Mohon tunggu...
Jonathan Galih Raka Kusuma
Jonathan Galih Raka Kusuma Mohon Tunggu... Mahasiswa - Hanya Sebatas Manusia Biasa yang Ingin Sukses

Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Fakultas Pertanian dan Bisnis, Prodi Agroteknologi, NIM 512020046.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Generasi Muda Menjadi Petani Mandiri di Era Revolusi Industri 4.0

24 April 2021   11:00 Diperbarui: 24 April 2021   11:03 684 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menurut Undang-undang Sistem Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan No 16 Tahun 2006, menyatakan bahwa pertanian yang dalam hal ini mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan adalah seluruh kegiatan yang meliputi usaha hulu (proses pra-produksi), usahatani (produksi), pemanfaatan modal, SDA (tanah, air untuk menghasilkan komoditas pertanian primer), agroindustri (memproses hasil pertanian nabati dan hewani menjadi produk yang dapat meningkatkan nilai tambahnya, prosesnya mencakup pengubahan dan pengawetan melalui perlakuan, penyimpanan, pengemasan dan distribusi), dan pemasaran pertanian. Kegiatan usaha pertanian ini dengan bantuan teknologi, modal, tenaga kerja dan manajemen agar meningkatkan kesejahteraan.

Petani adalah perorangan beserta keluarganya atau berkelompok mengelola usaha di bidang pertanian yang meliputi usaha hulu, usahatani, pemasaran dan jasa lainnya. Petani dibedakan menjadi petani kecil dan petani besar, definisi petani kecil adalah petani yang memiliki lahan sempit kurang dari 0,25 ha lahan sawah di wilayah Jawa dan 0,5 ha di wilayah luar jawa. Selain itu, petani dengan pendapatan rendah, kekurangan modal dan tabungan terbatas serta memiliki pengetahuan terbatas. Sedangkan definisi petani besar adalah kebalikan dari petani kecil.

Mayoritas petani Indonesia memproduksi tanaman pangan, yang dalam hal ini, komoditas yang bukan high value, mereka bertani untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya saja, tidak memperhitungkan profit, sedangkan produk yang mereka jual adalah produk mentah, memerlukan biaya transportasi besar dan harga di pasaran tidak kompetitif. Dengan keterbatasan yang kita miliki saat ini, dan era yang berubah, perlu ada strategi yang dapat menyelamatkan pertanian di masa depan. Mari kita lihat pada Era Revolusi Industri 4.0. Ada 3 elemen penting dalam Era 4.0 yaitu cyber-physical, internet of things and bio-technology.

Hal tersebut dapat membuat dunia pertanian akan berubah jika kita memanfaatkannya. Cyber-physical misalnya memberikan sebuah teknologi yang mengarah pada pertanian presisi (smartfarming), alat tersebut dapat memberikan informasi tentang kapan suatu lahan perlu dipupuk, disiram, kapan waktu tanam agar tidak kekeringan atau kebanjiran. Petani juga dapat memanfaatkan data dari BMKG yang setiap 6 bulan merilis informasinya iklim yang dapat membantu petani menentukan waktu tanam, intensitas hujan, mapping, dan sebagainya yang dapat memberikan prediksi kapan sebaiknya produk pertanian dijemur jika harus menjemur di bawah sinar matahari, ataupun kebutuhan lainnya.

Sumber: 8Villages
Sumber: 8Villages

Lalu Bio-technology, perkembangan bioteknologi bukan hanya masalah membuat gen baru, tetapi pemanfaatan agen hayati, mikrobia, dan sebagainya yang dapat meningkatkan produksi pertanian, memberikan multivitamin bagi tanaman bahkan agen hayati kitosan dapat digunakan untuk memperpanjang masa simpan.

Kemudian Internet of things, semua informasi, aplikasi, penggunaannya berbasis internet. Dengan berbasis internet maka akan mudah mendapatkan segala informasi, data dan bahkan interaksi antar petani. Namun, yang menjadi permasalahan adalah apakah informasi tersebut telah atau dapat diakses oleh petani kita. Internet of things telah menjadi perantara bertemunya pelaku usahatani, pelaku penyedia faktor produksi, pedagang hasil pertanian dan konsumen secara langsung. Langsung yang dimediasi dengan alat yang namanya internet.

Jika pemasaran tadi fokusnya adalah pada kebutuhan dan preferensi konsumen, maka pelaku usahatani (petani) dapat merencanakan tanam komoditas tertentu berdasarkan permintaan konsumen. Pasar dan pemasaran sekarang sangat transparan. Perantara dalam pemasaran tidak bisa dengan mudah mempermainkan harga, karena informasi telah sangat banyak bertebaran di internet, hanya bagaimana kita mengaksesnya. Jika pertanian di Era 4.0 ini demikian canggihnya, pastinya membawa angin segar bagi petani muda di Indonesia. Petani yang berjiwa muda juga akan lebih baik lagi kedepannya dalam melakukan industri pertaniannya.

Petani di Era 4.0 adalah petani yang mempunyai literasi media (melek media) yang baik dengan cara memanfaatkan media dengan bijak, program aplikasi fitur yang dimanfaatkan di media adalah program atau aplikasi atau fitur yang produktif, bukan lagi hanya sekedar entertainment tetapi juga edutainment. Petani diharapkan mampu mencari informasi dengan penggunaan kata kunci yang sesuai, setelah mendapatkan informasi maka berusaha untuk memahami dan mengevaluasi kebenaran informasi tersebut.

Dukungan literasi media dan literasi informasi ini dapat menjadi faktor pendorong bagi petani untuk mengaplikasikan pertanian inovatif. Pertanian inovatif ini dapat mengubah pandangan pertanian menjadi gaya hidup modern. Pertanian inovatif seperti hidroponik yang dapat menyajikan sayur segar dari ruang di dekat mereka akan menerbitkan semangat generasi muda dalam berpartisipasi di sektor pertanian. Perlu juga insentif dengan mempermudah akses permodalan pertanian.

Yang selanjutnya adalah networking. Di Era 4.0 ini networking menjadi sangat penting, dimana menjadi petani mandiri harus mempunyai network kemitraan pada banyak kalangan. Kemitraan, promosi dan penjaminan kualitas produk merupakan wrap up dari keberhasilan usahatani di Era 4.0 ini. Di Era 4.0 ini merupakan peluang yang sangat besar bagi petani muda dan regenerasi SDM pertanian. Pertanian tidak lagi mempunyai citra kotor, penuh resiko dan sulit. Dengan bantuan internet, aplikasi atau alat, dan bio-teknologi akan mendorong serta memudahkan usahatani pertanian. Kuncinya adalah petani mau mencari dan memanfaatkan informasi, berkreasi dengan pertanian inovatif, mau berkembang bersama komunitasnya dan memperluas jaringan. Dengan begitu kesejahteraan petani akan dapat meningkat. Oleh karena itu, mari siapkan diri kita sebagai generasi muda bangsa menjadi petani mandiri di era 4.0.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan