Mohon tunggu...
Zahrotul Mujahidah
Zahrotul Mujahidah Mohon Tunggu... Jika ada orang yang merasa baik, biarlah aku merasa menjadi manusia yang sebaliknya, agar aku tak terlena dan bisa mawas diri atas keburukanku

Blog: zahrotulmujahidah.blogspot.com, joraazzashifa.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Merawat Kedekatan dengan Si Kecil Ketika Ibu Harus Berkarier

1 Juni 2020   10:15 Diperbarui: 1 Juni 2020   16:20 127 34 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Merawat Kedekatan dengan Si Kecil Ketika Ibu Harus Berkarier
Ilustrasi membangun kedekatan dengan anak meski orangtua berkarir (Sumber: Thinkstockphotos)

Saat ini perempuan Indonesia telah menikmati perjuangan Kartini, tokoh emansipasi wanita. Tak ada belenggu lagi bagi kaum hawa untuk meraih cita-cita dan harapannya. 

Perempuan bisa sejajar dengan kaum Adam dalam mencapai cita-cita itu. Mereka bisa bersaing secara sehat, bekerja di luar rumah atau berkarier.

Perempuan berkarier selain menjalankan perannya sebagai ibu sudah banyak kita lihat. Entah berkarier di bidang kesehatan, pendidikan, seni, politik dan sebagainya.

Pada akhirnya, ketika ibu berkarier di luar rumah maka akan mengubah pola atau gaya hidup termasuk dalam merawat buah hati. Setidaknya itu yang saya alami.

Sebelum menikah saya sudah bekerja di sebuah instansi sekolah. Untuk meninggalkan dunia saya tentu sangat berat. Apalagi mengingat perjuangan saya ketika kuliah juga lumayan berat.

Bagaimana saya bisa mencapai target agar kuliah tidak "mblandhang" atau melebihi 5 tahun. Saya sebagai salah satu anak yang mengetahui perjuangan kedua orangtua dalam menguliahkan keempat anaknya, rasanya juga tidak tega bila pada akhirnya saya hanya berada di rumah. 

Saya merasa harus memanfaatkan ilmu saya agar tidak mengecewakan kedua orangtua. Ya meski ketika hanya berada di rumah ---menjadi ibu rumah tangga--- bukanlah sesuatu yang buruk. Tak ada ilmu yang sia-sia. Bahkan menjadi ibu rumah tangga itu sangatlah mulia.

Beruntung saya memiliki suami yang memang sedari awal sudah mengetahui bahwa saya bekerja di luar rumah. Dia memberikan kebebasan kepada saya untuk berkarier. Asalkan saya bisa menjaga diri dan membagi waktu.

Konsekuensinya saya begitu pulang kerja pastinya meminimalisir bepergian sendiri atau dolan. Saya tentunya harus menghormati suami yang mempercayai saya. Kalaupun mau bepergian atau dolan ya harus bersamanya.

Ya setelah menikah saya menyadari bahwa saya tidak bebas lagi. Tidak bebas untuk melakukan apa saja, di mana saja dan dengan siapa saja.

Ketidakbebasan ini semakin besar ketika telah lahir buah hati di antara kami. Meski saya melihat saudara atau teman masih bisa menikmati dolan sendiri, saya tidak memilih untuk melakukan hal yang sama. Biarlah saya menjadi perempuan "rumahan".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x