Mohon tunggu...
Julius Deliawan
Julius Deliawan Mohon Tunggu... ttps://www.instagram.com/kompasianacom

Guru sejarah, yang mencintai dunia tulis menulis. Menaruh minat pada soal-soal kepemimpinan, pengembangan sumber daya manusia, sosial, budaya dan pertanian. Punya obsesi mengembangkan pendidikan yang memerdekakan, menerbitkan buku dan menjadi petani. Untuk perkenalan lebih lanjut, dapat ditemui di : juliusdeliawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Ingin Jadi Penulis? Pikir Ulang!

2 Mei 2020   08:00 Diperbarui: 2 Mei 2020   08:03 89 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ingin Jadi Penulis? Pikir Ulang!
sumber gambar pixabay.com

Enak ya jadi penulis, meski lagi pandemi, tetap bisa jalan-jalan! Ketika yang lain harus bekerja, belajar dan beribadah dari rumah, penulis masih bisa bebas kemana saja. Tergantung kemana dan pada apa yang dia mau. Bahkan sudut-sudut wilayah zona merah sekalipun, penulis masih bisa datangi. Tanpa pemantauan atau larangan sedikit pun !

Sepertinya ketentuan-ketentuan Lockdown, PSBB dan peraturan sejenis lainnya, tidak akan pernah berlaku bagi penulis sampai kapan pun. 

Korea Utara, boleh saja "memproklamirkan" diri sebagai negara paling tertutup di dunia. Bahkan, perwakilan diplomatik pun belum tentu dapat menembus barikade pengamanannya. Tetapi semua itu tetap saja akan sangat lentur bagi profesi yang satu ini, penulis.

Jangankan cuma batas-batas negara, yang tampak, batas rasa, bahkan batas waktu pun mampu ditembus. Menurut saya, profesi ini memiliki privilege tanpa batas. Namun, sebagai profesi dengan banyak keistimewaan, tentu memiliki resiko yang sebanding alias tidak ringan.

Bisa saja, dia menjadi sosok orang yang dianggap paling bertanggungjawab terhadap sebuah peristiwa genosida. Perang yang paling mengerikan di muka bumi, atau bahkan perang berteknologi nuklir di ruang angkasa. Untuk soal-soal private yang sangat personal, penulis bisa saja menjadi sumber kekecewaan yang mendalam yang dapat  mengakibatkan sakit atau bahkan kematian.  Dengan cara sadis, bunuh diri!

Pada urusan hati, penulis bisa menjadi orang yang sangat tidak manusiawi dalam mempermainkan urusan percintaan. Apa yang tidak mungkin terjadi, karena kehendak penulis, bisa saja itu terjadi. 

Bisa jadi, penulis adalah sosok paling brengsek, yang bertindak sekendak hatinya tanpa peduli orang lain. Anti sosial, otoriter, ambisius  dan tiran. 

Mungkin masih ada lebih banyak lagi kata senada yang dapat dilontarkan untuk penulis. Tapi baru itu saja, saya sudah merasa tidak tega, apalagi ditambah. Saya bisa menangis dan mengurungkan diri menjadi penulis.

Meski bermimpi menjadi seorang penulis, hari ini saya jadi korbannya. Saya mulai berpikir untuk membenci profesi yang satu ini. Bayangkan, saya berharap Dilan itu menikahi Milea. Tetapi Pidi Baig dengan seenaknya mempermainkan perasaan saya. Ia justru dengan seenaknya membuat cinta SMA yang romantis itu berakhir hanya sebatas  kenangan. Kalau tidak brengsek, apa coba?

Belum lagi kisah-kisah perang yang banyak dibuat oleh para penulis, puluhan bahkan ratusan nyawa bergelimpangan. Siapa yang bertanggungjawab, tidak ada sosok lain selain pembuat kisah itu, penulis ! Dialah orangnya, dengan kekuatan imajinasinya. Sosok yang membiarkan pasukan kera dan alien sesuka hati datang ke bumi dan mengganggu  kisah mesra sepasang manusia yang baru saja mengikat janji setia. Bulan madu benar-benar ambyar, gara-gara penulis.

Mengingat dosa-dosa penulis, saya mulai bergidik, ngeri ! Mungkin saya harus memperbaiki impian, penulis bukan untuk saya, yang lain saja, berat ! Tetapi saya pertimbangkan ulang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN