Mohon tunggu...
Julio Bagas H
Julio Bagas H Mohon Tunggu... Suka mengumpulkan ide, tapi agak malas merealisasikannya

Seorang manusia yang sedang berprofesi sebagai Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Film

Sejauh "5 cm"

30 Oktober 2020   23:38 Diperbarui: 30 Oktober 2020   23:42 38 1 0 Mohon Tunggu...

   Secara garis besar yang sangat besar namun tidak sebesar kasih Tuhan kepada hambanya yang penuh berlumuran dosa ini, sebuah film asli Indonesia yang disutradarai oleh Rizal Mantovani yang berjudul '5 cm'  ini bercerita mengenai kisah petualangan dan persahabatan yang terjalin antara 5 orang remaja. Masing-masing memiliki kepribadian yang unik, Zafran (Herjunot Ali) yang hobi sekali menulis puisi-puisi bertemakan cinta, Arial (Denny Sumargo) yang gemar menjaga postur tubuhnya dengan rutin berolahraga sehingga banyak dikagumi oleh wanita-wanita, Ian (Saykoji) yang hobi bermain game serta mengkoleksi kaset-kaset yang berisikan video-video 'indah' artis-artis papan atas genre 'kasur goyang' yang sering ia beli melalui toko kaset langganannya, Riani (Raline Shah) si gadis cantik berparas menawan nan pintar yang mana karakteristik tersebut sering menjadi idaman lelaki masa kini termasuk si penulis artikel ini, dan Genta (Fedi Nuril) seorang pria cerdas nan menawan ibarat arjuna idaman wanita.

Kisah petualangan mereka bermula saat setelah menikmati hidangan kaki lima yakni mie goreng khas warung-warung kecil pinggir jalan di kota metropolitan. Sesampainya mereka di rumah Arial sang lelaki yang memiliki otot besar nan kekar yang mirip dengan pencetus ide podcast Close The Door, mereka pun berkumpul dan bercengkrama di sebuah taman yang ada di area rumah. Seperti anak muda pada lainnya, topik pembicaraan yang menjadi pembuka di pertemuan mereka malam itu pun tak jauh beda, diisi dengan hal-hal omong kosong nan bas abasi khas anak-anak tongkrongan. Setelah dirasa cukup haha hihi nya, Genta yang tercermin sebagai ketua geng mereka pun mengutarakan isi hatinya yang telah lama terpendam. Ia merasa jenuh terhadap aktivitas-aktivitas yang telah ia lalui, dalam hal studi maupun dengan yang saat ini sedang ia lakukan, yakni kumpul bersama para sahabatnya. Genta pun memiliki ide agar memberi jeda terhadap pertemuan rutin yang mereka lakukan selama beberapa saat dan ia pun akan menentukan tanggal kapan mereka akan bertemu kembali, yang bertujuan supaya dapat menghilangkan rasa bosan serta dinilai dapat meningkatkan produktivitas masing-masing sahabatnya. Awal ketika mendengarnya mereka pun tak ada yang setuju, namun setelah diberikan pengertian oleh Genta, dan akhirnya mereka semua setuju. Hari demi hari dalam jeda yang diberikan kepada mereka agar tidak bertemu pun dilalui, dan tibalah hari dimana mereka semua akan bertemu. Genta memberikan clue barang-barang apa saja yang harus dibawa ketika mereka akan bertemu, termasuk juga memberikan lokasi pertemuan mereka. Tibalah mereka semua di stasiun, dan ide Genta tersebut membawa mereka kepada pengalaman mendaki gunung, ya mereka akan mendaki Gunung Semeru. Sesampainya di kaki Gunung Semeru, mereka melanjutkan perjalanannya untuk melewati pos-pos pendakian yang ada hingga pada akhirnya nanti sampai di puncak Mahameru. Langkah yang mereka tempuh pun terbilang tak mudah, banyak rintangan yang dilalui. Diantaranya kaki yang berdarah terkena ranting, Ian yang mengalami Hipotermia saat mendaki di waktu subuh dan tertimpa reruntuhan batu ketika tinggal beberapa langkah lagi menuju puncak Mahameru. Namun pada akhirnya mereka semua sampai di puncak Mahameru, dan melakukan prosesi penghormatan kepada Bendera Merah Putih bersama-sama dengan para pendaki lainnya karena saat itu bertepatan dengan hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, 17 Agustus.  Tak sampai disitu, tak mungkin tak ada kisah cinta yang timbul antara sahabat. Genta yang mencintai Riani namun Riani ternyata diam-diam sayang kepada Zafran, dan Zafran yang mencintai Dinda (PevitaPearce) adik Arial.

   Film ini merepresentasikan kejadian-kejadian yang terjadi pada kehidupan masing-masing remaja di Indonesia. Mulai dari aktivitas yang dijalani pada umumnya, hobi yang dimiliki, kisah studi yang dilalui, karir, lingkup pertemanan, hingga tak lupa romansa yang khas dialami remaja di kesehariannya. Selain itu, film ini juga menawarkan salah satu keindahan yang dimiliki oleh negeri ini, yakni pesona asri gunung yang dimiliki Bumi Pertiwi. Selain hal-hal tersebut, ada nilai moral penting yang dapat dipetik dari film ini. Nilai moral tersebut adalah perlunya kita kritis dalam hal mengevaluasi segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Apakah ada yang salah dalam menjalani hidup ini, apa yang kurang dalam hidup ini, dan bagaimana cara kita dalam mewujudkan cita-cita yang ingin kita gapai. Seperti Genta, yang secara kritis menilai bahwa rutinitas untuk nongkrong bersama teman-teman tidak selamanya bersifat baik. Akan terasa lebih bijak ketika waktu yang kita gunakan untuk nongkrong, dapat lebih kita manfaatkan untuk perlahan memperbaiki diri serta memberikan porsi lebih bagi cita-cita kita agar dapat sesegera mungkin tercapai, sebab tak akan pernah ada yang tahu berapa lama lagi sisa waktu yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada kita untuk menjalani kehidupan di dunia yang fana ini.

   Dari segi pengambilan gambar, arahan-arahan sutradara patut diacungi 4 jempol. Sebab shoot-shoot yang dihasilkan di film ini berkelas. Terlebih lagi keberanian sutradara untuk menjadikan novel 5 cm ini menjadi sebuah film yang memiliki makna yang sama antara ketika membaca novel dengan menonton filmnya. Karena tidak jarang film-film Indonesia yang diadaptasi dari sebuah novel malah justru berbeda maknanya ketimbang ketika kita membaca novel tersebut. Pemilihan aktor dan aktris yang berperan pun juga sesuai dengan karakteristik yang ada pada novelnya. Musik-musik yang dipilih sebagai backsound film tersebut pun menurut saya cocok dengan situasi scene per scenenya, yang mana dapat menambah mood pemirsanya.

   Namun ada beberapa hal yang membuat saya berfikir mengenai kekurangan yang dimiliki oleh film 5 cm ini. Diantaranya adalah menurut saya scene ketika mereka sedang berada di kereta dalam perjalanan menuju titik destinasi. Ada beberapa scene yang menurut saya kosong makna dan terkesan terlalu memaksakan, seperti shoot-shoot yang dilakukan hanya untuk mengimbangi backsound yang ada agar pas dengan durasinya. Lalu hal yang selanjutnya adalah ide plot twist yang ditambahkan menjelang film itu usai. Adalah kisah romansa antara sahabat yang terkesan mengganjal dan kurang tuntas sekaligus kurang matang eksekusinya. Ya walaupun di akhir film terdapat cuplikan-cuplikan saat mereka bertemu seusai semuanya telah menikah, namun bagi saya tetap saya rasa janggal karena alasan diatas tersebut.

   Sekali lagi angkat topi bagi para pihak yang telah terlibat didalam proses produksi film 5 cm ini. Applause untuk sutradara yang dapat mengemas film ini sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam novel aslinya. Besar harapan industri film Indonesia agar semakin maju dan berkembang semaksimal mungkin, dan nantinya dapat menembus pasar Luar Negeri. Besar harapan pula agar masyarakat Indonesia tidak melulu selalu menganggap film-film produksi dalam negeri sebagai film yang terkesan diproduksi sembarangan, tetap mendukung sineas-sineas negeri ini agar tetap berkarya sebaik mungkin dan dapat menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Maju terus industri film Indonesia !

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x