Mohon tunggu...
Jilal Mardhani
Jilal Mardhani Mohon Tunggu... Administrasi - Pemerhati

“Dalam kehidupan ini, selalu ada hal-hal masa lampau yang perlu kita ikhlaskan kepergiannya.”

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kita dan Kekeliruan Ruang Sosial

16 Februari 2018   23:57 Diperbarui: 17 Februari 2018   12:38 937
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Selain untuk fungsi-fungsi pokok yang menunjang kebutuhan hidup paling mendasar (berteduh, makan, bekerja, reproduksi, rekreasi, dan beribadah) yang selalu dikaitkan dengan aktivitas ekonomi dan kapitalisme, kita hampir luput memperhatikan pentingnya peran "ruang sosial" yang memadai. Maksudnya tentang ruang bergairah yang menarik dan terpelihara, serta selalu tersedia bagi siapa saja yang berminat, tanpa harus dipusingkan indikator-indikator produktifitas dan ekonomis.

Ruang yang dimaksud adalah tentang hal yang bermakna bagi perkembangan nilai pribadi masing-masing individu, maupun interaksi antar sesamanya sebagai makhluk sosial.

Fungsi-fungsi ekonomi dalam keseharian kehidupan, memang telah sedemikian rupa "menjajah" kita. Segala sesuatu hanya layak diperhatikan jika memiliki kaitan erat dengan nilai ekonomis. Hal yang sesungguhnya mengukuhkan keliaran perkembangan perilaku dan gaya hidup transaksional yang paling primitif : demi keuntungan diri sendiri yang mengabaikan lainnya

Satu-satunya ruang sosial yang selalu kita sertakan selama ini hanya yang bersangkut-paut dengan keimanan terhadap Tuhan dan segala ibadahnya. Mulai dari masjid, gereja, kelenteng, dan seterusnya, hingga pemakaman dan ruang-ruang yang berkaitan dengan dunia mistis maupun takhayul. Begitupun, pada akhirnya intrusi nilai-nilai ekonomis ke dalam ruang-ruang tersebut tak juga mampu dihindarkan. Sebagaimana "perselingkuhan" agama dan keimanan yang terpapar dalam kehidupan sosial politik sehari-hari yang kita lakoni akhir-akhir ini.

Ruang sosial semestinya tersedia untuk interaksi kehidupan yang asyik dan menggairahkan bagi setiap manusia untuk memelihara, menyalurkan, dan mengembangkan minat maupun bakatnya. Hal-hal yang membentuk jati dan kemuliaan dirinya. Agar dia menjadi bagian dan turut berperan pada upaya merayakan kemanusiaan dan kehidupan yang berkelanjutan. Bahkan hingga setelah waktunya berpetualang sementara di dunia fana ini, berakhir.

Ekonomi sesungguhnya hanya sebuah cara yang memudahkan manusia untuk merayakan kehidupan sebagai makhluk sosial. Bukan sebagai tujuan utama. Seandainya demikian maka sesungguhnya kita telah masuk dalam jebakan nafsu yang bermuara pada keinginan saling meniadakan dan membinasakan.

Kealpaan pada "ruang sosial" menyebabkan kita lalai terhadap pentingnya seni dan berkesenian. Juga olahraga dan berolah-raga. Dua hal tersebut sesungguhnya bagian dari kehidupan sehari-hari yang harus tetap terpelihara keasyikan dan gairahnya. Sebab, mereka sangat vital dalam kemampuan dan daya kembang kreativitas maupun inovasi manusia, dalam menghadapi tantangan hidup yang terus berevolusi dan terpapar pada temuan-temuan barunya. Bahkan kadangkala terdisrupsi. Seperti ketika menghadapi serbuan budaya teknologi digital hari ini.

Kesenian dan olahraga merupakan salah satu aktivitas penting kehidupan manusia untuk belajar dan memahami makna proses. Menguji, melatih, dan mengembangkan ketekunan dan kehandalannya mewujudkan gagasan. Jadi tak hanya sekedar mengambil, menggunakan, dan menyia-nyiakan anugerah alam semesta. Tapi juga menjaga dan memelihara agar keberadaan dan keberlanjutannya tetap tersedia untuk dimanfaatkan generasi manusia setelah dirinya.

Keimanan pada Tuhan yang Maha Pencipta sesungguhnya telah mengingatkan kita pada semua hal itu. Agar manusia tak semata menjadi makhluk ekonomi. Tapi juga makhluk sosial-budaya sehingga seni dan olahraga mestinya ditempatkan pada posisi yang setara dan saling melengkapi dengan kesibukan sehari-hari lainnya.

Entah apa lacurnya, kehadiran kedua hal itu dalam kehidupan Indonesia kita, hanya diperlakukan sebagai pelengkap yang kenes semata. Mulai dari pendidikan yang kita rancang dan berikan kepada anak-anak, hingga dalam kehidupan sehari-hari, seni dan olahraga disikapi ala kadarnya. Kecuali jika ia terpaut dengan sistem ekonomi yang kapitalistik.

Hal itu bukan hanya menggerus kepekaan terhadap makna dari cita-cita hidup dan pencapaiannya. Tapi juga mengisolasi budaya kita untuk menghargai upaya dan proses. Apalagi kegagalan. Sebab tak selamanya upaya maupun proses yang dilalui itu selalu berhasil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun