Mohon tunggu...
Kavya
Kavya Mohon Tunggu... Penulis - Menulis

Suka sepakbola, puisi dan menulis

Selanjutnya

Tutup

Seni Pilihan

Irwan Abu Bakar Menjaga Titian Sastra Malaysia

24 Desember 2022   07:09 Diperbarui: 24 Desember 2022   17:55 533
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sains dan Sastra

Irwan Abu Bakar membaca puisi di Candi Borobudur (Foto: Yo)
Irwan Abu Bakar membaca puisi di Candi Borobudur (Foto: Yo)
Irwan mempromosikan konsep "whole-brain thinking" dengan terlibat secara aktif dalam bidang sastra.

Aku melalui pendidikan formal dalam bidang sains, secara spesifiknya dalam bidang kejuruteraan (Teknik) dengan tumpuan khas kepada bidang biokejuruteraan (bio engineering).

"Bidang sastera aku ikuti pada peringkat nonformal. Walau apapun, bidang sastera itu bidang yang terbuka untuk diterokai peminat daripada semua disiplin ilmu. Aku misalnya, banyak menulis puisi dan cerita fiksyen yang berlatarkan ilmu sains."

Ayah dari tujuh anak, dua diantaranya perempuan, sering datang ke Indonesia. Tak hanya mendatangi obyek wisata tapi juga bertemu dan berdialog dengan para sastrawan.

"Aku sudah tertarik dengan sastra sejak usia 7 tahun, bertambah serius saat memasuki usia 15 tahun. Di usia itu aku mulai rajin membaca karya sastra, terutama cerpen dan novel. Juga sesekali menulis," jelasnya.

Di masa remaja itu ia sudah mempunyai idola yakni A.Samad Said, sastrawan negara Malaysia yang terkenal.

Saat melanjutkan kuliah di University of Strathclyde, Glasgow, United Kingdom untuk mengikuti kursus Bachelor of Science (Mechanical Engineering) dan PhD (Bioengineering) kecintaan Prof.Irwan makin mendalam pada sastra. Meski begitu ia belum menerbitkan karyanya.

Baru pada 1995 ia menerbitkan puisinya di media cetak ("Diasfora Alam Bahasaku", Pelita Bahasa, Februari 1995). Sedangkan karya cerpennya berjudul "Syy..." terbit di Berita Minggu, 25 Mei 2003.

"Jika berbicara usia, rasanya terlambat terjun sebagai penulis. Namun tak ada kata terlambat untuk belajar, karena sastra bukan sekedar wadah bagi karya-karya kita, lebih dari itu sastra memperhalus perasaan kita," ujarnya saat berbincang di tengah malam menikmati kopi jos di Malioboro.

Munculnya sastra cyber membuat karyanya terus mengalir. Saat itu, di awal tahun 2000-an ia sudah melihat bahwa sastra cyber atau sastra internet tak bisa dibendung. Hal ini seiring dengan kemajuan internet serta makin banyaknya peminat sastra.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Seni Selengkapnya
Lihat Seni Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun