Mohon tunggu...
Jhon Sitorus
Jhon Sitorus Mohon Tunggu... Ilmuwan - Pengamat Politik, Sepakbola, Kesehatan dan Ekonomi

Indonesia Maju

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Mengenal Kaum Sumbu Pendek dan Bumi Datar pada Pilgub DKI 2017

1 April 2017   19:30 Diperbarui: 13 Juli 2017   13:59 23517
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pilkada DKI 2017 melahirkan sejumlah fenomena menarik yang patut untuk disimak seperti animo masyarakat yang begitu tinggi, perang di sosial media, media cetak, elektronik, kampanye sana sini, penggiringan opini, hingga adanya perubahan hubungan silaturahmi karena berbeda pilihan.

Masyarakat kemudia terbagi-bagi berdasarkan pilihan masing-masing. Terkini, dalam putaran kedua Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 identik dengan kelompok baju kotak-kota dan kelompok baju putih. Kelompok baju kotak-kotak mempresentasikan pasangan nomor urut dua Basuki Thahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Syaeful Hidayat. Begitu juga dengan kelompok baju putih yang mempresentasikan pasangan jagoan mereka dengan nomor urut 3 mantan menteri pendidikan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Ada perbedaan menarik yang sangat mencolok diantara kedua pasangan calon ini sehingga semakin membuat kesenjangan diantara masing-masing pendukung hingga ke akar-akarnya. Pasangan nomor dua identik dengan pasangan yang mendahulukan nasionalisme, pluralisme, dan kerja nyata yang dibuktikan dengan kinerja masing-masing Ahok dan Djarot selama bekerja sebagai aparatur negara selama ini.

Pasangan nomor urut dua terkesan identik dengan sisi agamisnya meski sebelum pencalonan gubernur kedua pasangan ini jarang mewakili sisi islamis. Anies Baswedan yang sebelumnya terkenal dengan manusia yang pluralis terutama atas prestasinya dan sumbangsihnya dalam dunia pendidikan, kini terlihat begitu anti terhadap perbedaan selain kaummnya. Front Pembela Islam yang selama ini di-antikan oleh dirinya soal pluralisme tak ketinggalan dirangkulnya demi meraih suara umat Islam.

Perbedaan tersebut semakin menarik kala para pendukung semakin meneriakkan program-program unggulan para jagoannya masing-masing. Masing-masing calon gubernur memang menawarkan program unggulan yang bagus tetapi tidak bisa ditampik bahwa pasangan Anies-Sandi yang terkenal dengan program Oke-Oce nya terkesan menjiplak program nomor urut dua yang telah berjalan sukses selama ini. KJS dan KJP milik Ahok-Djarot tinggal diubah nama menjadi KJS plus dan KJP plus.

Kembali kepada para pendukung, yang menjadi nyawa dan nafas masing-masing calon saat bertarung dan memantaskan diri untuk duduk di kursi DKI 1 dan 2 tanggal 19 April  2017 nanti. Ada hal menarik yang menjadi fenomena baru seputar Pilkada DKI 2017 ini.

Muncul sebuah istilah baru yang lebih merujuk kepada pendukung pasangan calon nomor tiga yaitu kaum “bumi datar” atau “sumbu pendek”. Entah dari mana awalnya istilah dan “cap” ini berasal yang pasti popularitas mereka semakin terkenal meski sebenarnya istilah ini merupakan “discredit” kepada mereka-mereka yang dianggap tidak bisa menerima perbedaan, pluralisme, demokrasi yang sehat, dan menempatkan agama pada tempatnya.

Berdasarkan defenisinya, kaum “bumi datar” memiliki kesamaan arti dengan “sumbu pendek”. Jika selama ini orang “yang sudah pernah belajar Ilmu Pengetahuan Alam di SD” tahu bahwa bumi itu “bulat pepat”, tetapi mereka ini tidak mau tahu bahwa bumi itu bukan bulat, atau tidak ada unsur bulatnya. Mayoritas mereka mengatakan jika bumi itu “datar”.  Mereka menganggap hanya dari kaumnyalah yang cocok untuk pantas menjadi pemimpin di suatu daerah dan menganggap kaum yang lain sebagai orang yang tidak pantas menjadi pemimpin didaerahnya. Biasanya orang lain dianggap kafir, musyrik, serupa dengan binatang, tidak pantas menjadi manusia, dan selalu meneriakkan nama agamanya dan Tuhannya tidak pada tempatnya yang pantas sehingga.

Defenitif pemikiran kaum bumi datar terhadap sains dan ilmu pengetahuan selalu dialamatkan kepada “Hanya Allah yang Tahu”, padahal Tuhan bukan tidak menjelaskan segala sesuatu secara nalar dan logika melalui kitab yang diturunkan-Nya kepada umant-Nya sehingga panggilan “sumbu pendek” pun layak disematkan kepada mereka. Kaum bumi datar ini selalu menganggap pemikirannyalah yang paling baik, paling benar, dan sudah pasti di Iyakan oleh Tuhan meski dalam doa-doa yang “jelek” sekalipun seperti sumpah serapah, mendoakan yang tidak-tidak, dan selalu menebar kebencian kepada umat lain. Mereka selalu percaya bahwa Tuhan selalu mengabulkan doanya, mereka selalu berusaha mengambil simpati masyarakat atau orang awam agar mau memberikan sumbangan yang mengatasnamakan ke“sukarela”an.

Kaum “bumi datar” dan “sumbu pendek” merupakan kaum yang paling aktif dalam setiap demonstrasi. Dimana ada demonstrasi, disitu mereka ada. Belum ada penelitian yang pasti mengapa kehadiran mereka selalu ada, apakah karena mereka memang ahli dalam bidang “tuntut menuntut” kepada pemerintah? Atau apakah karena memang benar umat mereka atau sebagian “ulama” selalu di “zolimi” oleh pemerintah? Atau hanya harapan kepada sebungkus nasi bungkus gratis dilapangan?

Kaum yang aneh ini memang selalu terlihat ekstrem dimana-mana sehingga tidak heran jika banyak kaum anak-anak yang dibawah usia terjerumus kedalam pemikiran dan anekdot mereka. Tetapi pertanyaannya, benarkan agama yang diperjuangkan? Benarkan Tuhan Allah yang diperjuangkan sejuang-juangnya dengan cara yang sebaik-baiknya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun