Mohon tunggu...
Joko Hariyono
Joko Hariyono Mohon Tunggu... Ilmuwan - Doctor of Philosophy

Karir: - Kerjasama Luar Negeri, Pemda DIY Pendidikan - Ph.D dari University of Ulsan (2017)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menggenggam Erat Agama di Negeri yang Membenci Islam

8 Desember 2016   11:15 Diperbarui: 8 Desember 2016   11:33 114
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

“Kamu muslim di sini tidak boleh Sholat, saya tidak kasih kamu waktu Sholat waktu kerja.”, cerita temen saya yang kebetulan seorang Pahlawan Devisa di Korea Selatan. Diskusi seperti ini biasanya kita lakukan setiap weekend di Masjid, di forum Majlis Taklim, atau sekedar berbagi ilmu, sharing pengalaman dan saling menguatkan satu sama lain sebagai seorang muslim yang tinggal di negara non-muslim seperti Korea Selatan.

Ada juga cerita temen-temen yang dipaksa-paksa minum alkohol atau makan daging babi oleh Sajang-nim (atasan)nya seorang warga Korea. Penolakan yang dilakukan terkadang menimbulkan tidak harmonisnya hubungan kerja di perusahaan tersebut. Kendatipun disediakan tempat untuk melaporkan segala keluh kesah dan permasalahan yang dialami oleh para tenaga kerja Indonesia di Korea, namun perihal agama selalu dikembalikan ke keyakinan masing-masing.

Cerita sebaliknya, melindungi warga Korea pernah terjadi pada kasus pencurian Uang Infak dan Kas Masjid. Meskipun sudah berkali-kali seorang warga Korea dipergogi punya gelagat mencurigakan keluar masuk masjid, dan beberapa kali dikaitkan dengan hilangnya uang di kotak infak yang gemboknya dirusak. Namun laporan dari temen-temen pengurus belum bisa diterima sebagai sebuah tindak kejahatan di kepolisian setempat. Barang bukti dan pihak yang dirugikan belum bisa diterima jika itu dilaporkan atas nama Masjid.  

Pada akhirnya di suatu malam terjadi pencurian lagi yang kebetulan oknum pelakunya tertangkap dalam keadaan mabuk dan tertidur di pintu Masjid. Hal ini di pergoki oleh salah satu teman pengurus saat pagi hendak Sholat Subuh di Masjid. Pencuri ditemukan dalam keadaan terlentang dilantai di dekat pintu tempat wudhu, sambil menggenggam sejumlah uang yang dicurinya dari Kotak Infaq. Mengingat ini bisa menjadi barang bukti, akhirnya diambillah gambar pelaku di TKP dan pelaku yang tertangkap basah diserahkan kepada pihak kepolisian.

Lagi-lagi ini dianggap bukan sebagai tindakan kriminal, namun disebabkan keteledoran pengurus Masjid karena tidak mempunyai sistem security yang memadai yang menyebabkan pencurian ini terjadi. Meskipun sikap tidak adil ini dikeluhkan oleh para jemaah, namun tidak mengurangi keikhlasan teman-teman untuk tetap membuka akses pintu masjid 24 jam. Ketidaksukaan beberapa oknum tidak perlu meluruhkan niat teman-teman untuk dakwah Amar Makruf di sana.

Menerima berbagai olok-olok dan intimidasi karena menjadi seorang muslim, adalah bukan hal yang aneh, terlebih di negara yang masyarakatnya masih melihat Islam sebagaimana citra yang digambarkan di banyak media di sana. Meskipun di negara maju yang mayoritas penduduknya berpendidikan dan berwawasan luas, tidak adanya interaksi secara langsung antara mereka dengan dunia Muslim menyebabkan gambaran Islam menjadi abstrak dan hanya didefinisikan seperti yang dideskripsikan oleh media di sana.

Pernah suatu ketika saya berjalan bersama Istri dan anak saya yang masih berumur 4 tahun di area perkebunan di wilayah Ulju, Ulsan. Anak saya sangat senang melihat banyak buah Kam (Kesemek) yang tengah merona yang sedang dipetik oleh para petani. Keceriaan anak-anak memang mengundang kegembiraan beberapa petani, bahkan ada yang memberikan buah Kam segar kepadanya. Namun kami juga dikejutkan oleh sapaan seorang kakek, saat kami melanjutkan jalan-jalan dan melintasi sekelompok petani yang sedang mengunduh buak Kam. Ditengah kesibukannya, ia masih sempat menyapa kami. Dengan berbahasa Korea dia menyapa “Hai, kamu pakai hijab, Islam ya?” Istri saya mengiyakan pertanyaan si Kakek. “Kamu dari negara mana?”, “Apakah kamu tahu Osama bin Laden?” dan beberapa pertanyaan yang agak sensitif tentang terorisme, yang kelihatannya cukup sulit kami menjawabnya. Dengan senyuman, kami mengucapkan “Miyane, urinen mulla”, maaf kami tidak tahu, lalu kami melanjutkan jalan-jalan.

Kembali ke kasus teman saya yang tidak mendapatkan izin waktu untuk Sholat selama bekerja di pabrik, tentu saja itu ada dasarnya. Kabar dari teman kerja yang lebih senior, bahwa sebelumnya telah ada seorang muslim lain yang bekerja di pabrik tersebut dan telah meninggalkan kekecewaan pemilik perusahaan. Meskipun bukan berkewarganegaraan WNI, sebagai seorang muslim ia telah menyalahgunakan kemurahan hati pemilik perusahaan. Dari mulai waktu sholat Dzuhur yang digunakan untuk tidur-tiduran di ruang sholat yang disediakan. Perilakunya yang kurang kooperatif, tidak konsisten dalam ucapannya. Lisannya mengatakan tidak makan sembarang daging, namun kadang kala ia mengkonsumsi makanan menu olahan daging ayam atau sapi yang disembelih tidak secara islami. Belum lagi saat Ramadhan, stamina yang menurun menyebabkan kinerjanya turun drastis dan produktivitasnya tidak dapat di andalkan.

Hal itu menyebabkan pemilik perusahaan seperti “kapok” dan enggan menerima pekerja muslim di pabriknya. Dalam fikirannya ia melihat seorang muslim sebagai orang yang malas-malasan dan mau enaknya sendiri. Setelah sekian tahun tidak ada tenaga kerja muslim yang di drop dari pemerintah Korea, pada hari pertama penempatan karyawan baru, teman saya langsung mendapatkan warning awal seperti di atas. Belum lagi ia seorang diri sebagai muslim di pabrik itu.

Pembawaannya yang tenang dan pemahamannya tentang Islam yang baik membuatnya tidak serta merta mengkonfrontasi larangan Sholat oleh atasannya. Ia hanya menjelaskan, “Sholat itu hanya 5 menit, tidak lama, bahkan kalau kita ke Toilet terkadang lebih lama daripada Sholat.”

Karena permintaanya yang sederhana itu, akhirnya dikabulkan dengan catatan Ia boleh Sholat di pojok ruangan kerja (Pabrik) dan bisa terlihat oleh mandor dan teman-temannya yang lain. Ia pun dengan santun mengucapkan “Terima kasih Pak.”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun