Mohon tunggu...
Joko Martono
Joko Martono Mohon Tunggu... Penulis - penulis lepas

belajar memahami hidup dan kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Selalu Mengandalkan Kuantitas

22 Mei 2022   22:36 Diperbarui: 22 Mei 2022   23:14 818
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi dari shutterstock.com

Kebiasaan yang berlangsung di tengah kehidupan secara turun-temurun atau tular-menular tanpa disadari, apalagi tanpa dikritisi seringkali membuat lengah sehingga upaya pemecahan masalah yang sedang/akan dihadapi kurang mendapat penyelesaian secara menyeluruh dan mendalam.

Seperti halnya hingga saat ini masih banyak pemikiran yang menyebut bahwa suatu keberhasilan atau kesuksesan selalu mengandalkan kuantitas, dikaitkan dengan jumlah capaian yang disimbolkan dengan angka-angka. Output lebih sering dikemukakan, namun outcome-nya jarang dibahas.

Jumlah angka terbanyak, terbesar, tertinggi atau yang mendominasi dari jumlah keseluruhan populasi lebih menjadikan ukuran keberhasilan. Sebagai salah satu implikasi atas pemikiran tersebut maka jumlah yang kecil/sedikit dianggap kurang bermutu alias tidak penting (cenderung diabaikan).

Barang tentu penalaran atau cara berpikir tersebut perlu mendapat atensi bersama, sehingga jangan sampai kita terjebak manakala menangani setiap persoalan hanya melihat dari satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya.

Memang tidaklah keliru bilamana indikator keberhasilan dilihat berdasarkan angka-angka maupun besaran persentase yang telah diraih. Akan tetapi tidak semua masalah hanya bisa diukur keberhasilannya mendasarkan pada kuantifikasi atau jumlah berupa angka saja.

Dalam kehidupan sosial misalnya, gejala peristiwanya yang sering berubah-ubah atau fenomenanya berfluktuasi dari waktu ke waktu -- bagaimaka mungkin bisa diukur dengan angka-angka?

Semisal dapat dicontohkan, kesetiaan, kejujuran, ketaatan seseorang karyawan/pekerja yang dinilai dengan angka 90 sangat boleh jadi malah lebih loyal, lebih jujur; lebih taat mereka yang diberi nilai 80. Bukankah hal demikian sangat subjektif? Sangat bergantung pada siapa yang memberikan nilai atau dalam konteks apa.

Contoh lain yang pernah kita baca atau dengar lewat media bahwa pengamanan lalu lintas di musim mudik lebaran 2022 diklaim berhasil berdasarkan jumlah kecelakaan lalu lintas yang angkanya terjadi penurunan 31 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Hal itu dapat diketahui dari data Integrated Road Safety Management System bahwa jumlah laka hingga 8 Mei 2022 tercatat 267 kasus, terdiri 29 meninggal, 39 luka berat dan 280 luka ringan. Penurunan angka ini dianggap sebuah keberhasilan, walaupun masih ditemui nyawa manusia melayang tanpa diungkap lebih jauh makna yang melatar belakangi atau tercakup dalam fakta tersebut.

Gambaran sekilas di atas cenderung dan seolah menjadikan kelaziman bahwa sukses atau tidaknya pelaksanaan suatu program/kegiatan hanya dilihat dari produk berupa angka-angka sebagai parameternya.  

Kebiasaan dalam menghadapi masalah dan mencari solusi hanya mengandalkan angka banyak ditemui bahkan cenderung dilakukan di hampir semua bidang. Tak terkecuali para pengambil keputusan sering memaparkan sejumlah angka sebagai dasar pembenaran statemen yang disampaikan untuk meng-klaim keberhasilan atau kesuksesan kerjanya kepada publik.

Contoh lain di tengah maraknya "bisnis pendidikan" belakangan ini seringkali dikemukakan  bahwa perguruan tinggi atau universitas X telah berhasil meluluskan sekian ribu sarjana (S1 dan S2), sekian ratus doktor -- namun tak pernah disentuh persoalan prestasi yang telah diraih oleh para alumnusnya tersebut.

Bukankah hal itu hanya membincang output, tanpa banyak dikemukakan atau dikaitkan dengan outcome-nya?

Hal yang sama masih sering ditemui bahkan belum lama berselang/belum lepas dari ingatan bahwa atas nama big data disebutkan sejumlah 100 jutaan lebih netizen atau warganet mendukung Pemilu 2024 ditunda dan tiga periode jabatan presiden.

Apakah itu semua sudah sesuai dengan faktanya? Apakah juga sesuai dengan supremasi hukum sebagaimana salah satu tuntutan reformasi?

Nah, pembenaran kuantifikasi seperti disebut di atas merupakan secuplik contoh yang secara tidak disadari masih terus ditemui atau cenderung merasuk, mewarnai keseharian kita.

Di tengah kehidupan ditandai dinamika sosial yang terus bertumbuh seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat kini sudah semakin cerdas, sehingga tidak semua persoalan maupun masalah yang kita hadapi selalu mengandalkan kuantitas, diselesaikan dengan cara "memberhalakan" angka-angka.

Dalam perkataan lain, besaran jumlah/angka bukanlah selalu menunjukkan keberhasilan suatu program, apalagi menjadikan suatu pembenaran. Mengingat pula bahwa yang jumlahnya kecil/sedikitpun jika dielaborasi lebih jauh justru sesungguhnya memiliki makna.

Celakanya jika pembenaran kuantifikasi ini masih bertumbuh-kembang di dalam kehidupan sosial politik maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan-jangan nantinya akan terjadi apa yang disebut tirani terhadap minoritas. Sebagai negara penganut paham demokrasi, ini layak dihindari!

Demikian sekadar berbagi opini pekan ini.

JM (22-5-2022).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun