Joe Hoo Gi
Joe Hoo Gi Web Developer, Software Engineer, Social Media Manager and Blogger in Yogyakarta, Indonesia

Blogger yang berminat dalam pengembangan, pemrograman web dan menyampaikan ide dalam etos kebebasan berpikir melalui tulisan di media sosial dan blog https://www.joehoogi.com.

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Memahami Tinju Seorang Jokowi

6 Agustus 2018   17:40 Diperbarui: 23 Agustus 2018   01:44 722 3 3
Memahami Tinju Seorang Jokowi
(era.id)

Masih ingat kasus perkelahian Muhamad Irfan Bahri untuk membela diri dari ancaman serangan para begal di jalan? Irfan terpaksa berkelahi untuk membela diri sebab jika Irfan tidak melakukan pembelaan diri, maka yang terjadi Irfan yang mati di tangan para begal. Silahkan klik di sini untuk membaca kembali tulisan saya perihal Irfan. Berkelahi untuk membela diri tidak hanya dilakukan oleh Irfan, melainkan juga dilakukan oleh siapa pun manusianya ketika manusia dalam kondisi yang terancam pasti akan melakukan reflek alamiah untuk membela diri. Tidak ada manusia di dunia ini ketika dalam kondisi terancam, dia hanya diam duduk termangu sembari mempersilahkan pengancam untuk memangsanya.

Tidak ada manusia pun yang suka berkelahi, tapi ketika dalam kondisi yang memaksa maka sikap pilihan berkelahi adalah tindakan membela diri yang manusiawi. Soetomo yang acap dipanggil dengan sebutan Bung Tomo dalam pidatonya di depan masyarakat Surabaya meminta kepada para arek Surabaya untuk siap berkelahi kepada tentara Inggris yang mau turut menjajah Indonesia setelah tahu kepergian tentara Jepang dari Indonesia pasca Bom Atom di Nagasaki. Bung Tomo tidak akan mengajak para arek Surabaya untuk melakukan perkelahian jika tentara Inggris tidak bermaksud ingin menjajah Indonesia melalui jalur laut Surabaya.

Coba lihat semua jejak sejarah dari para Pahlawan Nasional Indonesia, kecuali RA Kartini dan Dewi Sartika, sejarah telah membuktikan betapa mereka dengan terpaksa melakukan perkelahian hingga nyawa pun menjadi taruhannya ketika mereka terbelenggu, teraniaya dan tertindas sehingga sikap berkelahi pun menjadi pilihannya. Bahkan pahlawan wanita seperti Cut Nyak Dhien dan Martha Christina Tiahahu juga terpaksa harus berkelahi melawan penjajah.

Jika Belanda tidak melakukan penjajahan, maka mereka para Pahlawan Nasional tidak akan berkelahi. Jika para Pahlawan Nasional tidak mau berkelahi, maka gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional pun tidak akan pernah disandangnya. Oleh karena mereka mau berkelahi melawan penjajah, maka gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional pun diberikan Negara kepada mereka. Jadi makna berkelahi di sini harus dilandasi hukum kausalitas sebagai pilihan untuk membela diri karena kondisi yang terdesak dan memaksa. Kausalitas dari hukum alam inilah yang tak bisa dihindari, tidak hanya oleh manusia, melainkan juga oleh setiap makhluk hidup, bahkan semut pun akan marah balik menggigit ketika terinjak.

Analoginya sama dengan ketika orang melakukan hubungan seksual. Melakukan hubungan seksual tanpa dilandasi hubungan suka sama suka melalui pernikahan yang sah adalah tindakan bejat,haram dan dosa. Tapi ketika hubungan seksual dilandasi dasar suka sama suka melalui pernikahan yang sah, maka hubungan seksual akan menjadi mulia,halal dan pahala. Demikian juga dengan berkelahi, jika tanpa dilandasi dengan membela diri dalam keadaan yang terpaksa dan terancam, maka berkelahi adalah tindakan arogansi yang mau menang sendiri. Tapi ketika berkelahi dilandasi dengan membela diri dalam keadaan yang terpaksa dan terancam, maka berkelahi akan menjadi pilihan manusiawi yang dapat dimaklumi dan dimengerti. 

Apa yang salah dari pernyataan pidato Jokowi di depan para relawannya, kalau realitasnya hingga sampai saat ini belum ada manusia di sepanjang sejarah anak manusia, kecuali Isa Al-Masih dan MahatmaGandhi, yang bersedia mau ditampar pipi kirinya tanpa mau membalas, bahkan dengan ikhlas mau memberikan pipi kanannya untuk ditampar kembali? Apa yang menjadi landasan Jokowi adalah sama dengan apa yang menjadi landasannya Irfan dan seluruh manusia yang ada dalam jagad alam kehidupan ini tanpa ada yang dikecualikan , yaitu jangan membangun permusuhan, tapi kalau diajak berantem harus berani.

Dalam Islam sendiri, Allah SWT berfirman melalui Surat Al-Baqarah ayat 194:"Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu." {فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ}  Kemudian ditegaskan kembali dalam Surat An-Nahl Ayat 126: "Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian." وَإِنْ عاقَبْتُمْ فَعاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ  Selanjutnya Surat Asy-Syura Ayat 40:"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa."  وَجَزاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُها

Konotasi 'jangan membangun permusuhan' memiliki kandungan makna jangan membangun kejahatan hate speech, bullying, hoax dan radikalisme kepada anak bangsa sendiri melalui media sosial dan tempat-tempat publik yang beberapa bulan terakhir ini acap terjadi di tanah air. Sedangkan konotasi 'tapi kalau diajak berantem harus berani' memiliki kandungan makna betapa kejahatan hate speech, bullying, hoax dan radikalisme kepada anak bangsanya sendiri melalui media sosial dan tempat-tempat publik sudah sangat mengancam keutuhan persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga sudah saatnya Negara harus berani tampil tidak boleh takut dan tidak lagi mendiamkan kejahatan hate speech, bullying, hoax dan radikalisme yang terus mengalami metamorfosa dalam arus pembiaran.

Akhirulkalam, betapa saya tidak pernah bisa memahami jalan crash pemikiran dari sebagian anak bangsa kita sendiri, di satu sisi ketika Jokowi berpesan kepada para relawannya agar jangan membangun permusuhan kecuali kalau diajak berantem harus berani, malah justru didenotasikan oleh mereka sebagai pesan pidato Presiden yang mau memecah belah bangsa. Tapi di sisi lain mereka dengan bersuka hati berteriak menghasut di sana-sini dengan nada orasi penuh kebencian dan senantiasa menebar ancaman mau membunuh segala terhadap segala perbedaan yang dianggapnya kafir malah justru disupport sebagai bagian dari jihad membela agama

Salam,

Joe Hoo Gi