Jhon Miduk Sitorus
Jhon Miduk Sitorus Mahasiswa

Instagram @Jhonmiduk8

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Fintech, Disrupsi Layanan Keuangan dan Kolaborasi dengan Perbankan

10 Mei 2019   13:45 Diperbarui: 10 Mei 2019   16:05 186 4 2
Fintech, Disrupsi Layanan Keuangan dan Kolaborasi dengan Perbankan
Ilustrasi Financial Technology (Fintech)| Sumber: Kontan/Baihaki

Financial Technology atau sering disingkat "fintech" merupakan sebuah terobosan baru dalam dunia keuangan. Kemudahan yang ditawarkan membuat masyarakat tergiur sehingga arus keuangan, penyimpanan kas, dan uang non tunai perlahan-lahan beralih ke fintech. 

Cukup dengan menggunakan aplikasinya, download di playstore, isi data atau identitas, maka sudah bisa melakukan berbagai transaksi, termasuk yang paling dibutuhkan adalah transaksi pinjam uang dengan metode pembayaran angsuran dalam jangka waktu tertentu. 

Metode ini sangat memengaruhi kebiasaan masyarakat menjadi praktis dan efektif dalam melaksanakan berbagai transaksi. Perpaduan antara efektivitas dan teknologi memiliki dampak yang positif bagi masyarakat pada umumnya, apalagi menggunakan segala sesuatu yang berbasis "online" dan "aplikasi" dianggap sebagai sebuah tren yang musti harus diikuti agar tidak ketinggalan zaman. 

Fintech tak hanya memudahkan seseorang dalam bertransaksi jual beli barang atau jasa saja, tetapi juga sangat membantu untuk membuka rekening karena banyak fintech yang sudah menyediakan layanan yang terhubung dengan bank-bank besar di seluruh Indonesia secara online, sehingga calon nasabah tak perlu lagi membuka rekening ke kantor bank secara langsung. 

Ilustrasi financial techonology, bertransaksi keuangan dengan meminimalisasi peranan bank sumber : jaringanprima.co.id
Ilustrasi financial techonology, bertransaksi keuangan dengan meminimalisasi peranan bank sumber : jaringanprima.co.id

Fintech juga bisa digunakan untuk fasilitas kredit, kredit pemilikan rumah, kredit tanpa agunan dan lain sebagainya. Pun demikian dengan investasi, fintech menyediakan fasilitas mudah dan cepat untuk berinvestasi terhadap siapapun bahkan dengan uang yang nominalnya kecil saja, misalnya Rp 10.000,00 sudah bisa membuka reksadana di Bukadompet, fintechnya salah satu e-commerce terbesar di Indonesia, Bukalapak.

Manfaatnya sangat dirasakan oleh banyak orang, terutama untuk golongan ekonomi masyarakat berpendapatan rendah (bottom of the pyramid) karena kelompok ini pada umumnya menyasar segmen masyarakat yang belum terlayani akses keuangan (underserved). Menurut data OJK, khusus sisi pembiayaan dan peminjaman, pengguna fintech sudah tercatat 5,16 juta entitas. 

Mudah dan cepatnya nasabah dalam melakukan pinjaman terhadap fintech menjadi faktor penyebab utamanya. Lantas, sebagai model baru yang sama-sama melayani dalam bidang keuangan, apakah bank masih eksis dengan sistem konvensional yang terkesan "nyaman" untuk digunakan?

Disrupsi Transaksi Keuangan

Fintech membuat semua transaksi menjadi sangat mudah dan praktis sumber : brilio.net
Fintech membuat semua transaksi menjadi sangat mudah dan praktis sumber : brilio.net

Agresifnya perkembangan perusahaan teknologi keuangan (fintech) menciptakan disrupsi digital yang teramat cepat dan sangat jauh. Khusus di daerah perkotaan, manfaatnya sudah sangat terasa. Karena manusia lebih menyukai sesuatu hal yang berbau praktis dan "trendy", maka masyarakat lebih suka bertransaksi menggunakan aplikasi daripada menggesek kartu kredit atau mencari ATM. 

Contoh paling nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah Gopay dan OVO yang sudah menjadi tren sehari-hari masyarakat dalam berbelanja, apalagi masing-masing aplikasi fintech ini menawarkan diskon berupa "cashback" yang lumayan besar juga. 

Tentu hal ini sangat menggairahkan konsumen. Alasan lain yang menjadi faktor psikologis adalah, pengguna fintech bisa memilih sepuas dan sebebasnya sebelum melakukan transaksi di dalam aplikasi fintech tersebut. 

Sementara, untuk melakukan hal yang sama kepada lembaga bank baik berupa aplikasi bank terkait, ATM atau secara manual face to face dengan karyawan bank jelas memakan waktu, energi, dan secara umum membosankan. Ini berarti, konsumen lebih menyukai terhadap beragam pilihan yang ditawarkan secara pasif melalui aplikasi daripada membeberkan pilihan satu persatu secara langsung. 

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, saat ini sudah eranya fintech. Bahkan dalam waktu dekat, fintech akan merajai sektor keuangan sehingga diprediksi akan menggerogoti transaksi perbankan. Lama kelamaan, Bank dan lembaga keuangan sejenisnya bisa kalah bersaing dengan fintech, jika "Bank tidak mau beradaptasi mengikuti perubahan".

Keberadaan perbankan di Indonesia selama ini masih terbatas pada penghimpunan dan penyaluran pendanaan kepada masyarakat, pada saat yang sama belum semua kalangan bisa mendapat dan menerima layanan jasa keuangan yang diberikan perbankan. 

Terbatasnya akses layanan yang diberikan perbankan ini menjadi salah satu kelemahan, bahkan jika hanya untuk layanan pinjaman itu sendiri, perbankan masih belum bisa memberikan pinjaman dengan bunga yang lebih murah, serta aksesibilitas yang sangat sulit secara umum.

Ditengah terbatasnya akses layanan keuangan terhadap masyarakat, aktivitas pendanaan antar daerah juga masih menunjukkan kesenjangan yang sangat tinggi. Sebagai catatan, aktivitas pendanaan bank terkonsentrasi sekitar 60% hanya di pulau Jawa saja. 

Kondisi ini juga yang dimanfaatkan oleh fintech untuk mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru negeri terutama dengan terpenuhinya infrastruktur langit (akses terhadap internet) yang sudah memadai hingga ke pelosok negeri semakin memudahkan siapa saja untuk melakukan transaksi di aplikasi fintech. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2