Mohon tunggu...
Pamujihan
Pamujihan Mohon Tunggu...

Pemula segala hal. Visit more: www.jijihans.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Jangan Mengaku Pecinta Alam Jika Anda Perokok

7 Mei 2016   11:04 Diperbarui: 7 Mei 2016   11:40 0 0 2 Mohon Tunggu...
Jangan Mengaku Pecinta Alam Jika Anda Perokok
572d68dd24a9d5ef5e8b4567.jpeg

Bukan maksud ingin menyudutkan perokok aktif yang mungkin kebanyakan saat mendaki gunung pasti akan menghisapnya. Atau mungkin menyalahkan perokok yang selalu membawanya kemana saja ia pergi mendaki gunung dan menjadikannya teman perjalanan. Tulisan ini hanyalah bermaksud ingin mengajak kita semua berfikir sejenak tentang kebaikan atau keburukan dari rokok itu sendiri, baik untuk tubuh kita, orang yang menghisap asap rokok kita, dan juga khususnya untuk alam itu sendiri.


Akibat Kebakaran Gunung Lawu

Rokok atau kegiatan merokok di Indonesia dikenal dengan sebutan awal yaitu rokok kretek, karena saat dihisap, ia berbunyi khas demikian. Pada awalnya, penggunaan rokok di gunakan untuk mengobati asma dan pertama kali dilakukan oleh Haji Djamari abad 19, pada saat itu, ia menderita penyakit asma, kemudian meracik-racik sendiri dengan perpaduan antara tembakau dan cengkeh. Akibat sering menghisap campuran antara tembakau dan cengkeh inilah penyakit Haji Djamari lenyap dan dari mulut ke mulut dikenallah sebagai rokok obat. Sejak saat itulah produksi rokok kretek mulai dikomersilkan dengan merk dagang cap tiga bal (Kisah terkenal tentang kretek Kudus Jawa Tengah). Dan semenjak itu, banyak bermunculan merk-merk dagang lain yang turut meramaikan bisnis rokok hingga saat ini.

Merokok Merusak Alam?

Saya menemukan jawaban sesungguhnya bukanlah dari opini semata, melainkan dari beberapa sumber penelitian dan juga kejadian di alam yang sesungguhnya. Apakah benar merokok merusak alam?, jawabannya adalah "iya". Bahkan jika seumpama jumlah perokok di dunia ini sangat banyak atau umpama seluruh penduduk bumi ini merokok, maka bisa dipastikan akan terjadi hujan asam dan bisa melebihi kasus kebakaran hutan di Riau.

Baca Juga: Pecinta Alam lah Yang Bersalah Atas Kerusakan Alam

Kandungan asap rokok diteliti lebih keras daripada asap kendaraan bermotor yang sudah kita ketahui bersama sangat berbahaya bagi tubuh bila terhisap dan masuk ke dalam tubuh kita. Dan akibatnya untuk alam sendiri adalah dapat menyebabkan kebakaran hutan, gunung, dan lain sebaginya dikarenakan puntung rokok yang dibuang sembarangan tempat. Tulisan ini bukan hanya sekadar opini belaka, namun penyebab dari kebakaran itu juga sudah masuk dalam berita nasional. Tidak percaya? dibawah ini ada beberapa link berita yang tertaut pada berita kebakaran yang diidentifikasi disebabkan oleh rokok:

Bagaimana? apakah anda masih belum percaya atau ragu?. Itua sudah menjadi keputusan anda sekalian. Jika sudah begitu, lantas siapakah yang harus disalahkan?, pastilah orang yang mengaku pecinta alam bukan?. Kalau orang yang mengaku pecinta alam itu memang benar-benar pecinta alam, tidak mungkin orang tersebut merokok, karena sudah tahu bagaimana dampak yang disebabkan akibat merokok, baik bagi diri sendiri, alam, dan orang lain tentunya.

Analoginya adalah begini, ketika anda mengaku pecinta alam, atau anda tergabung dalam organisasi pecinta alam. Berarti secara tidak langsung anda sudah mendukung yang namanya mencintai alam. Konsekuensinya adalah, anda juga harus menjaganya, dari apa? ya dari apapun yang menyebabkan rusaknya alam karena ulah manusia (kita, red). Namun kenyataannya adalah jauh dari apa yang dikatakan cinta alam, mereka merusak alam perlahan-lahan, baik dengan merokok, membuat api unggun sembarangan, berak sembarangan, dll. 

Semua Perokok Sebenarnya Ingin Berhenti Merokok

Mungkin secara langsung tulisan ini menyudutkan anda yang saat ini masih merokok. Percayalah, siapapun perokok pasti suatu saat ingin sekali berhenti dari aktifitas tidak sehatnya. Namun banyak alasan yang mengatakan berat, dan sebagainya. Namun semua itu adalah pilihan hidup. Hormatilah mereka yang tidak merokok disekitar anda dengan cara tidak merokok sembarangan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2