Mohon tunggu...
Junanto Herdiawan
Junanto Herdiawan Mohon Tunggu... Kelompok Kompasianer Mula-Mula

Pecinta ekonomi, kuliner, dan traveling. Penulis lima buku: Orang Jepang Naik Haji, Flying Traveler, Shocking Japan, Shocking Korea, dan Japan Aftershock. Selebgram sebagai Flying Traveler di akun IG @junantoherdiawan. Bekerja sebagai Direktur Departemen Komunikasi BI. Sebelumnya adalah Kepala BI Fintech Office, Ekonom Senior di BI Tokyo, Kepala Ekonom di BI Surabaya, dan Kepala Divisi di Dept Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Setya Novanto Turun, Suku Bunga AS Naik

17 Desember 2015   10:03 Diperbarui: 17 Desember 2015   12:04 1393 6 1 Mohon Tunggu...

 [caption caption="Ketua The Fed, Janet Yellen, saat memutuskan kenaikan suku bunga AS (17/12) / foto oleh Getty Images"][/caption]Entah ada atau tidak hubungannya, ketika pada satu sore (16/12) Setya Novanto mengumumkan pengunduran diri, atau turun sebagai Ketua DPR, dini harinya (17/12), Bank Sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 0,25 persen. Dua kejadian turun dan naik tersebut menjadi pembicaraan di Indonesia pada saat bersamaan. Dampak politik dan ekonomi kerap saling berkelindan hingga sulit dipisahkan.

Saya tidak membahas secara mendalam soal turunnya Setya Novanto karena lebih banyak penulis lain yang lebih ahli. Tulisan ini mencoba melihat dan mengukur, bagaimana dampak naiknya suku bunga AS (Fed Fund Rate) pada ekonomi Indonesia, di tengah kondisi politik dan ekonomi yang penuh dinamika saat ini.

Setelah tujuh tahun berada pada kisaran nol persen, Bank Sentral AS (The Fed) akhirnya menaikkan suku bunganya sebesar 0,25 persen. Kenaikan yang “hanya” sedikit, tapi dampaknya mengglobal. Mengapa? Karena suka atau tidak suka, Dolar AS adalah mata uang dunia, atau yang disebut sebagai “safe haven”. Dolar AS berperan seperti likuiditas global paling aman, yang saat dunia dipenuhi ketidakpastian, semua orang memburunya untuk menjaga nilai aset mereka.

Saat The Fed menaikkan suku bunga, dolar AS yang ada di berbagai belahan dunia, akan bereaksi secara langsung. Secara teori, dolar AS yang tersebar akan kembali ke AS, terjadi pembelian dolar AS di berbagai negara, yang pada gilirannya memicu peralihan aset, dari saham, emas, komoditas, ke Dolar AS. Akibatnya, Dolar akan menguat, mata uang negara lain atau asset lainnya, akan melemah.

Sebenarnya The Fed tidak “ujuk-ujuk” menaikkan suku bunganya. Woro-woro telah dilakukan sekitar satu tahun terakhir agar pasar keuangan global tidak kaget. Dengan demikian, sebenarnya kebijakan menaikkan suku bunga ini sudah diantisipasi oleh pasar jauh-jauh hari. Janet Yellen, Ketua The Fed, menyadari kalau kenaikan suku bunga AS akan memberi pengaruh besar pada ekonomi global. Oleh karenanya, ibarat mobil yang ingin belok, lampu sein sudah dinyalakan jauh-jauh hari.

Sebelumnya ada yang bertanya, mengapa The Fed menaikkan suku bunga? Karena mereka melihat ekonomi AS mulai pulih setelah dilanda krisis sejak tujuh tahun lalu. Pengangguran di AS mulai membaik, dari rerata 10 persen kini menjadi sekitar 5 persen, dan di sisi lain produktivitas ekonomi juga mulai meningkat. Dengan perkembangan tersebut, sebagaimana disampaikan Yelen dini hari tadi, The Fed menaikkan suku bunga secara gradual, pelan-pelan saja, dengan tujuan agar inflasi dan kestabilan ekonomi dalam negeri AS dapat terjaga.

Dampak kenaikan suku bunga AS paling dirasakan di negara-negara berkembang (emerging markets). Negara-negara berkembang tentu menghadapi dilema, karena secara teori, respon klasik yang perlu dilakukan bank sentral adalah juga dengan menaikkan suku bunga, agar dana tidak lari keluar, sehingga gejolak dapat diredam. Namun langkah itu sulit dilakukan, karena kondisi ekonomi dalam negeri sedang melemah. Kenaikan suku bunga akan semakin memukul ekonomi. Selain itu, apabila negara dilanda defisit transaksi berjalan, utang luar negeri tinggi, defisit fiskal, dan ketidakstabilan politik, semakin mempersulit dilakukannya kenaikan suku bunga. Dalam keadaan ini, Bank Sentral negara berkembang berada di persimpangan jalan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Banyak pihak mengatakan, mengapa kita harus bergantung pada suku bunga AS, kan kita bebas menentukan kebijakan sendiri. Di satu sisi, pernyataan itu benar adanya. Kebijakan ekonomi Indonesia adalah hak kita sebagai otoritas ataupun bangsa Indonesia. Namun, dalam kondisi dunia yang saling bergantung saat ini, ditambah gerak arus modal yang dapat berpindah seketika melintasi batas ruang dan waktu, tak dapat dipungkiri kalau perkembangan di negara lain, terutama AS, akan memberi pengaruh langsung pada Indonesia. Sebagai contoh, saat The Fed baru merencanakan kenaikan suku bunga beberapa bulan lalu saja, Rupiah sudah langsung tertekan.

Perekonomian Indonesia saat ini masih tergantung pada dana asing, yang masuk ke Indonesia untuk membiayai defisit fiskal dan juga pasar keuangan kita. Kalau melihat kepemilikan asing di Surat Berharga Negara yang besarnya sekitar empat puluh persen, terlihat betapa dana asing masih berperan besar. Belum lagi jumlah pinjaman luar negeri swasta kita yang mencapai 168 miliar dolar AS. Bila dana asing ini keluar sewaktu-waktu, tentu ekonomi Indonesia akan terpengaruh.

Namun di sisi lain, kita perlu tetap optimis, karena Indonesia dipandang oleh beberapa lembaga internasional sebagai negara yang memiliki ketahanan dalam menghadapi gejolak eksternal saat ini. Indonesia sudah keluar dari kelompok negara “fragile five” atau lima negara yang rapuh. Bahkan Indonesia tidak masuk dalam negara bermasalah, atau “Trouble 10”.  Kebijakan pemerintah yang berhati-hati, keunggulan demografi, dan demokrasi yang aman, menjadi pertimbangan berbagai pihak untuk menilai Indonesia lebih baik. Ini artinya, kita memiliki modal awal yang bagus.

Trend pertumbuhan ekonomi Indonesia juga sudah mulai berbalik positif di angka 4,73 persen pada triwulan III lalu. Bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara berkembang lain yang malah negatif, seperti Rusia (-4,1 persen), atau Brasil (-1,7 persen).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN