Mohon tunggu...
irvan sjafari
irvan sjafari Mohon Tunggu... Jurnalis - penjelajah

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tragedi Kongo dan Kiprah Pasukan Garuda II 1960-1961

2 Maret 2018   18:47 Diperbarui: 2 Maret 2018   20:48 6070
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mayor Surja dan Solichin/Foto: Repro Pikiran Rakjat, 1960 oleh Irvan Sjafari.

Ironinya, Lumumba  dalam seeuah pidatonya sempat meminta pasukan PBB meninggalkan Kongo, sehari sebelumnya. Dia yakin Kongo bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Suatu sikap bahwa dia sendiri sebetulnya gamang menghadapi situasi yang tidak diduganya.

Pemerintah Uni Soviet pada pertengahan Februari 1961 menuntut, supaya pasukan PBB yang ditempatkan di Kongo menangkap Kepala Staf Tentara Kongo Mayor Jenderal Joseph Mobutu dan Moise Tshombe, yang menamakan dirinya Presiden Katanga untuk dibawa ke muka pengadilan.

Perjuangan Kemerdekaan Kongo segera menarik perhatian orang Indonesia yang saat itu sedang berjuang untuk pembebasan Irian Barat dan juga solidaritas yang berhasil ditanamkan lewat Konferensi Asia Afrika pada 1955.  Perjuangan kemerdekaan Kongo bersamaan dengan Aljazair dan beberapa negara Afrika lainnya, seperti Nigeria dan Angola 

Tiga hari setelah pembunuhan terungkap pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia dikeluarkan.  Menteri Luar Negeri Subandrio menerangkan, Lumumba bukan hanya pejuang kemerdekaan Kongo, tetapi ia merupakan simbol dari perjuangan dunia menentang kolonialisme.

Presiden Soekarno mengirimkan kawat belasungkawa kepada Wakil PM Republik Kongo Antonie Gizenga di Stanleyville, pada 19 Februari 1961 yang isi pernyataan, Indonesia sangat terkejut terhadap peristiwa pembunuhan Lumumba,  Okita dan Mpolo.

"Itu perbuatan jahat dari Kaum Imprealisme dan Kolonialisme," tuding Soekarno seperti dirilis Pikiran Rakjat, 23 Februari 1961.  Soekarno sendiri dalam pernyataan bersama dengan Presiden Mesir Gamal Abdul Naser pada pertengahan Desember 1960 meminta kepada PBB memperbaiki keadaan di Kongo dan memungkinkan pemerintah yang sah secara bebas bekerja di bawah pimpinan Patrice Lumumba.

Kebetulan pada 10-15 April 1961 Indonesia menggelar Sidang Setia Kawan Asia Afrika di Bandung. Sidang itu diikuti 23 delegasi. Di antaranya terdapat delegasi dari Kongo dan Kamerun. Hadirnya delegasi Kongo juga menandakan bahwa simpati Indonesia pada negara itu begitu besar.  Dalam pembukaannya Soekarno mengatakan bahwa jika rakyat (negara terjajah) sedunia bersatu, imprealisme pasti runtuh.

Konferensi itu tampaknya ingin mengingatkan pada Konferensi Asia Afrika pada 18-24 April 1955. Namun hadirnya delegasi Uni Soviet dan RRC membuat kegiatan ini membuat persepsi bahwa Indonesia sebetulnya sedang bergerak ke arah kiri.

Reaksi di Masyarakat

Pembunuhan atas Lumumba terjadi saat  kelompok kiri  di Indonesa  secara politik sedang menguat. Mereka  memanfaatkan pembunuhan Lumumba untuk kepentingannya.  Mereka tahu bahwa rakyat Indonesia juga masih ingat waktu Perang Kemerdekaan, Belgia adalah wakil Belanda dalam Komisi Tiga Negara. 

Buruh-buruh perkebunan  di Labuan Batu, Sumatera Utara, marah. Mereka mengambil-alih perkebunan-perkebunan milik pengusaha Belgia di daerah Mrangir, Aek Paminke. Pemuda Rakyat, organisasi onderbouwPKI dalam Kongres di Kupang pada 20-22 Juli 1961 mengutuk pembunuhan Lumumba.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun