ini, cukup mengagetkan dan juga mengherankan sebab Guido, dan Dora sudah menikah dan memiliki seorang putra berusia 4 thaun.  Plot ini tidak menyajikan bagaimana Guido dengan tingkahnya yang konyol dan cerdas bisa menaklukan tunangan Dora yang aristokrat itu juga tunanganya itu dan Ibu Dor, lalu bagaimana pernikahan mereka, bagimana saat –saat ketika memiliki seorang bayi laki laki.  Karakter yang diperan Guido sangat kuat dan manjur untuk menaklukan segala situasi bahkan menaklukan gadis, ha ha ha..Guido memang sang Pemikat”  tetapi dibalik itu orang juga akan bertanya-tanya apakah Guido serius sebab semua yang dikatakan serba canda alias guyon bahkan  Lebay. Jika saja pada plot ini bisa menyajikan lika liku cinta Guido dan Dora pasti akan lebih lengkap dan tentunya lebih menarik sebelum beralih ke plot kedua.

Pada plot kedua menceritakan awal perang Dunia Dua (WWII), Guido dan anaknya Giosue yang baru berusia 4 tahun serta pamannya Eliseo dipaksa harus naik ke kereta dan dibawa ke kamp penampungan dan paksa bekerja, hari itu  tepat pada hari ulang tahun Giosue yang ke empat. Pada saati itu, Dora yang bukan berdarah Yahudi  memutuskan untuk tetap masuk ke kereta agar bisa bertemu Guido dan Giosue, anaknya padahal dia boleh saja memilih tidak ikut . Giosue yang masih kecil bartanya Tanya kepada ayannya henedak ke mana mereka dan untuk mereka berhimpitan dalam kereta itu dengan ratusan orang lainnya.

Dalam suasana yang begitu keras dan ganas, Guido berusaha menyembunaykan anaknya dari tentara Nazi yang kejam, serta berusaha menyenangkan dan menghibur anaknya. Dengan kecerdasan dan kekonyolan Guido dalam menyelamatkan nyawa Giosue, Ia meyakinkan anaknya bahwa kamp yang mereka tempati hanyalah sebuah permainan belaka (game) dimana orang pertama yang berhasil mengumpulkan 1000 poin akan memenangkan sebuah hadiah tank. Guido meyakinkan anaknya bahwa jika ia menangis, mengeluh bahwa ia kedinginan atau mengatakan bahwa ia lapar atau menyanyakan di mana ibunya maka ia akan kehilangan poin, sedangkan apabila ada anak laki laki yang selalu diam dan bersembunyi dari para penjaha kamp maka akan memperoleh poin.

Guido juga meyakinkan anaknya bahwa para tentara penjaga kamp  itu juga  menginginkan tank untuk mereka sehingga mereka juga sedang berusaha agar para peserta lomba gagal memenangkan permainan itu dan semua anak laki laki sedang bersembunyi untuk memenangkan permainan itu.  Guido selalu berusaha untuk menunda nunda permintaan anaknya untuk kembali ke rumah sebab mereka berdua hampir memenagkan sebuah tank, poin mereka yang tertinggi dari peserta lainya dan mereka akan segera memenangkannya dan ada tes terakhir di mana Giosue haru bersembunyi di kotak surat siang dan malam, dia boleh keluar ketika keadaan telah sepi dan semua orang telah pergi, tidak ada lagi suara-suara. Saat itulah ia keluar  dan nantinya ada sebuah tank yang datang, itulah tank miliknya, hasil dari memenangkan permainan itu, sedangkan ayahnya akan pergi mencari Dora dan akan datang.

13304586101797375015
13304586101797375015

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun